Belajar Dari Thailand Mempertahankan Pasar Tradisionalnya

 883 total views,  2 views today

ilustrasi Pasar

ilustrasi Pasar

TAK ada salahnya belajar dari Negara Thailand. Negara gajah tersebut berhasil memberlakukan  Undang-undang ritel Thailand sehingga menciptakan persaingan yang sehat antara para pedagang tradisional dengan para pengusaha ritel modern. Keduanya bisa hidup berdampingan secara harmonis dan saling menguntungkan.

Perlindungan dan pemberdayaan usaha kecil ritel. Inilah pendekatan yang digunakan Royal Decree for Retail Act, undang-undang ritel yang diterapkan oleh pemerintah Thailand untuk keluar dari dilema persaingan antara pasar-pasar tradisional dengan ritel-ritel modernnya. Undang-undang ini berisi aturan zona, jam buka, harga barang, dan jenis ritel.

Terkait dengan aturan zona misalnya, UU ritel Thailand dengan tegas menentukan zona-zona tertentu untuk masing-masing jenis format ritel yang ada. Yakni, ada zona-zona khusus untuk hipermarket dan zona-zona tertentu untuk warung tradisional, grosir dan supermarket. Selain itu, aturan zona juga melarang pusat perbelanjaan modern atau toko berskala besar berdiri di daerah-daerah padat arus lalu lintas.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, pemerintah Thailand juga menerapkan model pemberdayaan usaha kecil ritel. Ada satu perusahaan sejenis BUMN non profit yang didirikan oleh pemerintah untuk menggawangi program ini, yaitu Allied Retail Trade Co.(ART Co). Perusahaan ini diberi modal kerja sebesar US$9,1 juta untuk melakukan pembelian barang dari pabrikan dan kemudian menyalurkannya ke jaringan toko-toko kecil dan warung tradisional lainnya.
Melihat keseriusan pemerintahnya, sejumlah bank di Thailand pun tak tinggal diam. Selama beberapa tahun terakhir mereka dikabarkan selalu memberi kemudahan kredit bagi toko tradisional yang berinisiasi memodernisasi tokonya.
Bangkok, sebagai ibu kota negara, sudah menerapkan aturan dan kebijakan itu. Beberapa zona khusus untuk perdagangan eceran dan perdagangan ritel kecil maupun besar sudah tampak berjalan sesuai peruntukkannya. Kemudian, pasar-pasar tradisional dan sejumlah ritel kecil pun tampak bergeliat dinamis. Padahal, sebelum undang-undang itu diberlakukan, ada 20 pasar tradisional yang ada di Bangkok sempat mati tergilas oleh membanjirnya pasar dan ritel modern.
Namun, akhirnya Thailand ternyata bisa membuat mereka bersaing secara sehat. Antar ritel besar dan kecil sama-sama memiliki pangsa pasar. Bahkan, para pedagang tradisional pun merasa tidak tersaingi dengan pasar modern dan terancam oleh retail-retail besar dan minimarket-minimarket yang menjamur. Bayangkan saja, saat ini di Thailand sudah ada 6000 gerai Seven Eleven, 600 toko Family Mart, ratusan toko lain milik Lotus dan Tesco.

Pasar Sehat Ala Thailand 

Yang menakjubkan, penerapan Royal Decree for Retail Act pun dinilai sejumlah kalangan telah berhasil membuat pasar tradisional dan pasar modern di Thailand sama-sama hidup dan bersaing dengan harmonis. Keduanya sama-sama ramai dan memiliki konsumen fanatik.

Tentu saja, keberhasilan itu bukan semata-mata karena pengaturan zona. Fakta di lapangan menunjukkan adanya pengelolaan yang profesional dan modern di pasar-pasar tradisonal Thailand. Struktur bangunan, kebersihan, kenyamanan, keamanan, dan pelayanan yang prima sudah menjadi pemandangan umum di pasar-pasar tradisional Thailand, khususnya di Kota Bangkok.
Soal kebersihan pasar tradisional, Thailand pun memiliki program pasar sehat yang dipelopori oleh Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand bekerjasama dengan swasta sejak tahun 2002. Salah satu agenda dari program ini adalah memberi kewenangan kepada pihak swasta dalam hal ini badan pengembangan kota metropolitan Bangkok membangun secara bertahap ribuan pasar tradisional menjadi pasar yang sehat. Tujuannya, tak lain adalah meningkatkan kualitas pasar sesuai dengan undang-undang kesehatan.

Walhasil, sejak diluncurkan pada tahun 2002 lalu, berdasarkan standar dari Departemen Kesehatan Thailand, pada tahun 2004 lalu sudah 75% atau 1138 dari 1505 pasar di kota Bangkok memenuhi syarat sebagai pasar sehat, yaitu memiliki lingkungan sehat, makanan yang aman dan memenuhi perlindungan terhadap konsumen.

Salah satu pasar sehat yang cukup berhasil di Thailand adalah Pasar Rangsit. Di pasar ini, setiap pedagang wajib membayar iuran sebesar 50 bath (sekitar 5000 rupiah) sehari dan akan mendapatkan fasilitas berupa air bersih, pemeriksaan makanan di laboratorium mini, pencegahan kecelakaan dan kebakaran.

Pemberdayaan UKM di Pasar Tradisional 

Satu faktor lagi yang membuat Thailand sukses mempertahankan pasar tradisionalnya adalah menjadikan produk-produk UKM sebagai komoditas unggulannya. Hal ini bisa dilihat dengan nyata di pasar Chatuchack, sebuah pasar tradisional Thailand yang selalu menjadi tujuan favorit wisatawan mancanegara ini.

Di pasar yang konon juga disebut-sebut sebagai pasar tradisional terbesar di dunia ini, banyak produk-produk bernuansa etnik tradisional dijajakan dan diburu banyak wisatawan asing.  Kabarnya, dalam sehari ada 200.000 turis berkunjung ke pasar tradisional yang menempati areal sangat luas ini, yaitu 11 hektar dengan lebih dari 15.000 toko.

Bahkan, selain ratusan jenis Usaha Kecil Menengah (UKM) bisa hidup di pasar yang sangat luas ini, ada pula kios-kios penjaja jasa pijat refleksi kaki bagi para pengunjung yang sudah letih berkeliling di areal pasar.

Demikianlah. Maka tak mengherankan bila sejumlah pasar tradisional di Thailand bisa bersaing pula secara sehat dengan pasar modern. Sebut saja misalnya, pasar tradisional Otoko dan Chaktuchak. Kedua pasar ini tetap eksis dan ramai meski letaknya sangat dekat dengan pasar modern JJ Mall, hanya dibatasi jalan yang lebarnya sekitar tujuh meter.
Padahal, secara umum pasar-pasar tradisional di Thailand tak jauh bebeda dengan pasar tradisional di tanah air. Komoditas utama yang dijual adalah kebutuhan sehari-hari; dari mulai bahan makanan, sayur-sayuran, buah-buahan, lauk pauk sampai perkakas rumah tangga. Tawar menawar harga juga menjadi fenomena khasnya, meski kualitas berbagai komoditasnya sudah sangat terjamin.
Itulah cara Thailand melestarikan keberadaan pasar-pasar tradisionalnya. Karenanya, selain mampu bersaing dengan ritel-ritel modern, pasar-pasar tradisional di Thailand pun banyak yang menjadi favorit para wisatawan asing yang mengunjunginya. Lantas, bagaimanakah dengan pasar-pasar tradisional kita? Pasar Sehat Versi Departemen Kesehatan Thailand Manajemen lingkungan sehat.

 

Hal itu dengan mengelola sampah dikelompokkan menjadi 2 jenis; basah dan kering. Keduanya diangkut secara terpisah dan didaur ulang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Kemudian pengangkutan dilakukan minimal 2 kali dalam sehari, sehingga tidak ada sampah yang menumpuk di pasar.
Sedangkan untuk air limbah pasar, pembuangan dilakukan setelah air diproses melalui teknologi daur ulang yang bisa menjadikan cairan air kotor dapat digunakan untuk desinfektan. Proses ini dilakukan 2 minggu sekali.

Di sisi lain sanitasi makanan dan keamanan makanan melalui . penggunaan peralatan yang harus selalu dalam keadaan bersih.
Kemudian para pedagang makanan siap saji dilengkapi dengan peralatan dapur standar yang tahan karat. Sedangkan untuk menghindari kontaminasi makanan dengan bakteri pembusuk, setiap pedagang makanan juga dilengkapi dengan air bersih untuk mencuci dan memasak.

Untuk Perlindungan Konsumen maka  penjagaan kualitas makanan, pasar dilengkapi dengan fasilitas laboratorium mini. Fungsinya: memeriksa secara rutin (satu bulan sekali) setiap makanan siap saji dan makanan tradisional yang dijual. Yakni, apakah makanan tersebut mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan seperti pewarna dan pengawet makanan.

 

TEKS: ALAM TRIE PUTRA

EDITOR: SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster