Guru Tak Dukung Teater, Sama Dengan Menolak Pancasila

 368 total views,  2 views today

 

Suasana Dialog dan Apresiasi Teater di Cafe Roti Bakar Narsis Palembang, Rabu (18/6) FOTO : Bagus Kurniawan

Suasana Dialog dan Apresiasi Teater di Cafe Roti Bakar Narsis Palembang, Rabu (18/6) | Foto  : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Bila ada guru, atau tenaga didik yang tidak mendukung kegiatan teater di sekolah, hal itu sama saja mereka menolak nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pesan moral tentang  kemanusiaan, tercantum dalam sila kedua dari Pancasila. “Itu  sam asaj amenolak Pancasila. Teater jangan hanya dipahami sebatas panggung, naskah drama, tetapi teater itu adalah kehidupan. Di dalam teater sangat banyak pesan nilai-nilai kemanusiaan yang nantinya akan membentuk karakter anak bangsa,” ujar DR Tarech Rasyid. M.Si. pengamat sosial politik dan budaya di Sumatera Selatan (Sumsel), saat menjadi pembicara pada “Dialog dan Apresiasi Teater”  kerjasama Teater Gembok dan Harian Umum Kabar Sumatera (KS), di Cafe Roti Bakar Narsis,Palembang, Rabu (18/6).

Pernyataan Tarech Rasyid ini sehubungan dengan keluhan sejumlah siswa SMA dan SMP di Sumsel, yang mengatakan, selama ini ada sebagian guru bahkan kepala sekolah yang melarang kegiatan teater di sekolahnya. “Seperti undangan dialog ini, kami tahu dari kawan-kawan. Padahal ada undangan ke sekolah kami. Tapi disembunyikan oleh pihak sekolah. Kadang-kadang kepala sekolah sendiri yang melarang kami ikut kegiatan teater,” ujar slaah satu peserta diskusi dari SMA di Palembang dan OKU, dalam sesi saat tanya jawab.

Hal lain yang juga terungkap, disebutkan oleh sejumlah siswa, di satu sisi sekolah menuntut adanya kreatifitas non akademik, namun sebaliknya ketika ada sebagian siswa yang aktif di teater selalu ada masalah dengan birokrasi sekolah. “Kadang, sudah ada izin. Tapi saat kepala sekolahnya ganti, nanti kebijakan berubah lagi, jadi kami ini bingung, Pak,” ujar siswa yang lain.

Menanggapi hal itu, Tarech menilai hal itu terjadi karena tidak sedikit guru yang tidak memahami nilai-nilai kebudayaan. Teater, menurut doktor dari Universitas Padjajaran Bandung ini, merupakan bagian kecil dari kebudayaan yang didalamnya mengajarkan proses penyadaran, lahir dan batin, termasuk nilai-nilai kemanusiaan.

Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas IBA Palembang ini, banyaknya guru tidak paham tentang teater atau nilai-nilai seni secara subtansial, yang kemudian menimbulkan sikap mereka melarang upaya siswa dalam melakukan kreatifitas, termasuk dalam berteater.

“Kalau kita tinjau dari HAM, ketika siswa dilarang melakukan kegiatan seni, guru kalian sudah melanggar hak sosial budaya. Dalam salah satu point pasalnya disebutkan, negara wajib mengembangkan hak sosial dan budaya. Kalau guru kalian melarang kalian aktif di teater, itu sama saja guru kalian menolak pengembangan peradaban di negeri ini. Seni itu juga berbicara tentang kearifan, filsafat kehidupan. Bagaimana kita menyikapi hidup ini dengan bijak, itu diajarkan dalam seni, termasuk seni teater. Kita lihat berapa banyak tokoh-tokoh bangsa ini juga mengenal seni, sastra, musik dan lainnya. Kalau pejabat kita sekarang banyak yang korup, karena mereka tidak belajar seni, maksud saya nilai-nilai seni yang mengajarkan tentang kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Imron Supriyadi, Pemimpin Redaksi Harian Umum Kabar Sumatera, yang juga salah satu pelaku teater dan sastra di Sumsel mengatakan, selama ini teater hanya dipahami dalam konteks panggung dan main drama. Padahal menurut Imron yang mulai belajar teater di kampus sejak 1995 ini, pesan moral teater dalam pengembangan kreatifitas sangat bermanfaat. “Hanya saja, memang tidak semua guru paham dengan makna teater, sehingga teman-teman siswa, terhalanag oleh sikap guru yang tidak mengerti dengan upaya pengembangan kreatifitas ini,” ujarnya.

Namun demikian, Imron menegaskan, selama kegiatan itu dilakukan atas dasar niat baik, seperti untuk mengangkat nama sekolah dan tim teater tuse sendiri, semua dapat dikompromikan dengan guru di masing-masing sekolah. “Tidak perlu marah-marah. Ajak guru berbicara dari hati-ke hati. Pesan Pak tarech itu sampaikan saja pada guru kalian; Pak kalau sekolah tidak mendukung kegiatan teater, berarti bapak dan sekolah tidak mendukkung gerakan kemanusiaan, padahal itu ada dalam pancasila sila kedua. Masak kita menolak Pancasila, Pak. Kan tidak boleh, Pak. Nah begitu saja,” ujarnya setengah memprovokasi.

Dalam kesempatan yang sama, Yondi Auodyto, Pimpinan Teater Gembok dalam sambutannya mengajak siswa di SMP dan MSA di Palembang atau di Sumsel, agar tetap konsisten dalam berkarya. “Untuk melakukan kreatifitas seni jangan terjebak dengan uang. Yang kita lakukan ini benar-benar dari nol rupiah, tapi bisa terselenggara seperti sekarang. Alhamdulillah acara kita berjalan dengan baik,” ujar Yondi di tengah 50-an siswa yang hadir pada saat itu. Acara kemudian ditutup dengan pementasan Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang yang membawakan musikalisasi puisi.**

 

TEKS      : AHMAD MAULANA

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster