Kekeliruan Memahami Revolusi Mental

 267 total views,  2 views today

 

Jokowi-JK tidak pernah menyatakan bahwa revolusi mental tidak memerlukan proses. Jika pembaca menjumpai fakta sebaliknya, mari kita ‘bikin rame’ untuk menentang gagasan mereka itu. Arif Rachman salah satu tokokh pendidikan menyimpulkan, konsep revolusi mental bertentangan dengan prinsip pendidikan. Arief menyatakan: “Mental kan tidak bisa direvolusikan, bagaimana kita bisa membuat seseorang dari mental A ke mental B, tanpa sesuatu proses, jadi proses itu sangat diperlukan,” ujarnya. Saat ditanya apakah metode revolusi mental ala Jokowi bisa diterapkan atau tidak, Arif menilai metodologi soal revolusi mental adalah salah. “Mungkin niatnya baik, tapi metodologisnya keliru, salah,” katanya.-Detik.com (1/7)

Pertama. Dalam hal ini Arif Rachman agak melenceng dalam mencermati gagasan mendasar dari revolusi mental yang diusung pasangan Jokowi-JK. Argumentasi AR menyesatkan karena ia menyerang hal-hal yang tidak menjadi bahasan pokok revolusi mental yang diungkapkan Jokowi-JK. Setidaknya, bukankah AR sebagai pendidik mengetahui bahwa pendidikan niscaya melibatkan proses pembelajaran yang tidak semata-mata di lingkungan akademis, namun juga lingkungan keluarga dan masyarakat? Kok, seolah-olah ia tidak tahu atau memang tidak tahu. Revolusi mental bukan trik sulap ala Prabowo yang KATANYA bisa bayar hutang negara dari kekayaan yang ‘bocor’- akhirnya diakui baru sebatas potential loss alias nggak ada duitnya.

Kedua. Metodologi tidak sama pengertiannya dengan metode. Seorang pendidik membutuhkan metodologi sebagai acuan sistematis untuk menentukan atau mengembangkan banyak metode pengajaran. Metode-metode pun dapat disesuaikan dengan wawasan filosofis pendidik. Metode pendidik yang berprinsip humanis berbeda dengan metode seorang otoriter. Amat mudah ditemukan perbedaan ketika membandingkan guru yang memahami metodologi student-centered dengan teacher-centered. Semasa AR sekolah, mayoritas guru-guru mengadopsi metodologi teacher-centered, maka keunikan dan potensi masing-masing anak didik tidak tersentuh.

Ketiga. Benarkah mental tidak dapat direvolusi? Apabila kita mempelajari perubahan struktur dan kehidupan sosial masyarakat Inggris dan Amerika Serikat, dapat diketahui bahwa mereka bisa seperti sekarang akibat revolusi industri antara abad ke-18 dan -19. Dampak positif mereka peroleh saat itu dan banyak pula dampak negatifnya karena pendidikan di masa itu belum diutamakan. Masing-masing orang berlomba-lomba mengisi pundi-pundi uang, sehingga timbul ketimpangan dan kesenjangan sosial si kaya dan miskin (Sisi buruk kapitalisme yang menjadi sasaran kritik sosialisme). Banyak literatur yang menggambarkan kehidupan sosial mereka, antara lain: “Maggie, A girl of The Streets”; ” The Blue Hotel”; dan “The Machine Stops.”

Perubahan mental orang, terlebih suatu bangsa dalam kurun waktu yang lama (evolusi) pasti terjadi dan lintas generasi, akan tetapi perubahan itu dapat dipicu oleh adanya pertumbuhan dan perkembangan yang cepat. Dalam apresiasi seni misalnya, kita bisa mengambil contoh pengaruh kebudayaan renaisans sejak abad pertengahan sampai sekarang. Sejarah dunia mengajarkan kita untuk bijaksana dan waspada menyikapi perubahan zaman. Jokowi-JK memahami hal ini, maka sumberdaya manusia yang paling diprioritaskan, bukan infrastruktur seperti ungkap Hatta.**

 

REDAKSI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster