Nilai Religi Tradisi Ruwahan

 739 total views,  2 views today

Foto-gagasan-02--Kholyd-Muzaky---Aktifis-Masjid-Jamik-Bukit-Asam-Tanjung-Enim

Oleh Kholyd Muzaky

( Aktifis Masjid Jamik Bukit Asam Tanjung Enim )

Bulan Syakban (Sya’ban) atau Ruwah baru saja tiba, dan masyarakat muslim di Kabupaten Kudus, sebagaimana di kota lain, mulai mempersiapkan diri, baik jasmani maupun rohani, fisik maupun spiritual, guna menyambut kedatangan bulan Ramadan. Terkait hal itu, sering kali masyarakat di sejumlah daerah melaksanakan tradisi sosial keagamaan, antara lain Ruwahan.

Pelaksanaan tradisi itu adakalanya dikelola lembaga masyarakat, dengan tujuan mendoakan arwah anggota keluarga yang telah meninggal. Tradisi itu berasal dari Ruwah, bulan urutan ke-8, berbarengan dengan Syakban tahun Hijriah. Kata ruwah memiliki akar kata arwah atau roh. Dari arti kata itulah, sebagian masyarakat Jawa menjadikan Ruwah sebagai bulan untuk mengenang leluhur.

Ada pula yang memersepsikan pada bulan Syakban turun ketentuan dari Allah Swt mengenai terpisahnya roh dengan jasad. Di beberaoa kota di Indonesia, Ruwahan biasanya diadakan 10 hari sebelum bulan Puasa namun kadang lebih awal karena tidak sedikit yang menyelenggarakan tradisi tersebut. Pelaksanaan yang digelar lebih awal itu untuk menghindari perbenturan waktu.

Pada tradisi tersebut sejumlah ritus digelar menurut tradisi dan adat di tiap pedukuhan, yang mungkin saja sedikit berbeda. Secara umum acara diawali kenduri, doa bersama, besrik (membersihkan) makam, dan diakhiri nyadran (tradisi di Jawa). Pada pertengahan Syakban warga membuat makanan khusus, yaitu kolak pisang, apem, dan ketan, untuk dibagikan ke tetangga sampai 40 rumah.

Ada makna tersirat, yang intinya si penerima pasti ikut mendoakan seperti dihajatkan oleh si pemberi sedekah. Jenis makanannya pun disiratkan dari asal katanya. Kolak diyakini berasal dari kata kholaqo, yang artinya menciptakan, kemudian ditafsirkan menjadi Khaliq, Sang Maha Pencipta.

Suratan Takdir

Artinya tiap Syakban atau Ruwah, kita perlu lebih banyak mengingat Sang Maha Pencipta karena pada bulan itu Dia menurunkan kodrat dan iradat-Nya tentang takdir setahun mendatang, termasuk daftar nama manusia yang meninggal setelah tanggal 15 Syakban sampai 14 Syakban tahun depan.

Harapannya, takdir setahun mendatang yang didapatkan adalah hal-hal yang positif. Adapun asal kata apem dari afuan artinya ampunan atau pemberian maaf. Maksudnya, kita diingatkan menjelang Ramadan harus lebih banyak memohon ampun kepada Allah Swt dengan banyak membaca istighfar. Ketan asal kata khoto’an yang berarti suci, bersih. Setelah ingat Sang Khaliq, kemudian minta ampunan maka kita kembali menjadi suci dan siap berpuasa dalam bulan Ramadan.

Kalau kita melihat di sejumlah kota di Jawa, Ruwahan memiliki rangkaian acara yang hampir sama dengan kenduri arwah atau tahlilan, yaitu dibuka dengan bacaan Surah Yasin, dilanjutkan kalimah thayibah atau tahlil, diakhiri doa untuk leluhur. Dan kemudian, ini juga merambah ke wilayah Sumatera Selatan.

Sebelumnya, ada tokoh masyarakat menceritakan riwayat para leluhur dusun, para wali dan aulia, serta malaikat. Doa didahului shalawat kepada Nabi Muhammad. Selesai berdoa, tumpeng (ambeng) beserta uba rampe- nya dibagikan kepada hadirin, dikiaskan berkah untuk dimakan seluruh anggota keluarga.

Dari urutannya, kita melihat tradisi tersebut sebagai bukti birrul walidain (taat kepada orang tua) salah satu bentuk amal jariyah, juga untuk menjalin ukhuwah antarwarga. Tujuan terakhir inilah yang membedakan antara Ruwahan dan kenduri atau tahlilan biasa. Tradisi Ruwahan atau (Nyadranan di sejumlah kota di Jawa) membuktikan adanya kearifan lokal leluhur kita. Nilai-nilai kebaikan yang dibawa agama-agama dunia ke Indonesia tidak menenggelamkan sama sekali penghayatan budaya kita.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster