Golkar di Antara Persepsi Publik

 286 total views,  2 views today

Foto-gagasan---JAUHARI

Oleh Jauhari Zailani

(Dosen Universitas Muhammadiyah Lampung)

Golkar, partai pemilik dan penguasa Orde Baru ini, masih memiliki pendukung fanatik lintas daerah dan lintas generasi. Dengan sejumlah tokoh yang berpengalaman politik dan sejarah, tetap berkibar dari Pemilu ke Pemilu. Namun kini dalam Pilpres 2014, Golkar, tokoh Golkar, orang-orang Golkar, dan pendukung Golkar pasti tidak pernah menyangka akan alami kondisi ini.

Dengan perolehan suara 14,75 persen dalam Pemilu Legislatif 2014, Golkar tentu saja layak berbangga. Karena dengan raihan suara itu menempatkan partai beringin itu sebagai runner up setelah PDI Perjuangan. Partai banteng memperoleh suara 18,95 persen. Golkar tak mencapai target 30 persen, taklah merisaukan. Karena tak satu pun partai yang dapat mencapai target yang telah dicanangkan sebelumnya.

Lain halnya dalam pencapresan. Kini proses pencapresan itu terus bergulir. Semua parpol sibuk membuat atau merapatkan diri pada poros-poros Prabowo atau Jokowi. Partai-partai berbasis Islam, dari semula memang enggan membentuk poros sendiri.

Amien Rais, tokoh PAN, sempat menawarkan koalisi Indonesia Raya. Tapi PKB, dari semula mengusung Rhoma, JK, dan Mahfud. Kini, Rhoma talak pisah dengan PKB karena partai berbasis Nahdliyin itu lebih memilih dan menawarkan JK dan Mahfud pada PDI Perjuangan, sebagai cawapres Jokowi. PPP, kubu sang ketua dapat memaksakan kehendaknya untuk mendukung Prabowo. PKS, dengan tenang menempel dan berharap dapat menggolkan kadernya sebagai cawapresnya Prabowo. Meski Prabowo nampaknya lebih tertarik dengan Hatta Rajasa yang Sumatera, daripada Aher yang berbasis “Jawa”.

Nasib dua partai besar, Golkar dan Demokrat, sepertinya tak sesuai dengan rancangan semula. Golkar yang sudah dua tahun mengusung ketuanya menjadi capres, kini harus berpikir ulang. Hal yang hampir serupa pun dialami Demokrat. Dengan mengusung sebelas tokoh yang bersih dan populer dalam konvensi partai, tak mampu menahan laju penurunan suara Demokrat dalam Pileg 2014. Kini, nasib konvensi tak jelas. Peserta konvensi sunyi, seiring mengecilnya peran Demokrat dalam pencapresan.

Dari semula Golkar sudah amat diperhitungkan dalam percaturan Pilpres 2014 ini.  Berbagai survei, elektabilitas Aburizal Bakrie (Ical) selalu masuk tiga besar, bersama Jokowi dan Prabowo dari sepuluh nama populer yang sempat mencuat. Golkar optimis. Pencapresan Ical digarap dengan profesional. Diback up lembaga survei, konsultan politik, juga konsultan media.

Usaha ARB tentu saja telah maksimal. Segala yang ada padanya telah dikerahkan. Dana, jaringan, media telah bekerja profesional. Kiprah safari ke berbagai daerah, mengusung tema “pencinta kebudayaan Jawa”, selalu disajikan dalam tayangan media di TV One dan ANTV. Upayanya menggandeng keluarga Soeharto tak kuasa mendongkrak popularitas ARB yang mengusung tema “kembali” ke zaman Orde Baru dengan tema “Enak zamanku to?”.

Namun apa dikata, berbagai upaya dari tokoh-tokoh Golkar yang berada di penjuru negeri, tak kuasa melawan persepsi publik. Tak kuasa menahan laju perubahan. Reformasi telah bergulir, Golkar adalah bagian dari proses yang bergerak ke depan. Taklah kuasa menahan laju zaman yang terus bergulir, apalagi memutarnya.

Kini, pendukung Golkar harus realistis. Keluarga dan pendiri Golkar bisa saja resah dan sedih. Orang-orang seperti Suhardiman, Agung Laksono, Hayono Isman, Priyo Budi Santoso telah bersuara. Tapi, tak satu pun capres yang tertarik. ARB dan Prabowo sudah saling kunjung. Menunggang kuda dan berkendara helikopter, dalam sudut yang berbeda akan terbaca menabalkan diri berjarak dengan rakyat.

Kondisinya hari ini, ketika tulisan ini dibuat, dua poros capres Prabowo dan Jokowi tengah unjuk gigi. Partai sibuk konsolidasi. Ketua DPP Gokar Indra J Piliang yang berkata, “Partai Golkar tidak sedih-sedih amat kalau hanya menaruh kader sebagai cawapres di bawah capres PDI-P, kan Partai Golkar juara dua. Justru jadi nomor dua di partai juara tiga, itu jadi persoalan”. Ungkapan ini akan terbaca upaya hibur diri. Andai saatnya nanti Jokowi berpasangan dengan JK, Golkar akan terhibur dengan posisi Jusuf Kalla adalah kader Golkar.

Sebagai penutup tulisan, saya teringat saat Jokowi kunjungi ARB. Usai kunjungi ke markas Nasdem, capres yang krempeng tersebut rela merendahkan diri “sowan” ke capres dari Golkar tersebut. Kunjungan yang dimaknai sebagai “serangan” pada ARB di markasnya. ARB dianggap sebagai “musuh” Jokowi yang kuat.

Dengan semangat serbu tanpa pasukan, “nglurug tanpo bolo”, Jokowi mendatangi ARB di Markas Golkar, di Slipi. Jika Golkar dan ARB merapat ke PDI Perjuangan, pilihan utama dan pertama Jokowi untuk mengunjungi Ical dan Golkar adalah pilihan rasional cerdas ala Jokowi.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster