Penjaga Pintu Masuk GAD Imbau Pendaki Patuhi Larangan

 1,383 total views,  2 views today

Terlihat pendaki gunung Dempo ditolong tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Terlihat pendaki gunung Dempo ditolong tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

PAGARALAM – Melakukan pendakian tanpa didukung peralatan dan perlengkapan yang standar dalam menelusuri jejak kaki Gunung Dempo, dinilai kurang tertib dan patuh dalam menjalani suatu petualangan. Seperti Febrianti, warga Talang Jelatang Kelurahan Sidorejo Kecamatan Pagaralam Selatan, mendadak pingsan lalu kesurupan saat hendak melakukan pendakian Gunung Api Dempo (GAD) Kota Pagaralam.

Informasi yang dapat, Febrianti bersama empat orang temanya yaitu Nita (17), Rini (17), Hafis (16) dan Thania (14) melakukan pendakian pada Jum’at (23/5) lalu sekitar Pukul 09.00 WIB. Sementara ditengah-tengah perjalanan, Febrianti diduga tak kuat melakukan pendakian, mengingat kondisi alam raya Gunung Dempo sangat dingin hingga mendadak pingsan sekitar pukul 15.00 WIB. Sehingga rombongan Anak Baru Gede (ABG) ini merasa dikejutkan dengan kondisi Febriyanti yang tiba-tiba mendadak pingsan dan kesurupan.

Tak kuat menjalani pendakian tersebut, akhirnya kedua orang temanya yang ikut mendaki langsung turun untuk minta pertolongan dengan melaporkan kejadian itu ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

“Febrianti bersama keempat temannya melakukan pendakian pada Jum’at lalu (23/5) dan mendapat informasi sekitar Pukul 3 sore adanya yang pingsan,” kata Ibnu Amanah (14), teman korban yang ikut melakukan evakuasi, kemarin (25/5).

Terpisah, Kepala BPBD Kota Pagaralam Herawadi SSos melalui Kasi Kedaruratan dan Logistik Kusmi Effendi membenarkan jika ada salah seorang pendaki yang pingsan serta kesurupa saat melakukan pendakian.

“Berkat adanya laporan dari kedua teman korban, Satgas BPBD dan Tagana berikut Basarnas langsung menelusuri tempat kejadian guna melakukan evakuasi terhadap korban,” katanya.

Saat dievakuasi lanjutnya, Febrianti ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri (Pingsan-red) akibat tak kuat menghadapi kondisi alam yang dingin hingga 3 derajat celsius.

“Diduga kelima pendaki minim logistik berikut tidak dilengkapi peralatan pendakian,” ujarnya seraya berkata berkat pertolongan dari tim evakuasi serta keluarga dan teman-temanya, akhirnya febrianti berhasil dibawa turun kembali walaupun membutuhkan waktu cukup lama sekitar 5 jam perjalanan menuju tugu Rimau.

Ditambahkan Wahadi, salah satu penjaga pintu masuk Tugu Rimau menuturkan, sejak beberapa bulan terakhir aktifitas pendakian memang meningkat daripada tahun-tahun sebelumya.

“Tercatat dari beberapa laporan yang kita terima saat pengunjung ingin melakukan pendakian,” terangnya.

Biarpun cuaca alam yang sudah tak menentu ini lanjutnya, tetapi minat pendaki Gumung Dempo sejak Januari hingga saat ini tak kurang dari seribu lebih jumlah pendaki yang melakukan pendakian.

“Para pendaki berasal dari seluruh penjuru daerah yang ada, bahkan dari manca negara,” sebutnya.

Meski begitu kata Wahadi, setiap pengunjung yang hendak melakukan pendakian, pihaknya selalu menekankan beberapa larangan atau pantangan yang meski dipatuhi oleh setiap pendaki.

“Semua ini kita terapkan sebagai upaya menjaga keselamatan para pendaki mulai dari perjalanan maupun sudah berada dikawasan puncak Merapi Dempo,” katanya seraya berujar apalagi untuk pendaki perempuan yang dalam keadaan datang bulan (Haid) agar tidak melakukan pendakian, termasuk pendaki yang masih dibawa umur mesti membawa surat izin dari kedua orang tua mereka.

 

TEKS       : ANTONI STEFEN
EDITOR     : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster