Minat Siswa ke Madrasah Membludak

 226 total views,  2 views today

 

Ilustrasi.

Ilustrasi Siswa | Ist

MUARAENIM – Minat masyarakat Muaraenim untuk menyekolahkan anaknya di madrasyah, baik Madrasyah Ibtidaiyah (MI), Madrasyah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasyah Aliyah (MA), cukup tinggi. Sayangnya, ini tidak tertampung di madrasyah negeri yang ada di Muaraenim.

Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Madrasah (Mapenda) Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Muaraenim, Azhari Rahardi, mengakui itu. Menurutnya, minat siswa yang ingin masuk ke MIN MTs Negeri dan MAN di Muaraenim cukup membludak. Itu terlihat saat Pendaftaraan Siswa Baru (PSB).

“Jumlah pendaftar tidak sebanding dengan kuota siswa yang diterima, contohnya di MTs Negeri Muaraenim. Yang mendaftar ada 400 calon siswa, sementara kuota yang diterima hanya 125 siswa,” kata Azhari saat dibincangi di ruang kerjanya, Kamis (26/6).

Tingginya masyarakat ingin menyekolahkan anaknya di sekolah madrasah ini, disebabkan beberapa hal, misalnya kebutuhan pendidikan agama sejak dini kepada anak-anak mereka. sebagai bekal di masa mendatang dan  pembentukan akhlak yang baik siswa sejak dini.

Kondisi ini, jauh bila dibandingkan di masa lalu dimana sekolah madrasah kurang diminati siswa. Masyarakat sebutnya, saat ini lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah umum. “Membludaknya pendaftar ke madrasyah ini, juga dikarenakan kualitas pendidikan di madrasyah saat ini tidak kalah dengan sekolah umum, begitu juga dengan prestasi siswa di madrasyarah,” ucapnya.

Solusinya kedepan terang Azhari, perlu dibangun madrasyah terpadu. Madrasyah terpadu dimaksud, adalah keberadaan MIN hingga MAN yang berada di dalam satu kompleks. Tetapi sebut Azhari, untuk membangun madrasah terpadu ini, Kemenag terkendala lahan.

Untuk membangun madrasyah terpadu ini jelasnya, setidaknya butuh lahan seluas dua hektar.  “Madrasah terpadu ini kedepan bisa saja dibangun di Muaraenim, kalau memungkinkan lebih memfungsikan kawasan Islamic Center di Kepur. Sebab disana, sudah ada masjid dan fasilitas lain, tinggal pembangunan kelas dan bangunan lain. Tetapi masalahnya, kawasan Islamic Center milik Pemkab Muaraenim,” terang Azhari.

Tetapi lanjut dia, kalau Pemkab Muaraenim bisa menghibahkan lahan baik di Islamic Center maupun lokasi lain, bisa saja pembangunan madrasah terpadu ini dilakukan, secara bertahap di masa-masa mendatang.  Setidaknya, madrasah terpadu ini bisa mendukung visi Muaraenim yang agamis.

Ia menerangkan, saat ini di Kabupaten Muaraenim termasuk Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), hanya ada satu MAN, tiga MTs Negeri dan 11 unit MIN. Sementara MIN swasta ada 37 unit, MTs swasta ada 31 sekolah dan MA Swasta sebanyak 15 sekolah.

“Untuk sekolah terpadu ini yang menjadi kendala hanya lahan, untuk tenaga pengajar dan fasilitas mungkin bisa dilakukan secara bertahap. Sejauh ini di Sumsel memang belum ada sekolah madrasah terpadu,” urai Azhari.

Sementara itu, Kepala Kemenag Kabupaten Muaraenim, H Arkan Nurwahiddin, mengakui pembangunan madrasah terpadu, terkendala dengan lahan. “Jika ada lahan, paling tidak pembangunan madrasah terpadu ini bisa dilakukan bertahap, dengan sistem sekolah jauh. Misalnya, kuota madrasah yang berlebihan karena terkendala ruangan, siswanya belajar di Islamic Center. Jika sudah mencukupi kedepan bisa dibentuk madrasah baru, baik MIN, MTs maupun MAN,” kata Arkan.

Kalaupun belum bisa dibentukan madrasah terpadu, bisa dibangun MAN Insan Cendikia seperti yang ada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). “MAN cendikia ini, sistem belajarnya semi pondok pesantren, dimana siswanya juga di asramakan,” tukasnya.

 

TEKS            : SISWANTO

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster