Pendidikan Moral Dimulai dari Dalam Rahim

16 total views, 3 views today

Ilustrasi Guru Sedang Mengajar Murid | Foto : Bagus Park

Ilustrasi Guru Sedang Mengajar Murid | Foto : Bagus Park

PALEMBANG – Guna membentengi moral dan akhlak, setiap orang tua harus melakukan proses pendidikan anak sejak dalam rahim. Bahkan lebih dari itu, jika berkiblat dengan nabi, proses pendidikan moral dan akhlak sudah dimulai sejak calon kedua orang tuanya sebelum menikah. Hal itu dikatakan KH. Mudaris, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Hasanah Banyuasin, dalam obrolan informal belum lama ini di Banyuasin.

Mudaris mengatakan, pendidikan yang dialami diri Nabi pada masa kecil merupakan pendidikan yang pada dasarnya berasal dari Tuhan langsung. Bahkan Mudaris menegaskan ketika proses menikah antara Siti Aminah dan Abdullah merupakan konsep dasar pendidikan dalam menyiapkan generasi yang berakhlaq dan beradab. “Ketika kecilnya nabi berada dalam lingkungan orang-orang yang istimewa. Nabi sewaktu kecil bersama Halimatusya’diyah di lingkungan pedesaan yang sepi, bersama kakeknya Abdul Mutholib  dan bersama pamannya Abu Tholib merupakan situasi dan kondisi pendidikan yang patut menjadi rujukan bagi pendidikan saat ini. Kepada sejumlah orang itu nabi tidak pernah menyusahkan orang lain,” ujarnya.

Mudaris mengakui, proses pendidikan pertama, selain mulai dari dalam rahim, sebelum calon kedua orangtuanya menikah. “Ketika Rasul mengajarkan cara memilih pasangan hidup untuk berkeluarga, maka sebenarnya pendidikan dalam Islam jauh sebelum anak dilahirkan, bahkan sebelum kedua orangtuanya menikah, sudah ada proses pendidikan moral,” tambahnya.

Setelah menikah, menurut Mudaris, seorang anak di alam rahim diberikan kemampuan pertama adalah mendengar. Oleh sebab itu, calon orang tua sudah mulai mendidiknya dengan mendengarkan gelombang-gelombang suara yang mengandung unsur pendidikan. Pendengaran menurut teori, ada setelah Allah meniupkan ruh kepada sang bayi pada umur 3 bulan pertama. “Artinya nilai tauhid kembali diingatkan kepada sang anak setelah orangtuanya juga bertauhid,” ujarnya.

Nanti ketika lahir, sang bayi mulai berinteraksi dengan alam sekitarnya. Kebiasaan orang tua akan menjadi kebiasaan anaknya. Bahasa santun orang tua akan membuat anak menjadi santun. “Sentuhan kasih sayang akan membuat anak menjadi berarti. Jika demikian situasinya, maka nilai ketauhidan yang sebelumnya ada pada orang tua akan mudah untuk di tumbuh kembangkan kepada sang anak, sebagai benteng moral ketika nanti mere adewasa,” ujarnya.

Sementara itu Ustadz Tajuddin Arraniri, mengatakan sebagai orangtua, mensyaratkan bahwa pondasi sebuah pendidikan keluarga adalah harus berangkat dari agama. “Menurut Nabi untuk terbinanya situasi keluarga sakinah yang bernuansa islami, hendaklah menjadikan kriteria agama sebagai kriteria utama. Kegagalan pendidikan di rumah tangga akan berdampak cukup besar pada proses pendidikan anak selanjutnya,” katanya.

Begitupun dalam penanaman pendidikan moral dan akhlak anak. Dalam keluarga, tujuan pendidikan agama dalam keluarga menurut Tajudin, hendaklah mengikuti tujuan pendidikan agama dalam Islam, guna menguatkan iman seseorang sehingga kelak akan menjadi dinding yang membentengi dari kemungkinan perilaku buruk. “Jadi tujuan  pendidikan dalam keluarga tidak lepas dari tujuan pendidikan agama yang telah ditetapkan oleh Islam itu sendiri”, terangnya.

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com