FKUB Jaga Sikap Toleransi

 1,034 total views,  2 views today

PRABUMULIH – Di dalam Pancasila sila pertama disebutkan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bentuk suatu pengakuan Pemerintah Republik Indonesia untuk semua agama yang ada di Wilayah Negara Republik Indonesia, maka sebagai bentuk perwujudan dari bentuk sila Pertama tersebut adalah dengan membentuk suatu forum bersama yaitu Forum Bersama antar Umat Beragama (FKUB). Lahirnya forum ini usai terjadinya bentrok antar umat beragama yang pernah terjadi di tanah air beberapa waktu yang lalu.

FKUB Kabupaten Muaraenim berkesempatan memberikan sosiasilasi di daerah Kecamatan Gelumbang yang dilaksanakan di Pendopoan kecamatan dengan bekerja sama dengan pihak Kesbang Pol Kabupaten Muaraenim, Kecamatan Gelumbang, polisi, Koramil, tokoh masyarakat, tokoh agama, KUA, pelajar, serta para pegawai kecamatan.

Dalam sosialiasi FKUB ini, Camat Kecamatan Gelumbang AM. Musadeq, SIp, MSi menyebutkan, masalah umat beragama kalau tidak saling menghargai, maka akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dan masalah umat beragama sangat vital.

“Dan, ini perlu kita jaga serta karena kita sudah mempunyai Pacasila dimana para umat beragama dibebaskan untuk memilih keyakinannya, maka walaupun kita berbeda-beda suku, agama tetapi kita tetap satu,” ujar Sadeq.

Katanya dengan adanya sosialisasi FKUB ini, diharapkan bisa ditingkatkan rasa persatuan dan kesatuan antar umat menuju Muaraenim yang Sehat, Agamis, Mandiri dan Sejahtera (SMAS) sesuai dengan motto yang digelontorkan Bupati MuaraeEnim.

Ketua FKUB Kabupaten Muaraenim Drs. H. Sarban mengatakan, dengan mempedomani Pancasila di sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa sudah jelas bahwa semua agama yang ada di Indonesia di lindungi Negara.

“Yang penting sekarang ini kita harus saling menghormati dan saling menghargai agama lain serta kita harus rukum dalam menjalankan syariat agama masing-masing agar tecipta kerukunan beragama dan kerukunan antar umat beragama,” kata pensiunan kejaksaan ini.

Seorang peserta sosialisasi bernama Firdaus warga pasar Gelumbang mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini, berarti adanya antispasi untuk meredam gejolak perbedaan agama yang ada di daerah Gelumbang dan seluruh wilayah Muaraenim.

“Kalau perbedaan agama dibesar-besarkan ini akan menimbulkan gejolak yang tidak kita inginkan, maka dengan adanya sosialisasi ini diharapkan adanya pandangan bahwa peberdaan antar agama akan membuat kita memahami agama orang lain,” tutup Firdaus.

 

TEKS      : IRSAN MATONDANG

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster