Berpolitik untuk Ukhuwah Islamiyah

 224 total views,  2 views today

Foto-gagasan-01-Busroli-Heryuman

Oleh  Busroli

(Mahasiswa Jurusan BPI Fakultas Dakwah IAIN Raden Fatah)

Politik dalam literatur Islam di kenal dengan istilah “siyasah”, yang bermakna pengaturan masalah-masalah keummatan. Masalah ini bisa berkaitan dengan kejujuran dalam proses pemilu, penghargaan terhadap pihak yang berbeda, penggalangan partisipasi warga, kepedulian pimpinan politik terhadap berbagai masalah sosial, dan banyak lainnya. Landasannya tentu saja pada al-qur’an dan sunnah Rasul. Yang jelas,  Islam juga mengenal aspek-aspek tata pemerintahan, meraih kekuasaan, mempertahankan kekuasaan dan mengolah kekuasaan.

Pengalaman pada sejarah Rasulullah SAW, menunjukkan bahwa dalam mengelola sebuah kelompok masyarakat, diperlukan seni dan tata cara tersendiri. Walaupun tidak meninggalkan wasiat politik secara khusus, namun pada dasarnya Rasulullah sudah menunjukkan bahwa dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, tetap harus dipertimbangkan aspek keragaman, kebersamaan, dan kepedulian. Nilai-nilai berpolitik yang baik dan santun, sudah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, yang kemudian diteruskan kepada para sahabat. Bagaimana misalnya Rasulullah mengadopsi perbedaan dengan munculnya Piagam Madinah, adalah sebuah momen politik terpenting bahwa perbedaan itu wajar, namun bukan untuk memecah belah.

Islam bukanlah agama yang anti politik. Siyasah dalam Islam juga mengenal aspek-aspek kekuasaan, dan dinamika didalamnya. Hanya saja ada aturan main dan nilai-nilai yang harus diperhatikan dan dipatuhi bersama.

Ajaran Islam menegaskan sebuah janji dari Allah SWT, yang berkaitan dengan cita-cita politik. Janji ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, ataupun bisa juga dimaknai kepada semua umat agar senantiasa berpegang teguh pada ketentuan Allah SWT. Pertama, terwujudnya sebuah sistem politik yang baik dan sehat. Kedua, pemberlakuan hukum Islam dalam masyarakat secara mantap. Ketiga, terwujudnya ketentraman dalam kehidupan masyarakat pada semua aspek. Nilai-nilai politik yang konstitusional juga sudah ditegaskan dalam al-qur’an, yaitu musyawarah, keadilan, kebebasan, persamaan, kewajiban untuk taat pada aturan, serta penghargaan pada hak penguasa.

Sementara itu, melihat pada realitas berpolitik di Indonesia saat ini, banyak yang bisa kita katakan jauh dari nilai-nilai keislaman. Terutama dalam momen pilpres sekarang. Imbas dari persaingan Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, adalah maraknya caci maki, saling hina, bahkan fitnah. Sebagian umat juga tidak segan-segan menyebarluaskan informasi-informasi yang tidak jelas, yang cenderung hanya gosip belaka. Tentulah prilaku tersebut bukan hal yang diinginkan dalam ajaran Islam.

Kasus iklan RIP-nya Jokowi adalah salah satu bentuk penyebaran fitnah yang tidak jelas nilai kebenarannya. Begitu juga dengan kasus yang menyudutkan keluarga Prabowo, sampai pada tuduhan-tuduhan bahwa Prabowo punya kewarganegaraan ganda. Semua itu adalah informasi-informasi yang banyak ditemukan di berbagai media. Yang terjadi kemudian adalah antara masyarakat, sesama umat saling ejek, komentar negatif, dan mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya.

Sebenarnya, jika dicermati lebih jauh, perilaku negatif dalam menjalani tahun-tahun politik ini lebih banyak berkembang di kalangan masyarakat pendukung salah satu calon. Bagi aktor utamanya sendiri, justru terkadang bersikap santun dan tidak memperlihatkan gaya permusuhan sama sekali. Gejolak justru banyak terjadi di bawah. Terbukti, ketika debat kandidat tahap II pekan silam, Prabowo dengan ksatria memberikan dukungan pada program Jokowi. Bisa jadi ini adalah ungkapan bahwa bersaing itu tidak mesti bermusuhan. Namun sikap dewasa yang ditunjukkan Prabowo justru ditanggapi pendukung Jokowi sebagai tanda pengakuan, tanda kekalahan. Akibatnya, caci maki dan saling ejek kembali merebak.

Oleh karena itu, ada baiknya para politikus, masyarakat pendukung (yang dominan muslim), kembali mengingat bahwa ajaran Islam sendiri selalu menekankan prilaku yang santun. Bahkan Rasulullah SAW sendiri selalu menghormati para musuh-musuhnya, sejahat apapun prilaku yang ditujukan kepada dirinya. Berpolitik tidak mesti diikuti dengan sikap permusuhan, berpolitik harusnya tetap dalam kerangka ukhuwah islamiyah.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster