Palembang “Pusat Ibukota” Kerajaan Sriwijaya

 408 total views,  2 views today

Oleh Ahmad Maulana, S.Ag

(Jurnalis di Palembang)

Kerajaan Sriwijaya merupakan Kerajaan Besar pada masanya, dengan wilayah dan relasi dagang yang luas sampai ke Madagaskar. Sejumlah bukti berupa Arca, Stupika, maupun prasasti lainnya semakin menegaskan bahwa Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang mempunyai komunikasi yang baik dengan para saudagar dan Pendeta di Cina, India Dan Arab. Hal ini hanya mungkin bisa dilakukan oleh sebuah kerajaan yang besar, berpengaruh, dan diperhitungkan di kawasannya.

Salah satu catatan tentang Kerajaan Sriwijaya adalah catatan perjalanan I-Tsing. Dalam catatan I-Tsing ini disebutkan, saat itu di Kerajaan Sriwijaya terdapat 1000 Pendeta. Dalam perjalanan pertama, I-Tsing sempat bermukim selama enam bulan di Kerajaan Sriwijaya untuk mendalami Bahasa Sansekerta. I-Tsing juga menganjurkan, jika seorang Pendeta Cina ingin belajar ke India, sebaiknya belajar dulu setahun atau dua tahun di Fo-Shih (Palembang), baru kemudian belajar di India.

Sebagaimana yang diungkapkan George Coedes dalam tulisannya mengenai Kerajaan Sriwijaya berjudul Le Royaume De Crivijaya; pada Tahun 1918 M, menetapkan Kerajaan Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Sumatera Selatan. Walaupun yang karya I-Tsing diterjemahkan Sarjana Jepang Takakusu, Nan-Hai-Chi-Kuei-Nai Fa-Chan ke dalam Bahasa Inggris dengan judul A Record Of The Budhist Religion As Practised In India And The Malay Archipelago tidak ada nama Kerajaan Sriwijaya, yang ada hanya Shih-Li-Fo-Shih. Namun, karya I-Tsing yang memuat nama Shih-Li-Fo-Shih yang berarti Palembang, dan ini setelah diterjemahkan dari Prasasti Kota Kapur.

Artinya, apa yang diungkapkan Coedes sangat beralasan, dimana Kerajaan Sriwijaya adalah nama sebuah kerajaan di Palembang Sumatera Selatan.  Inipun bersandar pada anggapan Groeneveldt dalam karangannya, Notes on the Malay Archipelago and Malacca, Compiled From Chinese Source, yang menyatakan bahwa San-Fo-Tsi adalah Palembang. Sumber diatas juga didukung oleh sumber yang dikatakan Beal dimana pada tahun 1886, Shih-Li-Fo-Shih merupakan suatu daerah yang terletak di Tepi Sungai Musi, dekat Kota Palembang Sekarang.

Dari gambaran di atas, memperkuat anggapan para sejarawan untuk mengutakan Palembang sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya. Anggapan ini juga diperkuat dengan adanya Prasasti Telaga Batu. Prasasti ini berbentuk Batu Lempeng mendekati Segi Lima, yang di atasnya ada Tujuh Kepala Ular Kobra, dengan berbentuk mangkuk kecil dengan Cerat (mulut kecil tempat keluar air) di bawahnya.

Menurut para Arkeolog, Prasasti ini digunakan untuk pelaksanaan Upacara Sumpah Kesetiaan dan Kepatuhan para Calon Pejabat di Kerajaan Sriwijaya. Dalam prosesi itu, pejabat yang disumpah meminum air yang dialirkan ke batu dan keluar melalui Cerat tersebut. Sebagai sarana untuk upacara persumpahan, prasasti seperti itu biasanya ditempatkan di Pusat Kerajaan. Karena ditemukan di Sekitar Palembang pada tahun 1918 M, maka diduga kuat Palembang merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya.

Menurut Guru Besar Sejarah di Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang yang juga merupakan sejarawan, Prof. Dr. H. Suyuti Pulungan, MA mengatakan bahwa, Palembang memang layak menjadi Pusat Ibukota Kerajaan Sriwijaya. Ini dibuktikan dengan hasil temuan Barang Keramik dan Tembikar di Situs Talang Kikim, Tanjung Rawa, Bukit Siguntang dan Kambang Unglen, semuanya di Daerah Palembang.

Keramik Dan Tembikar Tersebut merupakan alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini menunjukkan bahwa, pada masa dulu, di Palembang terdapat pemukiman Kuno. Dugaan ini semakin kuat dengan hasil interpretasi foto udara di Daerah Sebelah Barat Kota Palembang, yang menggambarkan bentuk Kolam dan Kanal. Kolam dan Kanal yang bentuknya teratur itu kemungkinan besar buatan manusia, bukan hasil dari proses alami. Maka dugaan para Arkeolog bahwa Palembang merupakan Pusat Kerajaan Sriwijaya semakin kuat.

Suyuti menambahkan adanya bukti otentik di atas diperkuat beberapa data sejarah berkenaan dengan Kerajaan Sriwijaya. Selain Prasasti Kota Kapur, juga ditemukan Prasasti Karang Berahi (1904 M),Telaga Batu (1918 M), Kedukan Bukit (1920 M), Talang Tuo (1920 M) dan Boom Baru. Artinya, asumsi yang mengatakan bahwa Palembang adalah Ibukota Kerajaan Sriwijaya adalah benar.

Dari rangkaian fakta sejarah di atas membuat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan berupaya memberikan keseriusan untuk mengembangkan Kota Palembang Sumatera Selatan lewat Budaya dan Pariwisata. Di samping itu, untuk memberikan pengetahuan dan pengajaran bagi masyarakat Sumatera Selatan tentang Kerajaan Sriwijaya lewat Festival Sriwijaya 2014.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster