Usut Segera Pemotongan Dana BOS

 473 total views,  2 views today

bos

KAYUAGUNG – Kepolisian Resor (Polres) Ogan Komering Ilir (OKI) segera mengusut tuntas kasus dugaan adanya dana bantuan operasional sekolah (BOS) bagi siswa sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Kabupaten OKI yang disunat oknum di Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten OKI.

“Kita usut tuntas dugaan dana BOS  yang diduga disunat oknum pada Disdik tersebut,” kata Kapolres OKI AKBP Erwin Rahmat melalui Kasi Pidsus, Ipda Jailili SH, Senin (23/6).

Untuk itu, kata dia, pihaknya dalam waktu dekat segera memanggil pihak-pihak terkait dan akan meminta klarifikasi soal adanya dugaan dana BOS yang disunat tersebut.

“Ya segera kita panggil karena saat ini kita masih mempelajari kasusnya,” kata Jailili kepada wartawan.

Pihaknya juga akan memanggil sejumlah kepala sekolah untuk diperiksa sebagai saksi terkait dugaan dana BOS yang disunat tersebut.

“Setelah kita memeriksa oknum pada Disdik baru kita panggil sejumlah kepala sekolah untuk diperiksa sebagai saksi terkait kasus dana BOS itu,” terangnya.

Kata Jailili, jika nantinya terbukti adanya dugaan dana BOS yang disunat tersebut, bukan tidak mungkin oknum terkait pada instansi yang menaungi dana tersebut bisa menjadi tersangka.

“Makanya kita panggil dulu pihak terkait dan sejumlah kepala sekolah termasuk minta bantuan rekan-rekan media untuk membantu data dalam pemeriksaan tersebut, karena dugaan dana BOS yang disunat tersebut besar antara Rp10 juta hingga Rp20 juta,” bebernya.

Diberitakan sebelumnya, jika dana BOS untuk siswa tingkat SMP dan SMA diduga disunat oknum pada Disdik Kabupaten OKI. Modusnya, setiap kepala sekolah (Kepsek) menyetorkan uang antara Rp10 juta hingga Rp20 juta ke Disdik OKI dari total dana yang telah masuk ke rekening masing-masing sekolah.

Salah seorang Kepala Sekolah SMA di OKI, yang meminta namanya
tidak dituliskan mengatakan, pihaknya telah menyetorkan uang Rp15 juta dari dana BOS yang diterima sekolahnya kepada oknum di Dinas
Pendidikan OKI.

“Kalau dirata-rata, potongan per siswa Rp2 ribu. Itu berlaku untuk semua SMA di OKI, jadi setorannya bervariasi tergantung dari banyaknya siswa di sekolah tersebut,” kata sumber tersebut kepada wartawan.

Ia berkata, setiap sekolah terpaksa menyetorkan sejumlah uang
karena jika tidak, bukan tidak mungkin proses pencairan dana BOS periode berikutnya dihambat.

“Saya pribadi terpaksa menceritakan ini, karena sebenarnya sekolah kami cukup mengandalkan dana BOS untuk biasa operasional sekolah, sehingga ke depan kalau bisa tidak lagi menyetor ke Disdik,” tukasnya.

Menanggapi hal tersebut Kepala Dinas Pendidikan OKI, Iskandar ZA
melalui Kabid SMP/SM, M Sabit mengaku pihaknya tidak bertugas dalam menyalurkan dana BOS tersebut karena sudah ada orang yang ditunjuk sebagai Manajer BOS.

“Untuk dana BOS sudah ada manajernya Pak Dedi (Sekretaris Disdik OKI), setahu saya tidak ada pemotongan, karena langsung ditransfer ke rekening sekolah masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu Sekretaris Disdik OKI yang juga Manajer BOS SD/SMP,
Dedi Rusdianto ditemui di ruang kerjanya membantah adanya
pemotongan dana BOS tersebut.

“Kalau SD dan SMP memang saya manajernya, tapi saya berani bertanggung jawab kalau memang terjadi pemotongan, khususnya BOS SD dan SMP,” katanya.

Diuraikannya, dana BOS yang diterima siswa SD besarannya Rp580.000/tahun dan setiap sekolah menerima dana BOS tersebut bervariasi.

“Jadi sesuai juknis, sekolah yang jumlah siswanya kurang dari 80 orang maka tetap dihitung 80 orang dikalikan Rp 580.000, jadi jumlah minimal yang diterima sekolah pertahun Rp 46.400.000,” katanya.

Untuk sekolah yang jumlah siswanya lebih dari 80 orang, katanya
maka akan dikalikan dengan nominal Rp580.000/siswa.

“Jadi ada batas minimalnya yakni 80 siswa, kalau lebih maka tinggal kalikan dengan Rp580.000. Untuk SMP per siswa menerima Rp 710.000/tahun dan batas
minimalnya 120 siswa, kalau lebih maka tinggal dikalikan Rp 710.000,”
paparnya.

Ditanya mengenai siapa yang bertanggungjawab untuk mengkoordinir dana BOS SMA, Didi mengaku tidak mengetahuinya, namun yang jelas prosesnya sama yakni langsung ditransfer ke rekening masing-masing sekolah.

“Kalau saya hanya memegang BOS SD/SMP, kalau SMA mungkin kembali ke Bidang SMA/SM,” ucapnya.

Pihaknya juga mengaku tidak mengetahui adanya dugaan pemotongan tersebut, namun mengenai jumlah SMA di OKI, dirinya menyebut sebanyak 45 sekolah, sementara SMK berjumlah 20 sekolah.

 

TEKS   : DONI AFRIANSYAH

EDITOR  :RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster