Susanti Si Penuai Rupiah dari Kembang

13 total views, 3 views today

Nyonya Susanti nampak sedang membersihkan rerumput di seputaran kembang miliknya.(ahmad maulana)

Nyonya Susanti nampak sedang membersihkan rerumput di seputaran kembang miliknya.(ahmad maulana)

Usia 12 tahun, ia terbiasa bekerja serabutan. Terlahir dari keluarga transmigrasi di Desa Jalur 14 di Kabupaten Banyuasin, Susanti kini adalah penuai rupiah dari kembang.

Palembang – Pagi jelang siang, Kamis (1/5), suasana kenyamanan begitu terasa di sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Kancil Putih 2, RT 36 RW 10, Nomor 035, Palembang. Berdekatan dengan rumah ini, ratusan kembang pun tersusun rapi di atas tanah membujur yang luasnya sekira 20 x 20 meter.

Di rumah inilah Susanti seorang anak transmigrasi yang tanpa kenal lelah merajut kehidupan. Sebelum beranjak usia ke-43, Susanti berulang-ulang kali jatuh bangun demi rupiah. Tersebab adanya kebijakan zaman Presiden Soeharto, keluarganya pun akhirnya hijrah ke kota ini.

“Ya, akhirnya keluarga aku pindah semua ke kota ini. Waktu itu aku masih belia,” kenang Susanti seraya berujar ia tak neko-neko soal prinsip hidup. Asalkan halal, apapun pekerjaan akan ia ‘santap’ dengan ikhlas dan legowo.

Sekadar membalik kisah,  sebagai anak transmigrasi dari Pulau Jawa ke Sumatera, Susanti sadar kehidupan keluarga amat sederhana dan sangat jauh dari sejahtera. Jangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bersekolah pun ia tak pernah rasakan.

“Aku pernah sekolah, tapi tak jadi tamat. Yo, karena orangtua aku tak ada uang untuk membiayai,” suara Susanti merendah.

Alhasil, beragam profesi pun pernah dilakoni oleh Susanti. Mulai dari jadi buruh cuci, pembantu rumah tangga, hingga penjual kembang.  Satu hari ia bahkan pernah mengalami pahitnya jadi seorang buruh di Ibukota Jakarta. Seingatnya, kata Susanti.

“Waktu aku nekad ke Jakarta, aku pernah nginap di Posko TKI selama satu malam. Cuma enam bulan aku di sana,” Susanti bercerita.

Banyak jalan menuju seorang pengusaha. Usai tahu betapa pahitnya mencari uang di Jakarta, akhirnya Susanti memutuskan untuk menjadi seorang pengusaha kecil-kecilan. Lewat bisnis aneka kembang yang ia tekuni bersama suaminya Muhamad Darwanto, Susanti pun kian  sukses merintis usaha yang lumayan menggiurkan.

“Hampir tujuh tahun ini aku menekuni bisnis kembang ini. Hasilnya? Ya, lumayanlah,” cetusnya.

Cerita Susanti, lokasi usaha kembangnya mulanya berlokasi di Macan Kumbang, karena tempat berusaha digusur. Dan, berikutnya ia pun berpindah lokasi ke Jalan Kancil Putih 2.

“Aku ingat nian. Pertamo modal kami beduo adalah gerobak dorong inilah yang jadi lapak,” kata Susanti dengan logat khas Palembang.

Bila dihitung Susanti telah memasarkan kembang-kembang hampir  tujuh tahun lamanya. Tarif harga? Ia menjawab, cukup bervariasi mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 800.000 per batang.

“Alhamdulillah banyak pesanan yang datang ke rumah aku. Walau aku tak miliki ijazah, namun dari kembang ini aku bisa menghidupi keluarga,” ucapnya seraya menambahkan ada puluhan jenis dan bentuk kembang yang ia budidayakan antara lain bougenfil, air beras, cucur merah, kamboja, jumiaku, cucuk merah, mawar, dan banyak lagi yang lainnya.

Kegigihan dan kerja keras adalah induk dari kesuksesan yang diraih Susanti. Namun begitu, hanya ada satu kata yang meluncur dari mulutnya. Soal nasib anak-anaknya?

“Begini, tak apa aku orang bodoh, tapi aku tak rela anak-anak aku nantinya hidupnya susah seperti aku. Artinya, biarlah aku yang bersusah payah asalkan anak-anak jadi orang sukses dan berguna untuk semua orang. Itu saja, kok,” Susanti berprinsip dan Ibu dari Agus Bidarhanto (22)  dan Okta Nurjannah (18), dan Rahmad Rizky ini.

Adalah suatu pelajaran yang berharga telah dicucurkan Susanti. Tak ada kompromi atau peduli, Anda anak siapa,  kini Susanti pun layak dianggap sebagai si ‘ratu’ kembang atau bos kembang di kota empek-empek ini.

 

Teks   : AHMAD MAULANA





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com