Sering Kosong, SPBU Dikeluhkan Warga

 264 total views,  2 views today

INDRALAYA – Keberadaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU), di Jalan Lintas Timur (Jalintim), KM 29, atau tepatnya di Desa Palemraya, Kecamatan Inderalaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir (OI), dikeluhkan sejumlah warga. Pasalnya, SBPU tersebut hampir setiap hari terus kosong dan tidak melayani pengendara untuk pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM), jenis premium atau bensin.

Mirisnya, di sisi Jalintim yang dekat dengan keberadaan SPBU, banyak penjual bensin eceran yang menjual BBM jenis bensin yang harganya relatif cukup tinggi sekitar Rp8.000 -Rp 9.000 per liter dibandingkan harga di SPBU yanbg hanya Rp6.500 perliternya.

Ahasil, kondisi tersebut sangat merugikan baik pemilik kendaraan roda dua maupun roda empat. Warga berharap, pihak terkait menyelidiki kekosongan BBM tersebut. Informasi yang dihimpun, banyak warga menduga kekosongan SBPU tersebut lantaran penjualan BBM lebih diprioritaskan kepada pedagang bensin eceran baik yang berada di sisi Jalintim maupun pelosok desa.

Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa warga sekitar yang kerap memergoki pengisian BBM melebihi kapasitas menjualan. Otomatis, BBM di SPBU tersebut kerap kosong.

Zidan, warga Timbangan mengeluhkan kondisi tersebut. Menurutnya, setiap diirinya hendang mengisi BBM jenis bensin tersebut sudah kosong. Padahal, pegawai-pegawai SBPU tersebut berada di lokasi pengisian.

“Waduh, sudah dapat bensin Mas. Saya kalau mau ke Palembang mau isi selalu kosong. Tapi bingungnya, kenapa di pinggir-pinggir Jalintim banyak yang jual. Dari mana coba,” tanyanya, Selasa (17/6), kemarin.

Ia menambahkan, lantaran kesal, setiap akan berangkat dirinya terpaksa membeli bensin eceran yang berada di sisi jalan. “Tapi sayang harganya mahal. Satu liter Rp 8.000, kalau di SPBU hanya Rp6.500, Kalau satu botol mineral ukuran satu liter penuh sekitar Rp 13.000,-,” tuturnya.

Dirinya berharap, pihak terkait segera turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut. “Ya harus segera ditindaklanjuti. Apalagi mau puasa, pasti kebutuhan akan BBM semakin meningkat,” ungkapnya.

Kekesalan juga diungkapkan Sari, warga Pemulutan Barat. Pegawai kesehatan ini juga mengeluhkan sering kosongnya SPBU tersebut. Padahal, SBPU tersebut sangat strategis untuk warga yang berada di SPBU dan sekitarnya. “Kalau ada SPBU, kenapa juga saya harus beli eceran. Harganya juga mahal, Rp 8.000 perliternya. Kalau memangnya kurang, harus ditambahstoknya lagi,” tuturnya.

Salah seorang warga yang enggan namanya disebutkan mengatakan, dirinya pernah melihat salah satu Becak Motor (Bentor), sedang meengankut drigen yang berisi BBM jenis bensin. “Saya tidak tau nomor polisinya, setelah saya lihat lagi sudah tidak

ada lagi. Saya dikasih tahu juga ada mobil malam-malam, tidak tahu sedang apa, saya juga belum lihat langsung. Ini informasi dari

kawan-kawan aja,” tuturnya sambil berlalu. Sementara itu, penjual bensin eceran yang enggan juga disebutkan namanya dan tidak jauh dari area SPBU mengatakan, dirinya tidak membelinya langsung di SPBU tersebut. “Saya tidak beli langsung, ada yang kirim dari mobil . Makanya mahal, saya jual Rp 9.000 perliter, sedankan untuk satu botol air mineral ukuran satu liter penuh saya jual Rp 15.000,” singkatnya.

Pemilik SPBU hingga berita ini diturunkan belum bisa dikonfirmasi. Mantan pengawas SPBU yakni Sindi pun saat dihubunngi HP nya tidak aktif.

 

TEKS: JUNAIDI ABDILLAH





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster