Waspada Kebaran Hutan di Musim Kemarau

 299 total views,  2 views today

Ilustrasi | Dok KS

Ilustrasi | Dok KS

PAGARALAM – Upaya menjaga kelestarian hutan lindung agar selalu terhindar dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kota Pagaralam dan seluruh lurah dan camat se-kota Pagaralam diminta agar selalu siaga terhadap kebakaran hutan terutama upaya penghentian pembakaran lahan perkebunan.

Kepala Dishutbun Kota Pagaralam Ir Sarbani mengatakan, tingginya angka kebakaran hutan disejumlah daerah di Indonesia, hingga membuat pihaknya meningkatkan pengawasan terhadap sejumlah hutan yang ada.

Ia mengatakan, Pagaralam memiliki sekitar 24.000 hektare hutan lindung, tentunya cukup rawan terjadi kebakaran mengingat kondisi yang ada sebagian besar berbatasan dengan pemukiman dan lahan warga.

“Hampir setiap tahun terjadi kebakaran hutan, apalagi saat ini memasuki musim kemarau tentunya harus diwaspadai berbagai dampak yang dapat menimbulkan kebakaran hutan,” ujarnya, Ahad (8/6).

Hasil pemantauan di lapangan lanjutnya,  terdapat sekitar puluhan titik api (hotspot), diantaranya ada lima titik api di Kelurahan Atungbungsu dan enam titik lagi berada di  Kelurahan Lubuk Buntak, Kecamatan Dempo Selatan.

Kendati demikian, perlu ditingkatkan pengawasan terhadap aksi pembakaran lahan untuk perluasan lahan perkebunan.

“Setiap warga dilarang melakukan perluasan lahan kebun dengan cara membakar lahan, mengingat hal itu dapat berdampak pada kerusakan ekosistem yang ada hingga membuat kabut asap,” katanya seraya berujar selain kawasan hutan di Dempo Selatan dan Dempo Tengah, termasuk pula kawasan hutan lindung Gunung Dempo.

Ia menambahkan, mengenai masalah penanganan kebakaran hutan, pihaknya telah menyebar para petugas lapangan guna pemantau kondisi hutan termasuk meningkatkan penghentikan upaya memperluas areal perkebunan dengan cara membakar.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulanagn Bencana Daerah (BPBD) Kota Pagaralam Herawadi S.Sos  mengemukakan, memang ada puluhan titik api di Pagaralam seperti empat titik di Kelurahan Kacediwe, dan lima titik di Kelurahan Pelangkenidai, Kecamatan Dempo Tengah.

“Puluhan titik api (hotspot) di kawasan hutan perbatasan Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat   kerap mengakibatkan kebakaran hutan. Sementara titik api (hotspot) tahun 2013 lalu juga melanda kawasan Kecamatan Kota Agung, dan Kecamatan Pajarbulan, Kabupaten Lahat.  Kedua daerah tersebut berbatasan dengan Kota Pagaralam,” sebutnya.

Sejauh ini kata Herawadi, dari sejumlah daerah  perbatasan itu terdapat 14 titik api dan paling banyak ditemukan di kawasan hutan  di Kecamatan Dempo Selatan dan Kecamatan Pajarbulan.

“Selain ulah tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab, kebakaran lahan dan hutan  terjadinya akibat musim kemarau dengan angin yang bersifat kering,” katanya.

Ia mengatakan, di wilayah Kota Pagaralam sendiri ada lima daerah paling rawan kebakaran hutan atau kawasan hotspot.  Semuanya berada di wilayah perbatasan dengan Kabupaten Lahat yakni Kecamatan Dempo Selatan, dan beberapa titik di Kecamatan Dempo Tengah.

Adapun  titik api dimaksud berada dibeberapa tempat, seperti Lematang, Selangis, Lubuk Buntak, Atung Bungsu dan Muaratenang. Daerah ini masih cukup banyak terdapat hutan belukar hingga mencapai ratusan hektare.

“Kawasan hutan hotspot itu merupakan lahan tidur, sementara sebelumnya merupakan perkebunan kopi dan ladang. Karena  sudah tidak digarap lagi, maka ditumbuhi rumput ilalang dan pohon kayu kecil sehingga kembali menjadi belukar,” bebernya seraya berujar tahun 2008 lalu pernah terjadi kebakaran hutan yang menyebabkan ratusan hektare lahan milik warga terbakar, seperti perkebunan karet, kopi dan jati, paling banyak di Kelurahan Atungbungsu, Kecamata Dempo Selatan.

 

TEKS:ANTONI STEFEN

EDITOR:RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster