BPBD Kalteng Belajar ke Sumsel

 254 total views,  2 views today

ILst. Antarafoto.com

Ilustrasi | Antarafoto.com

PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah mempelajari mekanisme penanggulangan bencana daerah, yang dilakukan BPBD Sumsel. Hal itu karena tingkat responsibilitas Sumsel yang cepat, dalam merespon setiap terjadinya bencana.

Kepala BPBD Kalteng, Muchtar menegaskan, tingkat resiko terjadinya bencana alam di Kalteng cukup tinggi, karena kontur wilayah hutan yang mendominasi. “Karenanya kami belajar ke Sumsel, sebab penanggulangan bencana di Sumsel ini cukup tanggap. Kami bisa meniru dan menerapkannya di Kalteng,” kata Muchtar yang dibincangi saat studi banding di BPBD Sumsel, Selasa (6/5).

Menurutnya, dalam kunjungan ini, pihaknya mengajak pihak terkait di Kalteng untuk belajar meski tidak didukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup. “Prestasi kita (Kalteng) belum maksimal, tapi antusias dan semangat kita terus belajar cukup bagus. Banyak ilmu yang bisa diambil dari Sumsel,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Kalteng, M Saad Arpani juga menyoroti kondisi zero hotspot (titik api) yang terjadi di Sumsel, meski provinsi tetangga, Riau telah dinyatakan statusnya sebagai bahaya asap beberapa waktu lalu.

“Ini menjadi prioritas kami, mengingat Kalteng cukup banyak lahan hutan yang dikhawatirkan disalahgunakan masyarakat. Terutama saat melakukan pembukaan lahan dengan jalan pembakaran,” ujarnya.

Menurutnya, hampir 31 persen dari lahan di Kalteng didominasi oleh hutan. Akibatnya, resiko terjadinya kebakaran hutan cukup tinggi. Ironisnya, upaya untuk menekan kebakaran hutan tersebut masih terbentur dana penanggulangan.  “APBD kita mencapai Rp 3 triliyun, namun anggaran untuk BPBD hanya Rp 7 milyar. Sangat kurang sekali,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Sumsel, Yulizar Dinoto memberikan apresiasi terhadap kedatangan tim BPBD dari Kalteng tersebut. Menurutnya, terpilihnya BPBD Sumsel sebagai lokasi studi banding cukup tepat mengingat pada 2012 lalu, BPBD meraih status terbaik dalam bidang pasca bencana serta Akuntabilitas terbaik pada 2013 lalu.

 

TEKS         : IMAM MAHFUZ

EDITOR        : DICKY WAHYUDI

BPBD Kalteng Belajar ke Sumsel

PALEMBANG, KS

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah mempelajari mekanisme penanggulangan bencana daerah, yang dilakukan BPBD Sumsel. Hal itu karena tingkat responsibilitas Sumsel yang cepat, dalam merespon setiap terjadinya bencana.

Kepala BPBD Kalteng, Muchtar menegaskan, tingkat resiko terjadinya bencana alam di Kalteng cukup tinggi, karena kontur wilayah hutan yang mendominasi. “Karenanya kami belajar ke Sumsel, sebab penanggulangan bencana di Sumsel ini cukup tanggap. Kami bisa meniru dan menerapkannya di Kalteng,” kata Muchtar yang dibincangi saat studi banding di BPBD Sumsel, Selasa (6/5).

Menurutnya, dalam kunjungan ini, pihaknya mengajak pihak terkait di Kalteng untuk belajar meski tidak didukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang cukup. “Prestasi kita (Kalteng) belum maksimal, tapi antusias dan semangat kita terus belajar cukup bagus. Banyak ilmu yang bisa diambil dari Sumsel,” imbuhnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Kalteng, M Saad Arpani juga menyoroti kondisi zero hotspot (titik api) yang terjadi di Sumsel, meski provinsi tetangga, Riau telah dinyatakan statusnya sebagai bahaya asap beberapa waktu lalu.

“Ini menjadi prioritas kami, mengingat Kalteng cukup banyak lahan hutan yang dikhawatirkan disalahgunakan masyarakat. Terutama saat melakukan pembukaan lahan dengan jalan pembakaran,” ujarnya.

Menurutnya, hampir 31 persen dari lahan di Kalteng didominasi oleh hutan. Akibatnya, resiko terjadinya kebakaran hutan cukup tinggi. Ironisnya, upaya untuk menekan kebakaran hutan tersebut masih terbentur dana penanggulangan.  “APBD kita mencapai Rp 3 triliyun, namun anggaran untuk BPBD hanya Rp 7 milyar. Sangat kurang sekali,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Sumsel, Yulizar Dinoto memberikan apresiasi terhadap kedatangan tim BPBD dari Kalteng tersebut. Menurutnya, terpilihnya BPBD Sumsel sebagai lokasi studi banding cukup tepat mengingat pada 2012 lalu, BPBD meraih status terbaik dalam bidang pasca bencana serta Akuntabilitas terbaik pada 2013 lalu.

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster