Rumah Duka Menuai Kontroversi Kemenag Terkesan Tutup Mata

 322 total views,  2 views today

LAHAT – Pembangunan rumah duka bagi warga Tionghoa di Kabupaten Lahat tepatnya di Jalan Pasar Lama atau di depan Pasar Tradisional Modern (PTM) Lahat sekarang ini menuai kontroversi. Sebab, bangunan rumah duka ini sama sekali belum mendapatkan izin dari Kantor Kementrian Kabupaten Lahat maupun dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Bangunan berukuran 8 x 6 meter itu sudah berbulan-bulan berdiri, namun pihak Kemenag hingga kini hanya mengkroscek dan hanya mengetahui untuk apa bangunan tersebut tanpa mendesak agar mereka membuat izin pendirian bangunan kepada pihak Kemenag.

Pihak Kemenag hanya mengetahui jika bangunan rumah duka tersebut hanya sebagai rumah singgah tanpa mengetahui sebab dan akibat rumah duka tersebut beroperasi.

Kepala Kantor Kemenag Lahat H Winhartan MPdI mengatakan, pihaknya sudah mengkroscek ke lapangan dan mendapatkan data kalau bangunan tersebut adalah sebuah bangunan singgah bagi mayat warga Tionghoa sebelum disemayamkan diperistirahatannya yang terakhir.

“Saya sudah ke sana, saya lupa siapa yang saya temui tersebut. Yang jelas masyarakat takut jika bangunan tersebut dijadikan rumah duka dan sampai sekarang ini kita belum menerima laporan kalau ketua pengurusnya membuat izin bangunan kesini maupun ke FKUB,” terangnya.

Jelas Winhartan, apabila rumah duka itu hanya sebagai tempat mereka menyembayangkan mayit dan bukan sebagai rumah duka itu rasanya sah-sah saja.

“Sekarang ini kita belum kelokasi lagi, kendati demikian kita tidak mendesak mereka agar segera membuat surat izin,” tambahnya.

Dilanjutkannya, pihaknya sudah lama ke lokasi dan meminta keterangan masalah rumah duka tersebut, namun pihak warga Tionghoa juga belum datang Kekemenag guna mengurus pendirian rumah duka.

Terpisah, saat Kabar Sumatera Meminta keterangan mengenai tinjauan kemenag ke lokasi rumah duka, ketua paguyuban warga Tionghoa dr.Suhendra saat ditemui tidak ada di tempat dimana dirinya membuka praktik.

Selain itu Yulis (36), warga setempat tidak menginginkan jika tempat tersebut dijadikan sebagai rumah duka, sebab dirinya takut, karena mayat dIdiamkan dirumah duka selama berhari-hari.
“Kalau bisa tempat tersebut dipindahkan saja, karena siapa saja takut melihat mayat,” katanya singkat.

TEKS:JUMRA ZEFRI
EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster