Pemimpin adalah “Nabi” Bagi Rakyat

 272 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

Catatan aksioma Lord Acton menegaskan, kekuasaan cenderung disalahgunakan. Kekuasaan yang mutlak pasti disalahgunakan (power tend to corrupt, absolute power corrupt absolutely). Kita juga mencatat, adanya kecenderungan manusia untuk, sebagaimana disinyalir Machiavelli, menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan. Kini, rakyat menanti pemimpin yang bermoral.

Tak dapat dipungkiri, saat ini rakyat saat sedang menanti sosok pemimpin yang memiliki intergritas moral. Sebab sejumlah masalah yang kian menghimpit tak kunjug selesai. Baik dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi, pengangguran, kesehatan, pendidikan atau masalah lain yang lebih pelik, kian mendera rakyat. Begitulah kesimpulan dari sejumlah obrolan Kabar Sumatera dengan beberapa sumber di berbagai lokasi, baik di pangkalan ojek, pedagang sayur, akademisi dan beberapa pengamat.

Mendengar perbincangan mereka, seolah tak ada harapan untuk menata bangsa ini menjadi lebih baik. Tetapi sejumlah pihak tetap menanti secercah harapan perubahan akan tetap datang. Sekalipun, menantikan pemimpin bermoral tetap membutuhkan proses yang tidak sebentar. Kerinduan rakyat terhadap pemimpin bermoral, bukan hayalan, selama rakyat sebagai bagian dari kekuatan yang membangun demokrasi juga ikut serta di dalamnya. Tanpa kekuatan rakyat, proses demokrasi yang melahirkan pemimpin bermoral hanya akan menjadi hal yang utopis (hayalan).

Dalam putaran sejarah politik, sosok pemimpin yang bermoral hanya akan lahir dalam kondisi sistem yang labil. Hal itu disampaikan salah satu aktifis Palembang Dhaby K Gumayra dalam sebuah kesempatan. Menurut mantan aktifis Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Palembang ini, selama negara atau sistem pemerintahan ini masih dikuasai dan menerapkan sistem yang berjalan seperti sekarang, akan sulit melahirkan pemimpin yang bermoral. Sebab, menurut dosen Universitas IBA Palembang ini, kalau melihat sejarah perjalanan pergantian pimpinan politik di negeri ini, sosok pemimpin yang lahir dari dorongan rakyat selalu lahir dalam kondisi sistem yang sedang labil. Dhaby mencontohkan munculnya Gus Dur sebagai presiden ketika itu.

Terhadap kerinduan rakyat terhadap sosok pemimpin bermoral, jika kita merujuk pada sosok Nabi Muhamamd SAW, yang harus dimiliki sosok pemimpin rakyat yang ideal adalah melandasi diri dengan akhlaqul karimah (perilaku yang baik). Istilah akhlaq lebih tepat dari pada moral. Sebab, dari defisini, moral merupakan produk dari duniawi. Sementara akhlak, secara esensial dimaknakan kebaikan fisik dan non fisik. Logikanya, orang bermoral secara fisik, belum tentu berakhlaq. Tetapi jika orang berakhlaq, hatinya juga bermoral.

Tetapi bila kemudian moralitas dihubungkan dengan keharusan para pemimpin memegang nilai-nilai keagamaan, tidak bisa hanya dalam satu perspektif. Misalnya Islam. Substansi norma etis agama tertentu, tetap saja harus dipertemukan dengan norma etis agama lain. Di titik temu antar norma itulah, norma yang lebih universal dapat dimunculkan. Norma universal itulah, yang bisa diterapkan sebagai norma hukum publik. Di momen itu, hukum bersendikan moral, dan moral bertenagakan hukum. Itu moment yang sangat didambakan rakyat di negeri ini.

Sebagaimana dimaklumi, hukum tanpa moral sering ganas tanpa perasaan. Dan kita di Sumatera Selatan (Sumsel) atau di Indonesia pada umumnya sedang kini menunggu keberanian sikap para calon petinggi negara yang siap menjadi pemimpin bermoral, jujur, tegas dan berani menjadi “nabi” bagi rakyatnya. **

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster