Konflik TNI AU dan Warga tak Kunjung Selesai

 222 total views,  2 views today

aksi warga Kecamatan Sukarami di Pemkot Palembang beberapa waktu lalu

aksi warga Kecamatan Sukarami di Pemkot Palembang beberapa waktu lalu | Dok KS

PALEMBANG – Konflik agraria di Sumatera Selatan (Sumsel), kembali memanas. Rabu (11/6), kembali terjadi bentrokan antara warga Rt 42, Kelurahan Sukarami, Kecamatan Sukarami, Palembang dengan prajurit TNI Angkata Udara (AU) dari Pangkalan Udara (Lanud) Palembang.

Bentrokan tersebut, mengakibatkan lima warga mengalami luka tembak. Ke lima warga yang menjadi korban ini yakni Nurhamid (40), Mustakim (37), Narso (35) dan Muhaya (56). Ke empat korban ini dirawat di Rumah Sakit Mohammad Hoesain (RSMH). Satu korban lainnya, Sumanto di rawat di RS Bhayangkara Palembang.

Ini bukan kali pertama, terjadi bentrokan warga dengan prajurit TNI AU tersebut. Catatan Kabar Sumatera, 24 April 2013 lalu juga sempat terjadi bentrokan. Saat itu, warga RT 32, RW 06, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami yang terlibat bentrok. Akibat bentrokan tersebut, dua warga dua prajurit TNI AU menjadi korban.

Dua korban yang mengalami luka tembak yakni Agung Prasetya (17) dan Amiru (22). Keduanya mengalami luka tembak di bagian bahu dan dada.  Sementara Pratu Rahmadi, mengalami luka bacok di bagian kepala depan dan Pratu Astriu, terkena tembakan senapan angin pada bagian lengan.

Pada Selasa, 17 Desember 2013 lalu, bentrokan juga nyaris pecah. Warga RT 32, RW 06, Keluarahan Suakadadi, Kecamatan Sukarami mengaku diteror oleh anggota TNI AU dari Lanud Palembang. Esok harinya,18 Desember 2013, puluhan warga mendatangi Polda Sumsel untuk meminta perlindungan.

Ketua RT 32, Mustakim saat itu mengaku, teror yang diterima warga sudah dilakukan oknum TNI AU sejak satu bulan. Bunyi ledakan bom, bunyi tembakan dan teror lainnya diterima warga. Terakhir jalan akses ke pemukiman warga diputus menggunakan alat berat.

Bahkan ia sebut Mustakim, sempat didatangi 20 anggota TNI AU menanyakan patok lahan yang hilang.”Mereka mengancam dalam 1×24 jam, jika patok lahan itu tidak dikembalikan maka kampung kami di bumi hanguskan. Makanya kami datang kesini, untuk meminta perlindungan,” kata Mustakim yang dibincangi di Mapolda Sumsel saat itu.

Rentetan kekerasan tersebut dari informasi yang dihimpun Kabar Sumatera, berawal dari perebutan lahan antara warga di empat kelurahan di Kecamatan Sukarami dengan Lanud Palembang.

Dari 720 hektar luas lahan di empat kelurahan tersebut, 200 hektarnya sama-sama diklaim oleh warga dan TNI AU sebagai milik mereka. Warga mengaku sudah memiliki lahan tersebut secara turun temurun dan ada yang membelinya, sehingga merasa berhak atas kepemilikan lahan yang diperebutkan.

“Kami tidak akan meninggalkan lahan, yang sudah kami tempati selama puluhan tahun. Lahan itu milik kami. Namun kami, sudah tidak berdaya menghadapi persoalan ini. Kemana lagi, kami harus mengadu,” kata Tatang, salah satu warga Kelurahan Sukadadi saat melakuan aksi di Pemkot Palembang beberapa waktu lalu.

Namun Lanud Palembang mengklaim memiliki bukti yang sah kepemilihan lahan tersebut. Di RT 31 dan 32 Kelurahan Sukodadi misalnya, ada lahan seluas 159 hektar yang disebut adalah aset milik TNI AU.

Penyelesaian konflik antara warga dengan TNI AU ini, sudah berulangkali dilakukan. Mediasi yang difasilitasi DPRD Sumsel, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang termasuk Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel, menemui jalan buntu.

“Kami sudah mencoba menyelesaikan persoalan ini, dan membawanya ke DPR RI. Dari pertemuan di Jakarta, diputuskan lahan seluas 226 hektar yang dikuasai 1.444 Kepala Keluarga (KK) di status qou kan. Artinya, tidak boleh ada aktivitas pembangunan di lahan tersebut sembari menunggu proses hukum berjalan. Tetapi putusan tersebut, tidak dipedulikan oleh Lanud Palembang,” ungkap Wakil Ketua Komisi I DPRD Sumsel, Ali Rasyid.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, agar tidak berlarut-larut, politisi Partai Hanura itu menyarankan agar dibawa ke pengadilan. “Biarkan pengadilan yang memutuskannya,” tukasnya.

 

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR          : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster