Dalam Hal Penyaluran Kredit, Sektor Riil Harus Diimbangi Perbankan

 228 total views,  2 views today

 

Ilst. Kredit

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Peringkat investment grade yang diperoleh Indonesia membawa dampak positif bagi penurunan biaya operasional dan dana di Kota Palembang. Jika momentum telah digenggam, bank-bank tentunya bersiap menyiapkan modal.

“Inilah kesempatan untuk Perwakilan BI Wilayah 7 Palembang dalam menyampaikan kondisi nyata secara regional. Kita bersyukur daya kinerja perbankan di 2013 lalu lumayan memuaskan,” kata R Mirmansyah Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Palembang.

Dengan kondisi seperti itu, bank-bank dapat memanfaatkan segala momentum untuk mendongkrak kinerja. Ini juga membentengi perbankan khususnya di Sumsel dari beraneka jenis risiko, baik risiko kredit, risiko operasional, risiko pasar, dan liquiditas.

“Bila kita perhatikan justru peluang ekspansi kredit makin deras karena adanya peluang penggalian dana murah. Makanya, bank-bank pun harus jeli melihatnya,” kata Mirmansyah.

Agaknya Mirmansyah sepakat bahwa geliat sektor riil di provinsi ini harus diimbangi dengan hasrat kuat perbankan dalam menyalurkan kredit ke nasabahnya. Dengan back up permodalan yang cukup. Jika tidak, bank-bank asing dengan dukungan modal yang kuat akan mengmbil peran strategis itu.

Di balik itu, perbankan baik kecil maupun besar terus berlomba-lomba menggali Fee Based Income. Ada semangat baru yang diperlihatkan bank-bank untuk meraih kinerja  baik. Kata Nirmansyah, secara umum jumlah perbankan di Sumsel cukup ideal yaitu sebanyak 41 bank dengan Bank Perkreditan Rakyat sebanyak 20.

“Kalau bicara kinerja, itu sangat penting. Kami melihat nominal yang dicapai perbankan meninggkat, namun pencapaian Dana Pihak Ketiga sedikit menurun,” tuturnya.

Jika melihat capaian bank sektor pembiayaan kredit, sambung Mirmansyah, bisa berbangga, sebab pangsa pasarnya masih luas. Selama ini bahkan bank ramai-ramai menggapai hidup dari ceruk pasar (niche market) terutama untuk membidik segmen kredit mikro dan kecil (KMK). Namun begitu, ketika kompetisi makin bebas dan bank-bank besar gencar melakukan penetrasi pasar ke lahan mereka, yang terjadi justru saling himpit.

“Sehingga apa yang terjadi? Banyak perbankan yang pembiayan kredit investasinya merendah, kendati tumbuh melambat,” ucapnya.

Jika tidak ada aral melintang, pada 2015 gagasan soal integrasi pasar keuangan Association of South East Asian Nation mulai diberlakukan. Karena itu, suka tidak suka, siap atau tidak, kesepakatan itu jelas mengikat.

Sekadar catatan, sepanjang tahun 2013 perbankan Sumsel berhasil menyalurkan kredit untuk UMKM sebesar Rp 18,93 triliun atau hampir 35,91 persen dari total penyaluran kredit sebesar Rp 52,73 triliun. Angka ini dinilai masih minim dibandingkan jumlah UMKM di Sumsel yang mencapai 4 juta.

Walau begitu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII  memproyeksikan bahwa angka inflasi di Sumsel tahun 2014 akan mengalami penurunan menjadi 4,55 persen dari angka inflasi akhir 2013 sebanyak 7,04 persen. Atau di bawah angka inflasi nasional sekitar 8,38 persen. Guna mendorong akses kredit perbankan bagi UMKM, BI berupaya meningkatkan kelayakan dan kapasitas UMKM dengan kegiatan bantuan teknis berbasis komoditas unggulan daerah.

Lebih dari 75 persen kredit maupun DPK Sumbagsel terkonsentrasi di Sumsel dan Lampung, dari sisi penyaluran kredit, perbankan tercatat memberikan andil yang baik dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan kredit UMKM di Bangka Belitung tercatat paling tinggi yakni sebesar 29,61 persen (yoy) dan dikuti Sumsel 19,46 persen (yoy), Lampung 15,21 persen (yoy), dan Bengkulu 14,38 persen (yoy). Dari gambaran di atas, sejalan dengan membaiknya outlook perekonomian global, maka Mirmansyah pun tetap optimistis perbankan di Kota Palembang memiliki rapor di zona hijau.

 

TEKS              :ROMI MARADONA

EDITOR          :IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster