Terkait Kasus Pelecehan Seksual di Kemenag, RF Mengaku Diperas Oknum LSM

 419 total views,  2 views today

Ilustrasi | Ist

Ilustrasi | Ist

PALEMBANG – Kepala Kantor Agama (Kemenag) Pagaralam juga pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fatah, Lahat, Ramlan Fauzi yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Lahat dalam kasus dugaan pencabulan terhadap santrinya RD, membantah telah melakukan perbuatan tersebut.

Bahkan Ramlan mengaku kasus tersebut mencuat justru, setelah ia sempat hendak diperas oleh tiga orang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pengakuan ini disampaikan Ramlan didampingi istrinya, Hj Faridah dan kuasa hukumnya Gandi Arius, Minggu (11/5).

Ramlan menerangkan, mencuatnya kasus tersebut berawal dari laporan ibu RD ke Polres Lahat dengan bukti lapor nomor STBL/B-220/III/2014/Sumsel/Res-Lahat, pada Rabu (19/3/2014) lalu.

Dalam laporannya, ibu dari salah satu santrinya di Ponpes Al Fatah tersebut mengaku anaknya telah menjadi korban pencabulan, yang diduga dilakukan oleh oknum pimpinan Ponpes yang beralamat di Jalan RE Martadinata Nomor 101 Kelurahan Pasar Lama Kecamatan Kota Lahat.

Namun sebelumnya ia terang Ramlan, sempat didatangi oleh oknum pengurus LSM yang juga wali dari RD. Oknum tersebut sebut Ramlan datang bersama dua orang aktivis LSM lainnya.

“Mereka memeras saya, untuk memberikan uang Rp 180 juta. Jika tidak, persoalan tersebut akan disebarluaskan. Mereka juga menyebut, akan menggelar demo jika saya tidak memberikan uang tersebut,” jelas Ramlan.

Ia menyebut, tuduhan yang disampaikan padanya itu berawal dari saat ia melihat banyak santri di ponpes yang dipimpinnya tidak shalat. Ia pun terang Ramlan kemudian mendatangi santri tersebut ke ruangannya.

Melihat kedatangannya terang Ramlan, banyak santri yang kabur. “Ada yang lari, ada yang masuk lemari. Sementara RD saat itu, sakit. Saat saya periksa, dia bilang sakit-sakit. Ada santri yang bersembunyi di dalam lemari, katanya melihat temannya itu saya sodomi. Padahal itu tidak benar, itu fitnah. Saya dengan anak-anak itu sama seperti dengan anak sendiri. Saya sayang mereka,” aku Ramlan.

Ternyata sambung Ramlan, pernyataan salah satu santrinya itu dimanfaatkan oknum LSM untuk memerasnya. Mereka sebelum datang beber Ramlan, sudah menghubungi lebih dahulu. Saat bertemu, oknum LSM tersebut meminta uang. Bahkan mereka terang Ramlan, mengejarnya hingga ke Pagaralam.

“Saya juga diteror oleh oknum LSM itu, dia bilang seluruh wali santri akan demo. Bahkan saat bertemu di kantor saya, oknum itu menyebut akan demo. Bahkan akan menggelar aksi telanjang. Saya menjadi cemas, sehingga saya beri Rp 180 juta. Bukti kwitansinya ada,” ucapnya seraya menyebut kasus pemerasan tersebut sambungnya, sudah dilaporkannya ke SPKT Polda Sumsel beberapa waktu lalu, sebelum ia ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Lahat.

Sementara itu kuasa hukum Ramlan Fauzi, Gandi Ariusmenyebut oknum LSM yang mengaku sebagai wali santri kliennya tersebut telah melakukan penyemaran nama baik kliennya.

“Tuduhan terhadap klien saya, tidak jelas. Klien saya diteror oleh tiga oknum LSM itu, pada Februari lalu. Karenanya, klien saya memberikan uang Rp 180 juta kepada tiga oknum LSM tersebut. Kasus ini sudah kami laporkan ke Polda Sumsel, kepolisian kami minta mengusutnya karena ini berkaitan dengan kasus pelecehan seksual yang ditudingkan kepada klien saya,” tegasnya.

Disinggung soal hasil visum, Gandi menyebut hasil visum yang dijadikan rujukan polisi untuk menetapkan kliennya menjadi tersangka tersebut justru isinya korban tidak pernah mengalami kekerasan seksual. Luka yang ada pada korban, juga bukan di anus. “Karenanya penyidik terlalu cepat meningkatkan status klien saya, sebagai tersangka,” tukasnya.

TEKS              : OSCAR RYZAL

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster