Perluasan Lahan Perkebunan, Gunung Dempo Rawan Kebakaran

 403 total views,  2 views today

Gunung Dempo Pagaralam | Bagus Park

Gunung Dempo Pagaralam | Bagus Park

PAGARALAM – Pemerintah Kota Pagaralam melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan,  imbau agar warga dapat menghentikan kegiatan perluasan lahan perkebunan dengan  dibakar. Apalagi kondisi cuaca saat ini sudah tak menentu sejak beberapa tahun terakhir. Hal itu dikemukakan Kepala Dishutbun setempat, Ir Sarbani, kemarin (13/6).

Menurutnya, hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan, apalagi saat ini memasuki musim kemarau tentunya perlu diwaspadai berbagai dampak yang dapat menimbulkan kebakaran hutan. Seperti di kawasan Gunung Dempo, kerap dijumpai puluhan titik api (hotspot) yang muncul dari sejumlah lahan perkebunan milik warga.

“Warga setempat kerap melakukan perluasan lahan pertanian mereka dengan cara membakar. Untuk itu diminta agar dapat segera dihentikan, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” katanya seraya berujar jika hal itu masih saja tidak diindahkan maka pihaknya akan berkordinasi dengan pihak terkait untuk menindak tegas kegiatan yang dilakukan para petani itu.

Lanjutnya, dengan tingginya angka kebakaran hutan disejumlah daerah hingga menarik perhatian pihaknya untuk meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah hutan yang ada.

“Ada sekitar 24.000 hektare hutan lindung yang ada, dinilai kurang mendapatkan perhatian serius dan cukup rawan terjadi kebakaran. Apalagi kondisi yang ada sebagian besar berbatasan dengan pemukiman dan lahan pertanian milik warga,” jelasnya seraya berkata sejauh ini terdapat sekitar puluhan titik api yang ada dikawasan Kelurahan Dempo Makmur dan Kelurahan Gunung Dempo.

Meski begitu kata Sarbani, sangat perlu ditingkatkan pengawasan terhadap aksi pembakaran lahan untuk perluasan lahan pertanian.

“Dimbau agar warga dapat menghentikan upaya perluasan lahan pertanian dengan cara membakar lahan, mengingat hal itu dapat mengancam keasrian ekosistem yang ada termasuk membuat kabut asap,” terangnya.

Ia menambahkan, guna menantisipasi semua itu pihaknya telah intensifkan para petugas pemantau hutan termasuk meningkatkan penghentikan upaya memperluas areal perkebunan dengan cara membakar.

Sementara itu Kepala Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagaralam Herawadi S.Sos mengatakan, di tahun 2013 lalu memang ada puluhan titik api di Pagaralam seperti lima titik di Kelurahan Pelangkenidai, empat titik di Kelurahan Kacediwe Kecamatan Dempo Tengah.

“Puluhan titik api telah muncul di kawasan hutan perbatasan Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan,” terangnya seraya beujar sejumlah titik api itu mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan dibeberapa daerah tersebut.

Sementara di tahun 2012 lalu lanjutnya, juga melanda kawasan Kecamatan Kota Agung, dan Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat.  Sedangkan kedua daerah tersebut berbatasan dengan Kota Pagaralam. Ia mengatakan, dibeberapa daerah itu ada perbatasan yang terdapat 14 titik api dan paling banyak ditemukan di kawasan hutan  di Kecamatan Dempo Selatan dan Kecamatan Pajarbulan.

“Kebakaran lahan dan hutan tersebut sebagai bentuk terjadinya musim kemarau yang melanda wilayah Sumsel yang diiringi angin yang bersifat kering dan suhu udara mencapai 35 derajat celcius, terutama untuk kawasan Kota Pagaralam,” jelasnya seraya berujar guna menghadapi musim kemarau nantinya akan meningkatkan pengawasan terhadap puluhan titik hotspot dilima  kecamatan se-Kota Pagaralam.

 

TEKS    : ANTONI STEFANI

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster