Peluru Standar Polri Tewaskan Nurhalimah

87 total views, 3 views today

 

Ilst. Senjata Api | Net

Ilustrasi . Senjata Api | Net

BANYUASIN – Teka-teki,  peluru yang nyasar yang menewaskan Nurhalimah Utari, bocah yang masih berusia 10 tahun itu pada  Kamis (14/5), mulai menemukan titik terang. Tim laboratorium dan forensik (Labfor) Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Jumat (16/5), melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Jalan PLN Dalam, Desa Kedukan,  Kecamatan Rambutan, Kabupaten Banyuasin.

Pantauan Kabar Sumatera, olah TKP tersebut menghadirkan 15 anggota polisi dari Kepolisian Sektor (Polsek) Plaju dan Polsek Seberang Ulu (SU) I. Dalam olah TKP yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut, sejumlah adegan diperagakan.

Diantaranya, saat tiga anggota Polsek Plaju mencoba membekuk dua pelaku penjambertan yang berada sekitar 600 meter dari lokasi tewasnya, Nurhalimah. Saat itu, sebanyak tujuh kali tembakan dilepaskan oleh petugas.

Di adegan lainnya, terlihat saat Nurhalimah, bocah yang masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar (SD) tersebut yang sedang asyik bermain tiba-tiba terjatuh dan mengerang kesakitan dan tak lama kemudian mengeluarkan darah dari punggungnya.

Nurhalimah yang kemudian harus menghembuskan nafasnya terakhir, saat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang (RSMP) tersebut, disebut-sebut tewas akibat tertembak peluru nyasar dari senjata api (senpi) rakitan jenis kecepek.

Dari hasil olah TKP yang dilakukan Labfor Polda Sumsel, ternyata ternyata peluru yang menembus tubuh Nurhalimah, adalah peluru jenis kaliber 38. Peluru kaliber jenis ini, selama ini menjadi peluru standar yang digunakan anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

“Namun kita belum tahu, apakah itu punya anggota atau bukan. Untuk kepastiannya, harus menunggu hasil uji balistik. Tetapi dari olah TKP, pelurunya jenis kaliber 38 dan ada tujuh kali tembakan yang dilepaskan anggota,” kata Wakil Kepala Labfor Polda Sumsel, AKBP Bambang Priyo yang dibincangi usai olah TKP.

Bambang menambahkan, olah TKP yang dilakukan Labfor Polda Sumsel akan dilanjutkan kembali besok (Sabtu). Hari ini (Jumat) sebut Bambang, mereka baru mengumpulkan data-data ringan.

Sementara itu, Rohana (38), salah satu saksi yang juga bibi korban saat dibincangi Kabar Sumatera menyebut, saat kejadian ia berada tak jauh dari korban. Saat itu terang Rohana, korban sedang bermain tak jauh darinya. “Nurhalimah tiba-tiba terguling, sambil memegangi dadanya. Ia juga kemudian menjerit kesakitan, dan keluar darah dari hidungnya,” terang Rohana.

Melihat kondisi keponakannya tersebut, Rohana pun langsung mencoba membantu dengan mengangkat tubuh korban untuk mengetahui penyebab keluarnya darah dari hidung korban. Saat tubuh korban diangkat, dari punggungnya keluar darah. Rohana pun berteriak meminta pertolongan warga. “Saya langsung minta tolong, ia kemudian langsung dibawa warga ke RS,” terangnya.

Sebagai informasi, seperti diberitakan Kabar Sumatera sebelumnya, Nurhalimah Utari (10), tewas akibat tertembus peluru nyasar saat asyik bermain. Kejadian berawal saat warga Desa Sungai Kedukan, Jalan Prupitan, RT 15, Kecamatan Rambutan, Banyuasin itu pergi bermain tak jauh dari rumahnya. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.

Korban yang masih duduk dibangku kelas empat Sekolah Dasar (SD) itu, mendadak terjatuh bersimbah darah. Melihat itu, warga pun langsung berhamburan menyelamatkan korban dan membawanya ke Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang (RSMP). Namun sayang, nyawa korban tidak tertolong.

Peluru nyasar yang merenggut nyawa korban tersebut, diduga warga berasal dari tembakan senpi milik anggota Polsek Plaju, yang saat bersamaan sedang membekuk pelaku penjambretan. Saat itu, tembakan juga sempat dilepaskan oleh anggota Polsek Plaju.

Namun Kepala Polsek Plaju, AKP Siti Faridah yang di konfirmasi membantahnya. Ia membenarkan, memang ada kesamaan tembakan namun lokasinya berjauhan yakni satu kilometer.

“Dari ciri lukanya,  diduga bukan dari tembakan senjata api milik anggota. Diduga tembakan tersebut berasal dari senjata api rakitan jenis kecepek. Kita juga sudah menggali informasi, pelakunya masih berusia 15 tahun. Identitas pelaku, sudah kita berikan ke Polsek Rambutan,” terang Faridah.

Siapa pelaku penembakan yang merenggut nyawa Nurhalimah ? akhirnya bisa diketahui, setelah dilakukan pemeriksaan oleh Polsek Rambutan. Warga sipil yang dimaksud Kepala Polsek Plaju adalah pelaku penembakan, ternyata adalah bocah yang baru berusia 13 tahun.

Dia adalah Andika Pratama (13), siswa SMP Negeri 24 Banyuasin. Didampingi orang tuanya usai menjalani pemeriksaan, Andika bingung dengan tudingan yang diarahkan kepadanya tersebut.  “Saya dari pukul 12.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB, sekolah. Saya tidak tahu kenapa saya yang dituduh menembak,” kata Andika kebingungan.

Ayah Andika, Eka Susila (36), juga tak kalah bingungnya dengan tudingan yang dialamatkan polisi kepada anaknya tersebut. Ia pun tidak bisa menerima tudingan itu. “Polisinya yang gila, anak saya sekecil ini dituduh menembak. Mana pakai senapan angin pula. Mau mengangkat senapan saja dia tidak sanggup apalagi menembak, itukan di luar logika,” cetus Eka.

 

TEKS              : OSCAR RYZAL

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com