Hatta Rajasa “Ditantang” Mahasiswa Cabut Izin Perusahaan Asing

 230 total views,  2 views today

Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa saat memberikan sambutannya di Graha Universitas Sriwijaya, Palembang, dalam sosialisasi kebijakan/program pengembangan kewirausahaan nasional (technopreneur camp VI), Rabu (7/5/2014) | Foto : Bagus Kurniawan

Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa saat memberikan sambutannya di Graha Universitas Sriwijaya, Palembang, dalam sosialisasi kebijakan/program pengembangan kewirausahaan nasional (technopreneur camp VI), Rabu (7/5/2014) | Foto : Bagus Kurniawan

PALEMBANG – Menteri Koordinator Perekonomian RI, Hatta Rajasa mendapat tantangan dari mahasiswa untuk mencabut izin perusahaan asing yang ada di Indonesia pada saat sesi dialog dalam sosialisasi kebijakan/program pengembangan kewirausahaan nasional (technopreneur camp VI) di kampus Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Rabu (7/4/2014).

Mendengar tantangan tersebut, Hatta hanya tersenyum. Hatta pun mengapresiasi pertanyaan mahasiswa tersebut. “Pertanyaan ini tak kalah dari anggota DPR di Senayan itu,” kata Hatta.

Sayang, Hatta tidak berani berjanji memenuhi tantangan itu. Sebab, menurut dia, pencabutan izin perusahaan asing yang ada di Indonesia seperti Newmont, Preefort dan lainnya, jelas tidak bisa.

Upaya yang hanya bisa dilakukan, kata dia, adalah melakukan renegosiasi kontrak agar lebih berkeadilan. Misalnya, menaikkan royalti, meningkatkan saham milik pemerintah menjadi 51 persen, dan mengutamakan pekerja lokal. “Tidak bisa (dicabut izin), hanya itu yang bisa kita lakukan,” ungkap Hatta.

Dalam kesempatan itu, Hatta mewacanakan mengambil kebijakan pelarangan ekspor seluruh hasil bumi. Jika selama ini sumber daya alam dijadikan sebagai devisa harus didesain menjadi sumber perekonomian Indonesia.

“Ekspor harus dihentikan. Kala tidak mau jadi apa negeri ini. Jika ekspor terus, kita bakal selalu menjadi bangsa yang kalah,” tegasnya.

Hatta menjelaskan ada beberapa kesuksesan ekonomi yang diraih Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. Setidaknya terdapat empat kesuksesan ekonomi Indonesia yang diumbar Hatta. Pertama, terjadi deflasi minus nol koma sekian persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pemerintah mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan kebutuhan masyarakat.

Kedua, investasi kwartal pertama tahun ini mencapai Rp 106 triliun. Hal ini menunjukkan kawasan Indonesia menjadi salah satu sasaran negara asing dan menjadi negara yang cukup kompetitif.

Kemudian kesuksesan ekonomi yang ketiga adalah surplus neraca perdagangan mencapai USD 700 juta. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di angka 5,2 persen, namun Indonesia tetap menjadi negara kedua setelah China sebagai negara terbaik dalam pertumbuhan ekonominya.

Dan keempat peningkatan posisi Indonesia berdasarkan pengumuman Word Bank sebagai kekuatan ekonomi ke 10 di dunia.

“Keberhasilan ini bukan saya yang bilang, tapi berdasarkan data Badan Pusat Statistik dan pengumuman resmi dari Word Bank. Saya cuma menyampaikan saja ke kalian,” ungkap Hatta, Rabu (7/5/2014).

Menurut dia, jika kondisi ekonomi Indonesia semakin membaik, tidak menutup kemungkinan siklus 7 abad kejayaan Indonesia sebagai pusat peradaban dunia kembali terulang. Dimulai pada abad ke-7 dengan hadirnya Kerajaan Sriwijaya dan abad ke-14 dengan kejayaan Kerajaan Majapahit.

“Dan hari ini kita masuk ke abad 21. Saya optimistis, Indonesia bakal jaya di bidang ekonomi. Saya yakin, siklus 7 abad kejayaan kita pasti terjadi,” kata dia.

TEKS : AMINUDDIN

EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster