Eddy Yusuf Salahkan Bawahannya

 357 total views,  2 views today

Mantan Wakil Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf nampak mengusap wajah saat mendengarkan putusan sela eksepsi yang dibacakan langsung hakim ketua, Ade Komaruddin SH MH di ruang pengadilan Tipikor Palembang, Rabu (2/4/2014).

Mantan Wakil Gubernur Sumsel, Eddy Yusuf nampak mengusap wajah saat mendengarkan putusan sela eksepsi yang dibacakan langsung hakim ketua, Ade Komaruddin SH MH di ruang pengadilan Tipikor Palembang, Beberapa Waktu Lalu | Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Mantan Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Selatan (Sumsel), Eddy Yusuf, menyalahkan bawahannya, sehingga ia terjerat dalam kasus tindak pidana korupsi dana bantuan sosial (Bansos)  Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) 2008.

Bawahannya yang dituding menjerumuskannya tersebut menurut Eddy, adalah Sugeng. Sugeng sendiri adalah bawahannya Eddy Yusuf, saat menjabat sebagai Bupati OKU. Tudingan ini disampaikan Eddy dalam pembelaannya yang disampaikan kuasa hukumnya, Husni Chandra, Rabu (2/7).

“Klien saya tidak pernah menggunakan dana Bansos OKU 2008 tersebut, dan tidak pernah mengetahuinya.  Mulai dari proposal hingga pencairan, Sugeng yang mengatur dan tanpa sepengetahuan klien saya. Untuk proses pencairan, dilakukan pejabat pengguna keuangan dan pengelolahan keuangan juga tanpa sepengetahuan terdakwa,” kata Husni dalam sidang lanjutan dugaan korupsi penggunaan dana Bansos OKU 2008 di Pengadilan Tipikor Palembang.

Sebab itu lanjut Husni, kliennya tidak pernah terlibat usaha untuk memperkaya diri sendiri. Terlebih dalam fakta persidangan, tidak ada perintah dari terdakwa untuk memerintahkan secara langsung kepada bawahannya melakukan korupsi dan memperkaya diri sendiri.

Hal lain yang menjadi bahan pembelaan Eddy, adalah perihal uang pengganti. Dikatakan Husni, mulai dari dakwaan hingga saksi, tidak ada kerugian negara. Namun, begitu sidang tuntutan tiba-tiba ada uang pengganti, yang wajib dibayar Eddy. “Ini versi kami dan inilah keberatan kami terhadap tuntutan jaksa. Ini bukan soal hukuman, namun kami menuntut keadilan yang hakiki wujudnya,” sebut Husni.

Sementara itu, dalam perkara yang sama dengan terdakwa Bupati OKU non aktif, Yulius Nawawi, persidangannya ditunda. Kuasa hukum Yulius, Bahrul Ilmi Yakub meminta majelis hakim menunda jalannya persidangan, karena berkas pembelaan yang belum siap.   “Ya, kita memang meminta sidang ditunda, karena kita belum siap membacakan pembelaan. Ada beberapa poin, yang belum siap untuk kita bacakan,” kata Bahrul.

Bahrul sebenarnya meminta sidang ditunda satu hari saja. Namun, majelis hakim Tipiklor Palembang, yang diketuai Ade Komarudin, menunda sidang hingga Senin (7/7) mendatang.

Sebagai informasi, pada sidang sebelumnya, kedua terdakwa dituntut berbeda oleh jaksa, Bimo Suprayoga. Yulius Nawawi dituntut penjara 3,5 tahun, denda Rp 50 juta, subsider penjara tiga bulan dan uang pengganti Rp 637 juta lebih subsider penjara 1,9 tahun. “Dari bukti dan saksi di persidangan, terdakwa terbukti melanggar pasal 3 UU No 31 tahun 1999,” kata Bimo.

Sementara Eddy Yusuf, dituntut penjara 1,5 tahun, denda Rp 50 juta, subsider penjara tiga bulan, dan membayar uang pengganti Rp 1,5 miliar, subsider delapan bulan penjara. “Dari keterangan saksi dan bukti di persidangan, terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal 3 UU No 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor,” terang Bimo.

 

TEKS              : OSCAR RYZAL

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster