Mantan Bupati dan Bupati OKU “Saling Serang”

 232 total views,  2 views today

bupati OKU Yulius Nawawi | Bagus Kurniawan

Bupati OKU Yulius Nawawi | Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Dua tersangka tindak pidana korupsi (Tipikor) dana bantuan sosial (Bansos) tahun 2008, mantan Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) Eddy Yusuf dan Bupati Aktif Yulius Nawawi, saling serang saat dikronfontir dalam sidang lanjutan kasus Bansos, di Pengadilan Negeri (PN) Palembang, Rabu (4/6) kemarin.

Pada sidang itu, mantan Bupati OKU dan Bupati OKU aktif tersebut saling menyalahkan dan mencoba menghindar dari tuduhan yang diarahkan kepada keduanya.

Eddy pertama kali mendapat giliran duduk di kursi pesakitan untuk memberikan keterangan terhadap Yulius, yang duduk di samping tim pengacaranya. Eddy mengatakan, saat perkara dugaan tipikor Dana Bansos OKU 2008 terkuak ke muka umum, dirinya sudah tidak lagi menjabat sebagai Bupati OKU.

Dengan alasan itu, ia tidak pernah menandatangani 11 proposal seperti yang tertera di berkas yang dipegang oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Kesebelas proposal itu ditandatangani oleh Yulius, yang maju menjalani tugas saya sejak saya mundur dari Bupati OKU. Jadi, saya tidak ada sama sekali menandatangani proposal seperti yang dikatakan jaksa,” kata Eddy, saat menjawab pertanyaan majelis hakim tipikor yang diketuai Ade Komarudin.

Dikatakan Eddy, dirinya tidak lagi aktif sebagai Bupati OKU sejak memberikan pidato di DPRD OKU terkait pengunduran dirinya sebagai Bupati OKU. Sejak saat itu, 11 proposal yang diajukan, semuanya disetujui oleh Yulius dan tanpa sepengetahuan Eddy.

Begitu juga dengan dana kampanye, seperti stiker, banner, dan mobil untuk kampanye Pilgub 2008 serta adanya pengerahan massa. Seluruhnya diakui Eddy dirinya tidak mengetahui hal tersebut.

Terkait keterangan Eddy, Yulius menampiknya. Dikatakan Yulius, ada pertemuan saat Eddy menyatakan tidak aktif lagi menjadi Bupati OKU. Saat itu, pertemuan dihadiri oleh Eddy selaku Bupati OKU dan Yulius sebagai wakilnya. Keduanya menggelar pertemuan di kantor Pemkab Muba dengan para pejabat di lingkungan Pemkab OKU.

“Saya pada tahun 2008, bersama para pejabat lain pernah dipanggil Bupati. Yakni, saya, asisten 1, asisten 2 dan Kabag Keuangan Pemkab OKU. Pertemuan itu dibentuk oleh Eddy, yang menjabat sebagai Bupati OKU,” kata Yulius.

Terkait penandatanganan 11 proposal, Yulius mengaku melakukan itu atas izin dari Eddy. Sebenarnya, Yulius sudah meminta surat pernyataan bahwa adanya perintah menandatangani 11 proposal dari Bupati OKU kepada wakilnya

Namun, Eddy saat itu mengatakan hal tersebut tidak perlu dilakukan dan Yulius tetap menandatangani proposal tersebut. “Kalau tidak ada izin dari Eddy, saya tidak akan menandatangani proposal itu. Jadi, penandatanganan 11 proposal itu diketahui Eddy dan izin bersumber dari dirinya,” kata Yulius.

Ketika ditanya perihal Sugeng, Yulius hanya mengetahui Sugeng sebatas atasan dan bawahan. Aliran dana kampanye secara tegas dirinya juga mengaku tidak mengetahuinya.

“Saya tidak mengetahui dana Bansos yang digunakan Sugeng. Karena saya mengetahui itu dana Sugeng bukan Bansos.Selebihnya saya tidak tahu, karena banyak surat yang saya tanda tangani sesuai dengan tugas saya,” pungkasnya.

Usai mendengarkan kronfontiir dari kedua terdakwa, Ade menutup sidang. Ia mengagendakan sidang kembali digelar pekan depan dengan mendengarkan masing-masing keterangan terdakwa pekan depan.

Eddy dan Yulius naik menjadi tersangka Bansos OKU 2008 setelah adanya pernyataan dari keenam terpidana yang sudah divonis terlebih dahulu. Dana Bansos, yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat, diduga digunakan untuk kepentingan pencalonan Eddy sebagai Wakil Gubernur Sumsel. Akibatnya, negara merugi hingga Rp 3 miliar lebih.

 

TEKS    ; OSCAR RIZAL

EDITOR  ; SARONO P SASMITO





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster