Iklim Pendidikan Kita Tidak Mendidik

 286 total views,  2 views today

Ilustrasi.

Ilustrasi.

PALEMBANG – Sikap generasi muda, siswa, dan mahassiwa yang kini cenderung berpikir pragmatis dan tampil hedonis (mewah, red) sebagai akibat dari gagalnya sistem di lembaga pendidikan dalam menerapkan pesan moral. “Akibatnya, nilai-nilai moral aga,ma dan sosial yang seharusnya tertanam, dalam diri setiap siswa, mahasiswa menjadi terabaikan,” ujar Prof DR Romli, S.A, M.Ag, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Selatan (Sumsel, terkait dengan pola pikir sebagian remaja yang cenderung terjebak dalam pergaulan yang materialistik dan hedonis.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Syariah IAIN Raden Fatah Palembang ini mengaku, dalam kenyataannya, iklim pendidikan di negeri ini juga sudah tidak mendidik. Menurut Romli, lembaga pendiidkan saat ini sudah sangat materialistik. Banyak orang yang tidak berkualitas tetapi karena sanggup membayar mahal, akhirnya lulus.

Dalam konteks ini, kenyataannya suah terjadi persengkongkolan antara masyarakat dengan pengelola pendidikan. Penanaman nilai kejujuran juga sudah lumpuh. “Bagaimana seorang kepala sekolah diancam kalau siswanya tidak lulus 75 persen. Sejumlah kepala daerah juga melakukan hal serupa. Sehingga ada saja oknum guru atau kepala sekolah yang memerintahkan guru untuk hunting mencari kunci jawaban pada saat jelang Ujian Nasional (UN), seperti sejumlah kasus dalam UN pekan silam. Ini kan parah kalau begini! Kalau ini yang terjadi, bagaimana proses pendidikan nilai akan baik, kalau ternyata, banyak anak sekolah yang lulus karena pesanan. Akibatnya setelah lulus, bekerja juga nyogok, Jadi wajar kalau Islam sangat memberi hukuman berat, masuk neraka (finnaar), kepada yang menyuap atau disuap. Karena memang dampak sosial dan perusakan moralnya dalam sistem kehidupan memang sangat besar,” tegasnya, kepada Kabar Sumatera, belum lama ini di Palembang.

Terpisah, Roni Ridwan, S.Pd, salah satu praktisi pendidikan di Tanjung Enim mengatakan, sikap pragmatis dan hedonistik yang sudah meracuni sebagian siswa, mahasiswa dan sebagian generasi di negeri ini, bagian akibat dari sejumlah sekolah yang sudah dikomersialkan. “Jadi iklim ini akhirnya berdampak pada masyarakat, yang kemudian terdorong  untuk memenuhi tntutan itu. Sebagian wali dari peserta didik sanggup membayar berapapun biayanya, asal bisa masuk di sekolah yang mahal dan bonafide, dan ini sikap yang sangat salah,” tegasnya.

Menurut aktifis Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Keca,atan Lawang Kidul ini, pola pikir yang demikian harus dibersihkan sejak dari diri kita, keluarga dan masyarakat. Menurut Roni, guna mengantisipasi hal itu, upaya penanaman nilai-nilai ini harus dilakukan secara menyeluruh sejak dari dalam keluarga, sekolah dan lingkungan. Sebab upaya pembentukan morallias anak bangsa, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Satiu hal yang tidak boleh lupa adalah penguatan nilai-nilai agama secara mental sangat penting. Yang saya nilai selama ini, pendidikan agama baru mengasah intelektual, pembelajaran, penguasaan ilmu saja, belum sampai membangun kesadaran dan kesalehan sosial dan spiritual, padahal keduanya harus seimbang,” tegasnya.

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster