Tiga Rute Baru TAA Diusulkan

 240 total views,  2 views today

 

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-api (TAA) Banyuasin

PALEMBANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel), mengusulkan ke Kementrian Perhubungan (Kemenhub) untuk membuka tiga rute baru dari Pelabuhan Tanjung Api-Api (TAA) ke tiga pelabuhan di Pulau Jawa.

Ketiga rute baru yang diusulkan tersebut yakni TAA – Merak, Banten. Kemudian TAA – Tanjung Priok dan TAA – Cirebon. “Tahun depan sudah bisa diketahui rute mana yang akan dilayani, setelah melalui beberapa kajian di Kemenhub,” kata Kepala Unit Pelaksana Tehnis Daerah Penyelenggaraan dan Pembinaan Angkutan laut, Sungai Danau dan Penyeberangan (PPALSDP), Mangasi Sinaga, kemarin.

Ia mengungkapkan, rute TAA- ke Pulau Jawa diinisasi oleh masyarakat pengguna jasa penyeberangan kapal, baik itu pengendara maupun pengusaha. Rute baru itu, akan mengakomodir masyarakat dari utara Pulau Sumatera yang ingin ke Pulau Jawa tanpa melewati kemacetan di Jalur Lintas Timur (Jalintim).

“Masyarakat lah yang diuntungkan bila rute ini dibuka. Mereka tidak perlu lagi menemui kemacetan hingga pengurangan biaya. Pemerintah pun bisa menghemat biaya perawatan Jalintim. Sopir sendiri mengaku ingin cepat-cepat rute ini dibuka dalam waktu dekat,” ujarnya.

Menurut Sinaga, tiga pelabuhan yang dipinta Pemprov Sumsel memiliki plus dan minus. Dari kajian pihaknya, rute TAA-Merak akan lebih cepat namun harus menemui kepadatan lalu lintas di Jakarta. Sedangkan pelabuhan Priok sudah cukup padat.

Terkendala Sedimentasi

Namun untuk membuka tiga rute tersebut, masih terkendala dengan sedimentasi di alur Sungai Banyuasin. Endapan lumpur tersebut menurut Mangasi, menyulitkan bagi kapal untuk bersandar di Pelabuhan TAA.

“Sebetulnya, kondisi Sungai di Banyuasin tidak jauh berbeda dengan Sungai Musi. Hanya saja, hampir setiap tahun, Sungai Musi selalu mendapatkan perawatan dengan dilakukan pengerukan. Sedangkan Sungai Banyuasin, belum pernah,” terang Mangasi.

Menurutnya, karakteristis sungai yang ada di Sumsel juga sama. Khusus Sungai Banyuasin sendiri, kondisi sedimentasinya cukup tinggi, dan memerlukan perawatan yang rutin. “Jangankan kita yang baru saja hendak memulai, Pelabuhan Tanjung Priok yang telah berdiri puluhan tahun saja, tetap dikeruk untuk mencegah pendangkalan,” ujarnya.

Karenanya kata dia, Dishubkominfo mengusulkan ke Kemenhub untuk melakukan pengerukan dialur Sungai Banyuasin. Namun meski usulan telah dilayangkan, sebelum dilakukan pengerukan, diperlukan sejumlah tahapan-tahapan seperti Analisa Dampak Lingkungan (Amdal) serta sejumlah penelitian.

“Ada aturan-aturan tertentu. Kita khawatir, jika langsung mengambil langkah pengerukan, sedangkan pelabuhan belum rampung, nanti sedimentasi tersebut akan kembali penuh,” urainya.

Mangasi menegaskan, sedimentasi yang berada di dasar sungai berisikan material lumpur lunak. Banyaknya gerakan kapal yang berada di permukaan air, dapat menerbangkan endapan lumpur tersebut. Namun, jika tidak dikeruk, dibagian bawah lumpur tersebut, semakin lama semakin padat. “Perkiraan kita, bisa bertambah 23 cm setiap tahunnya,” ujarnya.

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi Keuangan dan Pembangunan Setda Sumsel, Ruslan Bahri menilai pembangunan pelabuhan dan dermaga yang nantinya diplot sebagai pusat distribusi logistik regional ini, merupakan pekerjaan besar jadi banyak pihak.

Untuk itu ia berharap agar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) benar-benar saling berkoordinasi. “Seperti pembangunan jalan sekarang sudah di programkan oleh Dinas PU Bina Marga. Untuk operasional pelabuhan regional Tanjung Carat ini, kita usahakan secepatnya. Tentu kita berharap agar cepat selesai,” tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster