Bergerak Dengan Hati

 902 total views,  4 views today

Mustaqiem-EskaOleh Mustaqiem Eska

 

Orang Jawa sering bilang , ‘Ngawiti songko ati’ artinya memulai dari hati. Sebuah pekerjaan apapun bentuknya hendaklah diawali dengan hati yang bersih. Pekerjaan yang sepele saja seperti menyapu, jika tidak dilakukan dengan hati tentu tidak akan bersih, begitu juga dengan mencuci piring, apalagi bekerja dalam rutinitas kantor yang kerap kali membosankan. Dan bentuk apapun pekerjaan jika tidak diawali dengan gerakan hati yang benar tentu hasilnya akan tidak baik. Kerja menjadi tidak maksimal dan cenderung berantakan.

Sakti, bocah kelas 5 SD yang masih punya hobi dolanan selepas sekolah, suatu sore saat ia tengah asyik bermain kasti bersama temannya, dipanggil oleh ibunya untuk mencuci piring makan yang kotor di dapur. Dengan setengah hati, ia lakukan tugas dari ibunya, mungkin karena masih ada takdzimnya. Tetapi tiba-tiba baru beberapa menit sudah ada satu piring yang pecah terjatuh. Hal ini karena separo dari hatinya masih tersisa di permainan bersama kawan-kawannya.

Demikian menata hati ternyata tidak mudah. Orang sekantor dan satu team, sementara hatinya tidak searah baik dengan pekerjaan itu sendiri maupun dengan rekan kerjanya seringkali juga membawa dampak hasil kerja yang tidak maksimal. Pertentangan jiwa yang diisimpan dalam hati melahirkan konsentrasi sebuah target usaha menjadi pecah dan tidak fokus. fatalnya, biasanya kerja pun akan dilakukan separo-separo dan asal-asalan.

Hati sebenarnya adalah energi yang kuat untuk menentukan tingkat keberhasilan sebuah kinerja. Hati bahkan pemimpin bagi gerak dan tingkah laku seseorang. Di dunia ini, manusia selalu membawa tiga hal; jasad, ruh dan hati. Tubuh, hati tanpa ruh itu adalah bangkai. Ruh, tanpa jasad dan hati adalah tak berupa, sedangkan tubuh dan ruh jika tanpa hati adalah ‘manusia batu’- keras dan tak berjiwa.

Kerapkali sebuah ungkapan yag terdengar ketika kita melihat bagaimana ada orang yang tidak berperikemanusiaan, menyiksa anak kecil yang belum sempurna akalnya, merampok, dan membunuh, atau kerap kita dengar kisah bagaimana seorang majikan yang menyiksa pembantunya hanya berangkat dari persoalan sepele hinggga babak belur bahkan sampai meninggal, semua itu disebut sebagai ‘orang yang tidak punya hati’.

Orang yang tidak punya hati nyaris serupa dengan hewan dalam tingkah lakunya. Kecenderungan dasarnya selalu hanya sebatas sex dan makan. Tidak ada aturan hukum yang berlaku. Anti norma dan barbar.

Dari jaman dahulu sampai sekarang, pesan yang disampaikan kebanyakan orangtua kepada anak-anak ketika hendak berpergian adalah, “hati-hati di jalan”, katanya. Kenapa harus menggunakan diksi ‘hati-hati’, bukan ‘jantung-jantung’, ‘otak-otak’, ‘kaki-kaki’ atau lain-lainnya? Ini menandakan bahwa hati adalah unsur organ tubuh yang sangat vital bernilai dibanding dengan organ tubuh lainnya.

Pantas, dalam Islam di sebut, bahwa di dalam tubuh kita ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka baiklah keseluruhannya, dan sebaliknya jika segumpal daging itu rusak, maka rusaklah semuanya. Dan segumpal daging itu tidak lain adalah hati. Pada sebuah tindakan, bisa diukur baik buruknya hasil akhirnya pun selalu berhubungan dengan niat. Niat yang baik ketika memulai kinerja akan melahirkan karya sesuai dengan niat awalnya, begitu juga sebaliknya, jadi dimana letak niat? Niat adalah di dalam hati. Hati begitu tersembunyi tersimpan di dalam, tapi mengandung sumber energi yang mampu memompa semangat atau justru malah kemalasan.

Orang yang baik adalah mereka yang niat dan pengharapannya hanya didasarkan kepada tujuan Allah SWT semata. Pada badan ada suatu penyakit yaitu nafsu. Tak bisa dipungkiri bahwa orang bekerja apa saja itu adalah karena punya pengharapan. Berpengharapan yang baik adalah kalau dalam hati dan keyakinan kita hanya tertanam keyakinan sempurna bahwa semua yang ada pada diri adalah punya Allah semua.

Nafsu sebagai penyakit dari badan layaknya syahwat jasmani selalu membawa kecenderungan kepada kesenangna terhadap makanan yang enak, senang terhadap minuman yang enak, senang pakaian dan kendaraan, rumah, isteri, dan semacamnya. Begitu juga terhadap aib yang berada di dalam hati. Ia tidak terlihat karena sering dipolitisir. Semisal, keinginan menjadi mulia, yang benar itu apakah kita ingin mulia atau tidak ingin dihargai oleh orang. Yaitu ingin jadi pemimpin timbul penyakit takabur, ingin dihargai, akhirnya ini menjadi penyakit. Oleh karenanya supaya tidak menjadi penyakit, maka ditolak. Hati, jika semakin dekat kepada Allah maka idealnya menjadi takut.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster