Mahasiswa IAIN Tuding Rektorat tak Becus

 310 total views,  2 views today

Aksi bakar ban mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Bersatu IAIN RF (GAMBIR) di depan kantor rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, Palembang, Selasa (20/5/2014). Dalam aksi ini mereka menuntut pihak rektorat untuk menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di kampus mulai dari fasilitas-fasilitas mahasiswa yang dikomersilkan hingga pendidikan korupsi yang ditanamkan pihak rektorat kepada mahasiswa. |Foto : Iwan Cheristian

Aksi bakar ban mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Bersatu IAIN RF (GAMBIR) di depan kantor rektorat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah, Palembang, Selasa (20/5/2014). | Foto : Iwan Cheristian

PALEMBANG – Ratusan lebih mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Fatah Palembang, Selasa (20/5), menyuarakan aksinya di depan gedung Rektorat IAIN. Mereka yang mengatasnamakan Gerakan Mahasiswa Bersatu IAIN (Gambir) ini, mulai memecah keadaan sekitar pukul 10.15 WIB, dengan membakar ban dan spanduk-spanduk yang berada disekitar mereka.

Koordinator Lapangan (Korlap), Novry Sandi Wijaya mengungkapkan, aksi yang dilakukan kali ini merupakan protes atas kinerja yang dilakukan oleh rektorat, yang dianggap tidak becus mengelola fasilitas yang diberikan untuk semua mahasiswa.

Ia mencontohkan, misalnya dari sistem birokrasi yang dipersulit, dan banyak fasilitas yang tak terurus dan itu hanya buang-buang uang saja. “Kami sebagai mahasiswa merasa sangat dimainkan, sebab birokrasi di sini masih bobrok dan pegawainya hanya bisa mempersulit tiap mahasiswa yang ingin berurusan,” tegas Novry.

Ia kembali menerangkan, masih ada masalah lain yang menjadi kelemahan di pihak rektorat, yaitu kucuran-kucuran dana yang tidak jelas diperuntukkan buat apa. Kemudian ada sebagian jurusan yang akreditasinya masih C, bahkan sama sekali ada yang belum jelas akreditasinya sampai saat ini.

“Bagaimana mau transformasi menjadi UIN jika akreditasi jurusan saja tidak jelas begitu. Jadi jangan harap IAIN akan menjadi UIN, itu cuma mimpi belaka dan omong kosong saja.  Kami meyakini di IAIN ini ada unsur politisnya yang menyebabkan pihak rektorat mempersulit keinginan kami para mahasiswa,” teriak Novry saat orasi.

Disamping itu, Ketua Dewan Mahasiswa Institut (Demai) IAIN, Khairil Anwar Simatupang mengutarakan bahwa selama ini tiap organisasi intra mahasiswa diberikan dana dari DIPA mulai dari Rp 6 hingga Rp 15 juta. Tapi kenyataannya pencairan tersebut sangat rumit dan seperti disengaja untuk dipersulit oleh Pembantu Rektor (PR) III, yang membidangi kemahasiswaan.  

“Kami ingin menuntut, turunkan PR III atau kami akan kembali demo besar-besaran lagi. Jangan sampai kami sebagai mahasiswa, menjadi budak di negeri sendiri. Sudah seharusnya kami sebagai mahasiswa menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itu tetap benar, maka hal demikian harus kita perjuangkan,” bebernya.

Khairil menambahkan, satu lagi yang membuat kelompoknya gerah yaitu janji transformasi IAIN menuju UIN ada indikasi politik di dalamnya. Sebab, janji tersebut sudah lama diwacanakan semenjak era Gubernur Syahrial Oesman.

 

“Faktanya hingga saat ini wacana tersebut selalu mentok dipersoalan izin dari pihak pusat. Ketika janji itu ditanyakan, mereka (rektorat) selalu melontarkan untuk menunggu dan selalu menunggu dengan alasan mereka itu,” tegasnya.

Menanggapi ini, Rektor IAIN Raden Fatah, Aflatun Muchtar meminta mahasiswa menunjukkan sikap yang baik, seperti yang dilambangkan IAIN. Menurutnya, jangan sampai mahasiswa memalukan kampus sendiri.

“Meskipun demo itu hak kalian, tetapi tetap jaga etika dan rasa hormat kalian kepada kami. Kami sangat ingin mendengarkan aspirasi kalian jika cara yang dilakukan sesuai etika,” harap Aflatun.

Ketika disinggung mengenai adanya unsur politis dalam tahapan IAIN menuju UIN, Aflatun membantah keras isu tersebut. Ia menegaskan, tidak ada sama sekali unsur politis dalam transformasi IAIN menuju UIN. Itu semua tuduhan yang ditujukan kepada pihaknya.

“Kita sendiri menganggap tuduhan tersebut wajar saja karena banyak tantangan dari perjuangan kami ini. Perlu kami jelaskan bahwa saat ini proses IAIN menuju UIN tinggal menunggu Peraturan Presiden,” tukasnya.

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster