Mengapa Guru dan Dosen Malas Menulis?

 460 total views,  4 views today

Foto-gagasan-02-Pustrini-Hayati

Oleh Pustrini Hayati, S.Pd.I

(Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN RF Palembang)

Prof. Dr. Jalaluddin, mantan Rektor IAIN Raden Fatah Palembang, dalam suatu kesempatan mengatakan, salah satu barometer (ukuran) kecerdasan sebuah lembaga pendidikan adalah media. Menurut Jalal, apabila sebuah institusi pendidikan sudah mampu menerbitkan buku, atau minimal karya jurnalistik yang profesional, dapat menjadi ukuran intelektualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di lembaga tersebut. Pernyataan Jalaludin ini, sudah tentu menjadi kritik sekaligus menjadi motivasi bagi setiap institusi pendidikan, baik kalangan dosen, guru, mahasiswa dan siswa sekolah, untuk kemudian berpikir ulang tentang bagaimana mengasah intelektualnya dengan sebuah tulisan, baik dalam bentuk karya sastra, atau opini dan karya ilmiah lainnya.

Tetapi, suatu kenyataan yang menyedihkan, jika melihat faktanya, hampir dapat dihitung dengan jari berapa jumlah guru, dosen, mahassiwa dan siswa yang mampu menulis karya ilmiah populer? Realitas ini bukan saja terjadi baru-baru ini, melainkan sudah puluhan tahun lalu. Mengapa ini terjadi? Ada sebagian yang menganggap, menulis hanya buang-buang waktu. Sebagian lagi, yang memiliki “hobi” menulis, dapat terdorong untuk terus membaca, sebagai tambahan referensi, sehingga menulis kemudian menjadi kebutuhan.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan, mengapa kalangan guru dan dosen, atau siswa dan mahassiwa “malas” menulis. Antara lain, terbatasnya ruang dan waktu, karena pekerjaan kantor menumpuk. Selain itu, “kemalasan” juga sebagai akibat tidak ada ruang (media cetak) yang menampung tulisannya. Ada juga alasan, tidak bisa menulis karena tidak mempunyai ke-ahlian menulis. Dan masih banyak lagi yang sering menjadi alasan, mengapa guru, dosen, siswa dan mahasiswa malas menulis.

Tetapi, semua alasan itu dapat ditepis dengan kemauan keras untuk menulis. Melalui media online, jejaring sosial, merupakan salah satu ruang dan motivasi tersendiri bagi setiap guru, dosen, mahasiswa dan siswa untuk menyalurkan gagasan yang ditulis melalui media online dan jejaring sosial.

Bila sebelumnya hanya terbatas pada media cetak dengan jumlah yang minim, maka saat ini di Palembang sudah terbit kurang lebih 15 media cetak yang siap menampung tulisan para dosen, guru, mahasiswa dan siswa. Belum lagi di tengah perkembangan teknologi dan informasi, bisa melalui blog di media online, media jejaring sosial untuk menulis. Dengan perkembangan demikian, hampir tidak ada alasan lain untuk harus tetap menulis, kecuali hanya alasan yang dibuat-bat alias m-a-l-a-s!

Bagi yang beralasan tidak ada waktu. Coba pertanyakan kepada kita, dalam satu pekan, adakah waktu untuk memancing, main catur, main gaple, pergi ke mall bersama keluarga, non tv, renang, atau olah raga? Jika dalam satu pekan bisa mengalokasikan waktu antara 1-2 jam untuk melakukan itu, mengapa tidak bisa meluangkan waktu minimal 1 jam duduk di depan komputer atau laptop untuk menulis? Permasalahannya ternyata bukan karena tidak ada waktu, tetapi karena yang bersangkutan tidak ada kemauan menulis.

Efeknya, para dosen, guru, mahasiswa dan siswa, sadar atau tidak, sering terjebak pada rutinitas proses belajar mengajar, dan meninggalkan unsur lain yang sebenarnya juga sangat menunjang kecerdasan dan peningkatan kualitas manusia. Apalagi kalau bukan menuis, menulis dan menulis.

Hal ini penting, karena proses pencerdasan dan peningkatan kualitas manusia bukan hanya menyampaikan materi kuliah dan pelajaran di kelas. Tetapi dengan menulis di media, dosen, guru, mahasiswa dan siswa akan punya “nilai lebih’ dari yang tidak menulis. Sebab dalam teori kumparan, semakin otak kita dikumpar (diputar,red) akan sama dengan punggung pisau yang terus diasah; ia akan tajam.

Belum lagi jika melihat deretan orang terkenal, semua menulis. Sebut saja Bung Karno terkenal dengan bukunya “Dibawah Bendera Revolusi”, R.A. Kartini (Habis Gelap Terbitlah Terang), Jhon Naisbit dan Patricia Aburden (Megatred 2000), Andrea Hirata (Laskar Pelangi), Habiburrahamn El Sirazi (Ayat-Ayat Cinta) dan lainnya. Dari Sumsel mana? Kalau mereka bisa berkarya, mengapa kita tidak ?

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster