Tentara, Mengapa Harus dengan Kekerasan

 281 total views,  2 views today

bentrokan TNI AU dengan warga beberapa wkatu lalu

bentrokan TNI AU dengan warga beberapa wkatu lalu

Kabar Sumatera edisi Kamis, 12 Juni 2014 menurunkan berita tentang konflik lahan antara warga Kelurahan Sukodadi. Pemberitaan media elektronik juga memberitakan tentang hal itu. Ada hal yang kemudian memebuat kita menjadi miris, ketika satuan aparat keamanan harus melakukan arogan terhadap masyarakat RT 32, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami, Palembang. Pasalnya bermula dari sengketa lahan yang memang dari dulu hingga sekarang masih jadi sengketa

Di tengah upaya pembenahan bangsa, mengapa diantara kita memilih untuk bersikap tidak manusiawi antar sesama? “Memakan” antar sebangsa sendiri. Sementara kita adalah manusia yang diberi ruh kasih dan sayang. Sekarang zamannya untuk menguatkan kembali nilai-nilai kemasyarakatan, bergotong-royong, saling bahu membahu. Tapi kenyataannya, pengingkaran nilai-nilai kemanusiaan itu terjadi lagi. Sungguh memilukan! Dari kasus itu, seakan, siapa berkuasa, atau siapa yang kuat dia yang akan menang. Hukum ini hanya akan berlaku di hutan belantara, bukan di kawasan Sukodadi Palembang, 11 Juni 20014.

Realitas sejarah mencatat, pasca runtuhnya orba (Soeharto) masing-masing kelompok kesannya melakukan arogansi antara satu dan lainnya, termasuk peristiwa yang menima warga di RT 32 Sukodadi. Padahal bila kita ingat sejarah, TNI sangat berteman dengan rakyat, terhadap petani dan buruh. Seperti, ABRI Masuk Desa (AMD). Itu bukti masyarakat sangat dekat dengan ABRI. Tapi ternyata, setelah bergantinya kepemimpinan, kondisinya menjadi berbalik arah. Antar aparat keamanan di OKU beberapa waktu lalu, saling melukai antar sesama. Kenapa ini bisa terjadi? dimana peran negara yang berwenang mengurusi masalah ini, sehingga antar warga tidak harus melukai hati dan fisik? Tidak adakah negara disana, sementara aparat keamanan adalah bagian negara? Sudah hilangkah nilai-nilai kemanusiaan di aparat keamanan?

Ketika tulisan ini digoreskan, kita memang kemudiana harus menitikkan air mata karena selama ini kita hanya berani melawan bangsa kita sendiri. Tapi ketika negara lain mengambil hak kita, seni dan budaya dicatut bangsa lain, investasi dijajah bangsa lain, dimana peran negara? Negara kita malah diam. Pihak TNI tidak berkutik dan hanya bisa diam seribu bahasa. Padahal dibalik kepedihan masyarakat Indonesia, ada harapan peran aparat kemananan (TNI) sebagai pelindung dan sahabat rakyat. Mengapa kita harus saling serang antar bangsa sendiri?

Seharusnya, dengan posisi berbeda tidak harus saling melemahkan. Tidak harus menindas. Toh kita mahluk ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk tidak saling melukai. Dibelinya peralatan perang, bukan untuk saling menembak dan melukai. Tapi seharusnya dipergunakan untuk melindungi dari ancaman bangsa lain. Tapi faktanya malah berbalik. Alat yang dibeli (berasal dari uang rakyat) untuk saling serang, saling melemahkah, atau bahkan saling membunuh bangsanya sendiri.  Kalau ini yang terjadi, bagaimana rakyat akan merasa aman bersama aparat keamanan? Kalau bersama TNI, Polisi, rakyat tidak ada rasa aman, lantas kemana lagi rakyat harus berlindung? Semoga ini dapat menjadi renungan kita semua dan menyadarkan kita, bahwa kita adalah manusia!





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster