Kala Sekolah Kian Mahal

 241 total views,  2 views today

 

PALEMBANG – Sekolah itu mahal, kata siapa ?, setidaknya itu kata yang diucapkan Indi (38), ibu rumah tangga warga Jalan Letnan Simanjuntak, Lr Lebak Mulyo, Kelurahan Pahlawan, Palembang ini.

Ibu dua orang anak ini harus dipusingkan dengan dana segar yang harus ia persiapkan untuk menyekolahkan buah hatinya. Ia mengaku, harus menyiapkan uang sedikitnya Rp 5 juta, hanya untuk bisa memasukkan anaknya di salah satu SMP Negeri favorit.

Bukankah gratis ? Memang kata Indi, pada pengumumanan yang disampaikan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang, untuk penerimaan siswa baru (PSB) di sekolah-sekolah negeri tidak dipungut biaya.

“Itu katanya, realitanya kita diminta bayar uang ini, bayar uang itu dan sebagainya. Uang itu disebut sebagai sumbangan sukarela. Namanya sukarela, harusnya boleh bayar namun boleh juga tidak. Namun sejak awal kita sudah diminta uang tersebut, ini namanya bukan sukarela,” keluh Indi ketika dibincangi Kabar Sumatera, Rabu (4/6).

Biaya yang harus disiapkannya tersebut jelas Indi, tidak hanya itu. Ia juga harus mempersiapkan uang lebih, untuk biaya kelengkapan sekolah anaknya tersebut. “Itu kita belum harus membeli, pakaian seragam sekolah, buku, tas dan alat kelengkapan sekolah lainnya. Pusing juga, apalagi sebentar lagi bulan ramadhan, kebutuhan bertambah dan harga barang biasanya naik. Namun ya, namanya orang tua, mau tidak mau harus disiapkan apalagi ini menyangkut masa depan anak,” ucapnya.

 

Keluhan Indi ini, juga dirasakan oleh orang tua lainnya setiap menjelang tahun ajaran baru. Biaya sekolah yang sudah disubsidi pemerintah menurut Indi, sifatnya hanya untuk biaya sekolah perbulan. “Memang adanya program sekolah gratis, sedikit meringankan. Sebab kita tidak dipusingkan dengan biaya sekolah perbulan. Namun itu di sekolah negeri,” ucap Indi.

Tetapi berbeda dengan Mutaqiuddin (30), warga Jalan KH Balqi Banten, Plaju, Palembang. Ia mengaku, lebih memilih menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah swasta favorit. Alasannya di sekolah swasta, perhatian guru terhadap perkembangan anak lebih diperhatikan dibanding sekolah negeri. “Memang kita harus keluar biaya lebih, mulai dari saat pendaftaran hingga biaya perbulan, buku dan lainnya. Tetapi itu tidak jadi soal, ini kan untuk masa depan anak juga,” ucapnya.

Ia mengaku pilihannya yang lebih memasukkan anaknya ke sekolah swasta, dilatari pengalaman saat anaknya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat itu sebut bapak tiga orang anak yang kesehariannya bekerja sebagai wiraswasta dibidang konstruksi ini, anaknya sekolah di SD Negeri favorit yang berstatus Sekolah Rintisan Berstandar Internasional (RSBI).

“Saat itu kan, sekolah berstatus RSBI diperbolehkan menarik SPP dari orang tua siswa. Kalau tidak salah, SPP yang harus saya bayar sekitar Rp 150 ribu perbulan. Kemudian membeli buku paket pelajaran, yang setiap semesternya sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu,” bebernya.

Namun terangnya, tidak ada kemajuan berarti yang didapatkan anaknya. Bahkan ia menilai, anaknya minim mendapatkan perhatian dari guru. “Ini berbeda dengan adiknya yang sekolah di SD Islam Terpadu (IT), adiknya baru kelas dua sudah hafal doa-doa pendek, kosa kata bahasa Inggris dan Arab dan lainnya,” ungkapnya.

Jika Mutaqiuddin dan Indi, masih terbilang mampu untuk menyiapkan dana segar demi masa depan anaknya. Bagaimana dengan nasib masyarakat kurang mampu, yang hanya bisa menggantungkan pendidikan anak-anaknya dari subsidi pemerintah ?

Iin (28), warga Jalan KH Azhari, Lr Tangga Panjang II, Kelurahan 10 Ulu mengaku, dengan keterbatasan penghasilan suaminya, mau tidak mau menurutnya, ia hanya bisa menyekolahkan anaknya di SD negeri yang membebaskan biaya sekolah untuk siswanya.

“Sekarang kan tidak bayar lagi SPP, begitu juga saat mendaftar. Ya, lebih baik sekolahkan anak saya kesana, tidak perlu keluar biaya. Paling kita hanya mengeluarkan biaya untuk beli alat kelengkapan sekolah saja,” ungkapnya.

Soal kualitas, ia tidak terlalu peduli. “Tidak masalah, dimana saja sekolah sama saja. Yang penting, anak bisa sekolah. Mau bagaimana lagi, untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi jika harus mengeluarkan biaya untuk sekolah anak,” tukasnya.

 

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR          : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster