Ketika Kurikulum Jadi “Uji Coba”

 261 total views,  2 views today

Oleh  Yusron Masduki, M.Pd.I

(Penulis adalah Akademisi Universitas Muhammadiyah Palembang)

Berbicara tentang pendidikan di Indonesia mungkin hal yang klasik, usang dan menjenuhkan. Sebab berbincang pendidikan di negeri ini, siapapun akan mengatakan ribet atau bahkan membosankan. Alih-alih diperdebatkan, semuanya selalu bermuara pada kebijakan sistem pendidikan kita yang tidak konsisten dan selalu berganti-ganti.

Kesan yang mengemuka, seolah sistem pendidikan kita menjadi ajang percobaan kurikulum dari satu penguasa (rezim) ke penguasa berikutnya. Hingga kini, pengajaran dengan pedoman ajar telah menggunakan beberapa kali pergantian kurikulum. Dari kurikulum 1974, 1984, 1994, dan 2004. Karena kurikulum yang terakhir ini juga masih mendapat kritikan dengan dianggap belum mencapai maksimal, pemerintah melakukan penyempurnaan kurikulum tersebut dengan mengembangkan kurikulum 2006 dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), sampai pada akhirnya penerapan kurikulm 2013.

Hamied (2001) menyatakan, dalam revisi kurikulum sangat banyak aspek yang perlu menjadi pertimbangan dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Diantaranya guru sebagai pelaksana kurikulum yang berada di garis depan menjadi hal penting.

Sementara, kegagalan kurikulum 1984 dan 1994 diduga kuat berada pada tataran praktiknya di lapangan (implementasi). Sebab ketika itu kebanyakan guru kurang memahami pesan-pesan kurikulum yang berlaku dan standar yang telah ditetapkan.  Hasilnya yang kecipratan sial adalah pendidik dan peserta didik.

Dalam analisa penulis, pergantian kurikulum dari tahun ke tahun, tak lebih sebatas proyek yang memakan biaya sampai triliunan rupiah. Tetapi apakah dengan biaya itu kemudian menghasilkan produk pendidikan yang lebih baik? Saya berani mengatakan belum sepenuhnya tujuan pendidikan kita tercapai.  Bahkan, dengan carut marutnya sistem dan kurikulum pendidikan kita, berimbas pada pendidik yang bingung, dalam menerapkan kurikulum yang selalu berganti. Belum lagi kewajiban bertambahnya jam pelajaran dari 26 jam menjadi 30 jam bagi anak Sekolah Dasar.

Dengan konsep yang tidak jelas dari awal tentang penataan sistem pendidikan kita, berakibat pada efek negatif yang timbul, terutama yang menimpa sejumlah generasi muda kita. Seperti anak  remaja-remaja usia sekolah cenderung hedonistic (tampil bermewah-mewah), seks bebas, arisan seks seperti yang terjadi di Jawa Timur, tawuran. Bahkan lebih menyedihkan lagi ada yang terpaksa kawin muda sebagai akibat dari pergaulan bebas. Ironis lagi, sampai ada sebagian remaja yang tega membunuh bayinya sendiri untuk menutupi aib. Na’uzubillah min dzalik!

Menurut hemat penulis, salah satu kelemahan sistem pendidikan nasional yang dikembangkan di tanah air adalah kurangnya perhatian pada capaian program (output). Standarisasi kurikulum, buku, alat, pelatihan guru, sarana dan fasilitas sekolah merupakan wujud kendali pemerintah terhadap input dan proses yang harus berlangsung di dalam sistem. Akan tetapi standar kompetensi apa yang harus dikuasai oleh seorang peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar, belum mendapat perhatian yang semestinya. Diharapkan diterapkannya kurikulum 2013 oleh pemerintah, akan menambah kualitas produk pendidikan kita. Di masa mendatang. Namun demikian kesungguhan dan keseriusan guru, lahir maupun batin dalam mendidik peserta didik menjadi hal penting yang tidak bisa diabaikan. Semoga! **

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster