Konflik Lonsum dan Warga Muratara

 389 total views,  2 views today

 

KONFLIK yang terjadi antara pPerusahaan perkebunan kelapa sawit PT London Sumatera di Kabupaten Musirawas Utara dengan warga masih terus berkecamuk. Saat ini PT Lonsum malah  mengerahkan massa tandingan berupa buruh harian lepas yang terdiri atas perempuan untuk menghadang ratusan warga yang menutup akses jalan perusahaan tersebut.

“Tindakan PT London Sumatera (Lonsum) itu kurang terpuji dan bertujuan menakut-nakuti aksi massa dari beberapa desa sekitar perusahaan yang menuntut pembuatan kebun plasma,” kata koordinator massa di Kecamatan Rawas Ilir Indra Gunawan kepada wartawan.
Ia mengatakan pemblokadean jalan perusahaan itu kembali dilakukan setelah tuntutan warga akan kebun plasma belum dipenuhi perusahaan tersebut.

“Kami tidak akan berhenti melakukan aksi penutupan jalan perusahaan itu sebelum tuntutan pembuatan kebun plasma ratusan warga dikabulkan,” katanya.

Akses jalan yang diblokade ratusan massa itu berada di kawasan BM 1, sehingga seluruh kendaraan perusahaan tidak bisa melewati jalan tersebut dan harus memutar arah.

Untuk menghadang meluasnya pemlokadean jalan itu, perusahaan menurunkan sekitar 300 orang buruh wanita terdiri atas ibu-ibu, dengan pembayaran Rp153.600 per hari tambah nasi bungkus.

Sedangkan upah buruh harian lepas para ibu itu hanya dibayar perusahaan Rp76.800 per hari.

Sebenarnya ibu-ibu itu tidak mau melakukan aksi tersebut karena selama ini perusahaan mempekerjakan buruh wanita hanya lima sampai sepuluh hari kerja per bulan.

Bila dilihat dari penghasilan perusahaan dan aturan upah minimum regional para buruh harian itu bisa dipekerjakan mencapai 20 hari per bulan dengan upah rata-rata Rp100.000 per hari.

Kepala Polisi Resor Musirawas AKBP Chaidir mengaku telah menyiagakan petugas di lapangan, di samping pengamanan bagi perusahaan juga mengantisipasi terjadinya aksi anarkis. Meskipun hingga saat ini situasi di wilayah itu masih kondusif, tapi bisa saja aksi massa beringas bila ada provokator menyulut kemarahan mereka.

Kita mengharapkan kasus tersebut dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Sebab jika berlarut-larut semuanya akan menderita kerugian, baik perusahaan maupun rakyat di sekitarnya.

Sebaiknya perusahaan juga mau mendengarkan dan mengabulkan apa yang menjadi tuntutan masyarakat dalam hal pembagian plasma. Sebab tanpa adanya plasma mustahil mereka dapat menikmati hasil perkebunan itu dengan memadai. Kita mengharapkan jangan perlakukan rakyat menjadi  tamu di rumah mereka sendiri. (Sarono P Sasmito)

 
.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster