3.850 KK di Sumsel Terisolir

 284 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi | Dok KS

PALEMBANG – Di Sumatera Selatan (Sumsel), sampai saat ini ternyata masih banyak kecamatan yang terisolir. Catatan Dinas Sosial (Dinsos) Sumatera Selatan (Sumsel), ada 31 kecamatan di sembilan kabupaten yang terisolir.

Ke sembilan kabupaten tersebut menurut Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Sosial, Dinsos Sumsel,  Belman Karmuda didampingi Kepala Seksi (Kasi) Komunitas Adat Terpencil (KAT), Elman Zamhari, adalah Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Ogan Ilir (OI), Musi Rawas (Mura), OKU Selatan, Muaraenim, Banyuasin, Lahat dan Empat Lawang. “Disana terdapat KAT  yang termarginalkan, jumlahnya sekitar 3.850 Kepala Keluarga (KK),” kata Elman yang dibincangi, Kamis (8/5).

Komunitas tersebut jelasnya, jauh dari jangkauan karena minimnya akses jalan, infrastruktur yang belum memadai dan watak masyarakat yang tergolong homogen, serta jauh dari kesan modern apalagi menyentuh canggihnya teknologi. “Jangankan bersekolah, dari segi pakaian saja tidak layak,” ungkapnya.

Tak hanya itu, KAT itupun belum tersentuh sarana pendidikan dan sistem pemerintahan daerah, yang berimbas pada kenihilan identitas diri sebagai warga negara. “Untuk mencapai komunitas tersebut, kami harus menempuh perjalanan berpuluh-puluh jam baik melalui perairan maupun darat yang infrastruktur jalannya tak layak,” jelasnya.

Dinsos sebutnya, kini tengah melakukan pembinaan melalui tiga tahapan yang memakan waktu tiga tahun. Namun ia menyayangkan, gengsinya kepala daerah untuk memberikan informasi, terkait keberadaan KAT tersebut.

“Sekarang kan otonomi daerah, harusnya kepala daerah lebih aktif menginformasikan dan tak perlu gengsi, karena melalui informasi tersebutlah, Dinsos bisa bertindak untuk memberikan pemberdayaan terhadap komunitas yang termarginalkan ini,” ucapnya.

Pembinaan yang dilakukan terhadap komunitas terisolir ini sebutnya, lebih di fokuskan kepada komunitas yang berada di daerah pegunungan seperti di  Muaraenim dan OKU Selatan, kawasan hutan seperti d Muratara dan kawasan rawa-rawa di Kabupaten OKI dan kawasan pinggiran sungai di Kabupaten Banyuasin.

“Kita lakukan pemetaan lalu penjajakan awal, setelah itu diturunkan tim studi kelayakan dari Bappeda, BPN, Kehutanan, Perguruan Tinggi, Dinkes dan Disdik. Gunanya untuk menyusun program-program pemberdayaan, seperti sosialisasi, informasi dan bantuan-bantuan yang berupa sandang, pangan dan bangunan rumah dan lain sebagainya . Barulah sarana-sarana umum, sarana air bersih, penerangan dan sarana kakus (WC) lalu pemberdayaan usaha ekonomi produktif menggali keahlian untuk bisa survival didaerah tersebut,” imbuhnya.

Setelah hal tersebut dilakukan, Dinsos sambungnya akan mengevaluasi dan memonitoring tentang perubahan-perubahan yang terjadi. “Kita berharap mereka mengalami perubahan mulai dari mental, interaksi sosial yang lebih baik dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Menurut Elman, untuk merubah kebiasan komunitas tersebut dibutuhkan waktu bertahun -tahun. Untuk anggarannya, berasal dari Kementrian Sosial Rp 3 miliar dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumsel Rp 1 miliar.

“Saat ini, dari 3.850 KK tersebut, yang sedang diberdayakan sebanyak 285 KK, Purnabina sebanyak 2.775 KK dan 727 KK belum diberdayakan. Sejauh ini, baru dua kabupaten yang megajukan pemberdayaan program komunitas adat terpencil yaitu Banyuasin dan Mura,” tukasnya.

 

TEKS            : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster