Debat Aktor Politik

 230 total views,  2 views today

foto-gagasan-01-YENRIZAL

Yenrizal

(Dosen IAIN Raden Fatah dan Kandidat Doktor Ilmu Komunikasi)

Terasa berbeda sekali nuansa debat antar kandidat calon presiden dan calon wakil presiden Senin (9/6/14) lalu dengan debat-debat yang sudah pernah dilakukan dalam ajang pemilihan pemimpin di negara ini. Perbedaan itu terletak pada kondisi yang melatarbelakanginya. Dulu, debat terasa biasa-biasa saja, ekspektasi publik tidak terlalu tinggi dan dianggap seperti penyampaian visi-misi belaka. Namun kali ini, harapan publik sebelum debat terasa sangat kuat. Setidaknya ini terlihat dari gencarnya media massa memberitakan dan riuh rendah perbincangan di media jejaring sosial.

Debat antar kandidat dalam memilih pemimpin politik, memang sangat diperlukan. Terutama dalam konteks negara demokrasi, ajang debat akan menjadi ajang uji publik untuk melihat sejauh mana kapasitas seorang calon pemimpin. Mulai dari kapasitas intelektual, berdiplomasi, sampai kapasitas penampilan secara fisik akan jadi sorotan. Melalui debatlah publik bisa menilai siapa yang terbaik dan siapa yang paling tepat untuk Indonesia.

Perlu jadi catatan bahwa debat antar kandidat ini dilaksanakan di Indonesia dan untuk rakyat Indonesia. Pada konteks ini terdapat makna-makna penting, yang berkaitan dengan aspek budaya Indonesia, budaya ketimuran. Ada yang mengatakan bahwa berdebat di depan umum, dilakukan oleh calon pejabat penting negara, maka aspek etika dan ewuh pakewuh harus tetap dipertimbangkan. Menyerang seseorang secara langsung (menjelekkan orang lain, walaupun itu didasarkan fakta), sering dianggap kurang etis. Karena itu, kalau ingin menyudutkan orang lain, gunakanlah tata cara berdiplomasi yang baik.

Pada saat berdebat, seperti yang beberapa waktu lalu dilaksanakan, saya jadi teringat bagaimana Erving Goffman mengatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah pemain peran. Manusia punya dua sisi panggung, depan dan belakang. Panggung depan cenderung dijadikan ajang unjuk kebolehan dan biasanya dipenuhi dengan kepalsuan dan seringkali tidaklah menunjukkan siapa dia sebenarnya. Untuk tahu yang sebenarnya, lihatlah ke panggung belakang, disitulah baru diketahui apa dan bagaimana aslinya orang tersebut.

Meminjam gagasan Goffman, maka Prabowo-Hatta dan Jokowi-Jusuf Kalla adalah pemeran utama dalam sebuah panggung drama debat kandidat capres dan cawapres. Mereka sedang bermain peran sebaik-baiknya, agar betul-betul tampil sebagai sosok yang pantas untuk jabatan tersebut. Tak heran, sebelum debat dimulai, maka yang paling sibuk adalah tim komunikasi politik masing-masing kandidat. Merekalah yang bertindak sebagai sutradara dari masing-masing jagoannya. Merekalah yang mengarahkan dan merekalah yang melatihnya, termasuk soal apa dan bagaimana menjawab pertanyaan.

Selesai berdebat, kedua pemain peran tersebut akan kembali ke belakang panggung. Diskusipun dimulai, evaluasi dilakukan, kelemahan ditelusuri. Diharapkan pada momen debat berikutnya, kelemahan tersebut tidak terjadi lagi. Karena itu harus dicarikan cara bagaimana agar misalnya, Jokowi lancar dalam berbicara, saling mengisi dengan JK. Atau bagaimana agar Prabowo kembali ke sosok tegas dan santunnya kala pidato di depan KPU, dan Hatta Rajasa bisa mengimbangi.

Oleh karena itu, ajang debat kandidat tetap perlu dilakukan. Minimal dari ajang tersebut kita bisa sama-sama menyaksikan siapakah aktor yang paling bagus dan menguasai perannya. Penguasaan peran menjadi penting, karena ini akan menentukan jalannya skenario cerita Indonesia dalam lima tahun ke depan. Hanya saja, kita jangan pernah lupa bahwa apa yang disuguhkan adalah panggung-panggung depan dari masing-masing kandidat, dan kita tidak pernah tahu seperti apa panggung belakang mereka yang sebenarnya. **





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster