Ketika Keangkuhan Membelenggu Manusia

 264 total views,  2 views today

foto-gagasan---Jamaluddin,-M.Pd Oleh  Jamaluddin, M.Pd.I

(Mahasiswa S.3 Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang)

Manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realitinya yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya. Berarti Hati manusia tersebut sakit.

Hati yang sakit adalah hati yang hidup namun mengandung penyakit,. Penyakit-penyakit hati yang dimaknai dengan sifat-sifat tercela yang ada pada diri manusia, apabila itu mendominasi kehidupan manusia, maka jadilah hatinya menjadi sakit. Penyakit ini berbahaya karena merupakan pengejawantah atas cinta manusia kepada dunia, yang diwujudkan dalam bentuk ingin mendapat pujian dan sanjungan dari manusia atas perbuatannya

Harta, jabatan dan simbol-simbol kebanggaan manusia lainnya, bisa hilang dalam sekejap. Baik dengan cara yang biasa, maupun luar biasa. Masihkan kita patut menyombongkan diri? Semua yang kita miliki di dunia ini hanya “pinjaman”, bagaimana kita mengolah “pinjaman” tersebut, ke arah yang lebih baik dan memberikan hasil atau sebaliknya?

Isu-isu kesombongan cukup mendominasi komunitas manusia, hampir setiap orang memiliki potensi untuk masuk ke dalam perangkap kesombongan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mau direndahkan martabatnya, semua orang memiliki kecenderungan untuk dihargai, dihormati dan diakui kepribadiannya. Diakui karyanya, diakui kemampuanya, diakui keahliannya, diakui prestasinya, sehingga karena hal inilah seringkali muncul iri hati dan saling mendengki. Sebab satu sama lain disadari atau tidak sering terlibat persaingan untuk terus berkompetisi guna mengejar prestasi dan keuntungan, bahkan untuk mencapainya kadang segala cara dipakai – yang penting dirinya diuntungkan.

Orang yang angkuh mempunyai sikap suka menunjukkan kepentingan diri. Mereka mengharapkan dan berusaha untuk disukai, mempunyai keperluan untuk diterima, dan objektif utama mereka adalah dapat mengawal orang lain. Namun, kebanyakan dari mereka bukanlah bermaksud untuk menyakiti hati orang lain, cuma mereka tidak dapat ekpresi diri jika tidak berbuat demikian.

Orang yang angkuh dan tidak mempertimbangkan perasaan orang lain, serta sensitif. Tidak akan punya teman, dan orang lain menjauhi diri dari mereka. Ini akan meningkatkan tahap tekanan, kekecewaan, sunyi dan banyak lagi tanda-tanda negatif dalam diri golongan orang yang angkuh.

Walau betapa besar atau tinggi kedudukan seseorang, seseorang itu tidak akan lebih besar atau tinggi dari gunung. Walau betapa kuatnya seseorang itu, dia akan dikalahkan juga oleh orang lain atau sesuatu yang lebih kuat.

Betapa  nilai manusia itu sangat kecil di hadapan-Nya, betapa manusia itu sangat tidak berdaya, betapa tingginya rasa angkuh manusia yang melebihi alam semesta.  Kalau Allah berkehendak semua bisa ada dan tiada, tidak ada yang tidak mungkin bagi Nya.

Sebagaimana yang dikatakan Al Imam Adz Dzahabi, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak  bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi).  Laa haula wa laa quwwata illaa billah.”





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster