Air Sungai Musi Masih Aman

 353 total views,  2 views today

Ilst Pulau Kemarau | Dok KS

Ilustrasi Sungai musi  | Ist

PALEMBANG – Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang, memastikan air Sungai Musi masih dalam katagori layak sebagai bahan baku untuk air bersih bagi PDAM Tirta Musi. Kepastian itu didapatkan, setelah BLH melakukan uji labortorium terhadap sample air yang diambil dari 11 titik pantau di Sungai Musi.

Kepala BLH Kota Palembang, Tabrani menyebut, hasil uji labortorium itu membantah adanya anggapan kalau air Sungai Musi sudah tercemar dan tidak layak lagi sebagai bahan baku air bersih bagi PDAM Tirta Musi.

“Hasil uji labortorium yang kita lakukan terhadap sample air, yang diambil dari 11 titik pantau menunjukkan kalau kualitas air di Sungai Musi masih normal. Tingkat kekeruhannya pun, masih dibawa ambang batas,” kata Tabrani ketika dibincangi di Balai Kota Palembang, Senin (9/6).

Tabrani menejelaskan, BLH melakukan pantauan kondisi air tersebut dalam satu tahun dilakukan sebanyak empat kali. Saat ini terangnya, baru satu kali dilakukan yakni pada Maret lalu.

Untuk pantauan kedua, nantinya akan dilakukan sekitar bulan Juni dan yang ketiga di bulan Agustus. Tetapi sebelumnya jelas dia, BLH akan melakukan tes emisi untuk mengetahui kondisi udara di Palembang. “Untuk tes emisi ini akan dilakukan minggu depan,”katanya.

Ditanya, bagaimana kondisi air Sungai Musi 10 -20 tahun mendatang, Tabrani menyebutkan, kondisi air Sungai Musi akan tetap aman, tetapi masyarakat harus menjaganya jangan sampai membuang limbah seperti detergen langsung ke sungai.

“Kami harapkan masyarakat jangan langsung membuang limbah ke sungai, tetapi mengolahnya dulu hingga menjadi air yang jernih kemudian baru dialirkan ke sungai, tujuannya agar kekeruhan air di Sungai Musi dapat diminimalisir,” himbaunya.

Sementara itu, Kabid Pengendalian Pencemaran Lingkungan, BLH Palembang, Heni Kurniawati menambahkan, ada 11 titik pantau yang dilakukan BLH. Ke 11 titik itu diantaranya di bawah Jembatan Ampera, Pulokerto dan beberapa titik lainnya.

Titik-titik tersebut jelasnya dijadikan sebagai titik pantau, karena dinilai titik-titik tersebut sudah terjadi penurunan baku mutu air. “Namun penurunan baku mutu air tersebut, tidak serta merta langsung tidak dapat digunakan menjadi bahan baku PDAM. Air tersebut masih dapat digunakan, tetapi harus dengan pengelolaan lagi,” jelasnya.

Menurut Hebi, untuk tahun 2013 yang lalu, BLH telah melakukan pantauan di 14 titik di Sungai Musi serta di 9 anak sungai. Berdasarkan hasil uji laboratorium, Ph air tersebut masih dikatakan normal yaitu berkisar 6-9, tetapi memang kualitas baku mutunya agak berkurang, karena adanya zat seperti BOD, COD, dan fosfat. “Tetapi hasil uji ini mengalami peningkatan setiap tahunnya, artinya kondisi air Sungai Musi setiap tahunnya mengalami perbaikan,” sebutnya.

Heni menambahkan, saat ini, 60 persen penyumbang terbesar zat yang mencemari air Sungai Musi, berasal dari limbah domestik, seperti deterjen, dan hasil pembuangan limbah-limbah cair.

“Kami menyarankan untuk menjaga kualitas air di Sungai Musi, seluruh masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Industri juga kita minta, tidak membuang limbah cair langsung ke Sungai Musi tanpa pengelolaan terlebih dahulu,” tukasnya.

 

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR          : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster