Peran Intelektual dalam Perubahan

 241 total views,  2 views today

Foto-gagasan-01---M.-Andri--W---Alumnus-Sekolah-Demokrasi-Ogan-Ilir----YPI-KID Oleh M. Andri W

Alumnus Sekolah Demokrasi Ogan Ilir

Yayasan PUSPA Indonesia – KID

Perubahan dapat saja bertalian dengan nilai sosial, pola perilaku, organisasi, lembaga kemasyarakatan, lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, dan lain-lain. Namun tidak bisa dipungkiri, salah satu aktor perubahan  adalah intelektual. Peran intelektual dalam perubahan memang sangat besar.

Perubahan bisa terjadi di bidang manapun baik ekonomi, politik, sosial dan budaya. Intelektual memiliki kekuatan yang tak mampu dibendung oleh siapapun terutama dalam hal kebebasan dalam pemikiran. Namun saat ini, semua tidak lagi berjalan secara alami melainkan melalui setting sosial artinya segala sesuatu yang terjadi sudah diatur (kekuasaan).

Pemikiran Post-strukturalis, dalam pandangan Michael Faucault melihat pengetahuan lahir dari sebuah proses diskursif. Menurut Foucault pengetahuan berkenaan pula dengan relasi kekuasaan. Yakni kekuasaan yang digunakan untuk menciptakan pengetahuan mengenai apa yang kita anggap sebagai suatu “kebenaran”. Sementara itu, pengetahuan dikonstruksikan melalui wacana yang kemudian diskursif telah menciptakan kekuasaan untuk menjadikannya sebagai kebenaran. Konstruksi mengenai kekuasaan dalam aliran post-struktural Foucauldian ini telah memberi pengaruh yang besar dalam analisis konteks yang secara spesifik melatarbelakangi suatu wacana dan terutama yang relasi dinamis antara pengetahuan dan kekuasaan. Disini pengetahuan bukan hanya diciptakan melalui relasi kekuasaan tetapi juga melahirkan bentuk kekuasaan baru (analisis kemasyarakatan, Heru Nugroho 2011:34).

Ini artinya realita adalah sebuah wacana, dimana apabila banyak orang yang mengatakan sesuatu hal tersebut itu benar padahal salah, maka akan dianggap suatu kebenaran melalui wacana-wacana yang membenarkan hal itu. Dalam keadaan sekarang ini benar atau salah sama saja sesuai dengan kepentingan masing-masing baik kelompok ataupun inividu. Disinilah peran yang diharapkan dari kaum intelektual dengan kebabasan berfikir yang bertanggung jawab, kaum intelektual diharapkan mampu memberikan wacana yang benar berarti benar dan yang salah berarti salah. Dengan idealisme yang masih ada kaum intelektual diharapkan mampu membawa perubahan baik di bidang ekonomi, politik, maupun sosial budaya untuk menuju Indonesia lebih baik dimasa yang akan datang.

Intelektual didalam masyarakat dianggap sebagai kaum cendikia, dimana masyarakat mengharapkan peran intelektual mampu membawa perubahan yang lebih baik. Masyarakat menganggap bahwa intelektual merupakan orang-orang yang mampu menyelesaikan masalah yang ada didalam kehidupan sehari-hari mereka. Intelektual diharapkan mampu menciptakan ide-ide yang berilian dan pro-rakyat.

Intelektual dalam masayarakat dianggap sebagai individu dalam suatu kelompok. Inteletual diharapkan mampu memajukan dan menyejahterakan masyarakatnya dengan kemampuan dan keahlian yang mereka miliki. Dengan pola fikir maju dan dinamis, namun tetap memiliki ideologi, intelektual diharapkan mampu membangun masyarakat yang mandiri.

Intelektual di dalam masyarakat sebagai individu yang dijadikan contoh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Baik pola perilaku maupun hal lainnya, sehingga apa yang dilakukan oleh kaum intelektual akan ditiru masyarakat. Oleh sebab itu, peran intelektual sangatlah berpengaruh pada perubahan kehidupan masyarakat.

Gramsci, kemudian menggambarkan dua jenis intelektual. Yang pertama, intelektual ‘tradisional’, yaitu yang mendukung tatanan lama. Kedua, intelektual ‘organis’ yang muncul sebagai wakil dari zamannya untuk mengartikulasikan tatanan baru. Mereka secara relatif menjadi bagian dari permasalahan dan sekaligus solusinya (analisis kemasyarakatan, Heru Nugroho 2011:31).

Sungguh menarik, untuk melihat apakah intelektual di negara yang kita cintai ini dalam menjalankan perannya, termasuk intelektual tradisional yang mempertahankan tatanan lama dan pasrah dengan keadaan yang sudah ada. Ataukah intelektual organis yang menawarkan ide-ide baru yang memberikan harapan bahwa Indonesia akan lebih baik dimasa mendatang?**

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster