Mewaspadai Peredaran Daging Celeng

 161 total views,  2 views today

HINGGA  hari ini  masyarakat masih dibuat was was akan banyaknya peredaran daging babi hutan (celeng) yang masih terus berlangsung.  Baik yang berasal dari Palembang ke Jakarta atau yang beredar di Palembang  sendiri. Bahkan prihatinnya Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian menyatakan pelaku utama peredaran daging celeng atau babi hutan ilegal sulit diidentifikasi.

Menurut  Kepala Barantan Kementan Banun Harpini selama ini penindakan terhadap pengedar daging celeng baru menyentuh pelaku yang diduga hanya menjadi anggota jaringan, bukan otak jaringan peredaran itu. “Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Selama ini kami tangkap sopir-sopir bus atau angkutan yang mendistribusikan daging celeng ini. Ketika diinterogasi, siapa pelaku utamanya, para sopir ini sulit mengaku,” ujarnya.

Dia mengatakan pasokan daging celeng ini berasal dari perburuan liar di hutan-hutan di Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan yang kemudian dipasok ke wilayah Jabodetabek. Pelaku utama peredaran daging celeng ini diduga yang melakukan perburuan liar tersebut. Kita juga memperoleh informasi penyelundupan daging ini dilakukan dari daerah di tiga propinsi itu menggunakan kapal-kapal angkut berukuran kecil. Oleh karena itu kita mengharapkan adanya  kerja sama yang kuat dengan sektor hulu di hutan, dan juga penindakan di peredarannya.

Untuk pencegahan peredaran daging celeng di sektor hulu, agar Bantaran berkoordinasi dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Kehutanan, untuk menindak perburuan liar. Bukan hanya itu penindakan di peredaran juga harus  ditingkatkan dengan bekerja sama dengan Polisi Air Kepolisian Daerah yang dianggap rentan menjadi jalur distribusi daging tersebut seperti di  Lampung dan Banten.

Kepada  pemilik  angkutan bus-bus dan truk niaga  kita harapkan juga agar jangan melakukan kejahatan tersebut. Organda (Organisasi Pengusaha Nasional Indonesia Angkutan Bermotor di Jalan) dan PO-PO swasta perlu sosialisasi ke supir mereka untuk hati-hati dengan maraknya peredaran daging celeng ini.

Sebab  kalau  peredaran daging celeng ini, apalagi jika sampai ke pasaran, sangat berbahaya, karena di dalam daging tersebut banyak mengandung cacing, –sejenis cacing pita–, yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan manusia. Belum lagi dalam konteks agama Islam mengkonsumsi daging itu jelas diharamkan. Ketika daging ini kemudian beredar di pasar dengan dioplos daging lain akan sangat merugikan bagi umat Islam. Bukan hanya itu mengkonsumsi daging celeng untuk alasan apapun, termasuk untuk pakan hewan sangat  berbahaya.  Kita mengharapkan agar pemerintah benar-benar serius menanggulangi permasalahan ini. Sehingga akan membawa ketenangan bagi umat Islam tidak khawatir termakan daging oplosan yang diharamkan tersebut demi kemaslahatan semuanya. (Sarono P Sasmito)

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster