Mencerdaskan Bangsa Melalui Madrasah

3 total views, 3 views today

foto-gagasan-01--WD-Gunawan

Oleh WD Gunawan

(Guru di MTs Hidayatul Ummah)

Sebuah keniscayaan bahwa pendidikan merupakan pendekatan dalam membentuk manusia seutuhnya atas fitrahnya sebagai makhluk baik dan sempurna. Kita paham bahwa Tuhan (Allah) telah memilih manusia sebagai pengemban tugas di muka bumi ini (khalifah fil ardli), hal ini terjadi setelah melewati sebuah dialog dengan malaikat, manusia, jin di alam kuasa-Nya. Seraya pun (Allah SWT) telah memberikan bekal konsep dasar pendidikan dan pembelajaran kepada manusia yang digambarkan dalam QS. Al-Alaq; 1-5.

Bahkan banyak teori-teori pendekatan yang mesti kita gunakan dalam membentuk manusia sempurna sebagaimana fitrahnya manusia (sebagai makhluk yg baik dan mulia dibandingkan dengan makhluk lainnya). Berdakwah, sebagai upaya pencerdasan umat, merupakan bagian dari strategi bagaimana kemudian agar nilai-nilai agama sebagai kunci pelembagaan keimanan seseorang untuk bisa kembali bertemu dengan Tuhannya di sisi-Nya.

Oleh karena itu setiap muslim berkewajiban menjadi rahmatan lil ‘alamin, memberikan kesejukan, memberikan manfaat kepada sesamanya dengan jalan berdakwah yang mencerahkan; mengajak, menganjurkan, mengimbau kepada umat agar benar-benar kembali kepada fitrahnya sebagaimana keyakinan agama yang sudah tertanam dan terikat dengan janji sejak dalam kandungan, bahwa manusia sudah menandatangani kontrak aqidah dengan Tuhan-Nya sebelum lahir.

Seperti kita tahu, sejarah mencatat bagaimana perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam menyebarkan misi ke-Tuhanan. Beliau diutus dengan tugas utamanya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Oleh karena itu awal dakwah yang dilakukan nabi melalui sebuah madrasah di rumah Al-Arqam. Dari sinilah kemudian umat muslim (kiai, ustadz, guru atau pendidik) sebagai pewaris nabi, bertanggung jawab untuk melanjutkan misi itu hingga akhir zaman.

Dengan strategi dan pendekatan pencerdasan anak bangsa melalui dakwah itulah kemudian baik perorangan atau sebuah lembaga berkewajiban meneruskan estafet misi kerasulan tersebut, tak terkecuali madrasah. Sekalipun seandainya tidak berharap secara kuantitas untuk mendapatkan simpati dan partsipasi masyarakat dengan menitipkan anak-anaknya ke lembaga ini. Tetapi ada yang lebih besar dari tugas itu semua, yaitu bertanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada setiap manusia, kepada anak-anak, agar sejak dini mereka benar-benar tertanam nilai-nilai agama yang kuat untuk menghadapi masanya nanti.

Jadi nilai-nilai agama itu harus dikenalkan dan dimiliki oleh setiap manusia, karena manusia sungguh sudah memiliki naluri keyakinan dan ke-Tuhanan. Oleh karena itu sebuah keniscayaan bahwa madarash harus ikut andil dalam menyampaikan pesan moral kebaikan kepada masyarakat agar umat tidak celaka dan tersesat kemudian.

Untuk itu penulis mengingatkan kepada siapapun dan dalam bentuk apapun tak ada satu pun yang berwenang dan berhak untuk menghalangi misi tersebut untuk bisa tersampaikan kepada siapapun, karena itu adalah tugas mulia yang akan dijanjikan Tuhan akan nikmat dan karunia-Nya, baik di dunia maupun di akhirat (surga).

Umat Islam harus maju dan kaya akan khasanah pengetahuan, jadi ilmu apapun selagi bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain (umat) harus dapat dikuasai sebagai bekal keseimbangan hidup di dunia dan akhirat. Wallahu ‘alam.

 





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com