Buruh Serukan Sepultura

9 total views, 3 views today

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)

Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)

PALEMBANG – Ratusan buruh yang tergabung dalam Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Sumsel, Kamis (1/5/2014), melakukan aksi damai di Bundaran Air Mancur (BAM). Aksi ini, digelar dalam rangka hari buruh internasional (mayday).

Dalam aksinya tersebut, ratusan buruh menyerukan sepuluh tuntutan rakyat Indonesia (Sepultura). Tuntutan itu, disampaikan mereka, dalam spanduk  yang bertuliskan “Penuhi Hak-Hak Buruh, “Stop Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing” dan lainnya.

Walaupun aksi yang berlangsung dalam kondisi tak bersahabat yakni gerimis yang mengguyur, namun ratusan buruh ini tetap bersemangat menyerukan hak-hak mereka.  “Hari ini kami kembali turun ke jalan guna menyuarakan dan menuntut hak-hak buruh,”ungkap Koodinator Aksi (korak), Suyono.

Menurut Suyono, kegiatan tersebut merupakan wujud kekecewaan para buruh terhadap pemerintah karena negara dianggap gagal memenuhi dan melindungi hak-hak kaum buruh terutama buruh migran. Oleh karena itu, KASBI turun bertepatan dengan mayday yang merupakan momentum kemenangan buruh untuk merebut delapan jam kerja. “Namun ini baru kemenangan kecil, karena masih banyak kaum buruh yang tertindas dan belum dipenuhi hak-haknya serta masih tertindas,” ujarnya.

Suyono mengaku, dalam aksinya, para buruh ada sepuluh tuntutan yakni hapus sistem kerja kontrak dan outsourcing, tidak ada politik upah murah, tolak PHK, union busting dan kriminalisasi anggota pengurus serikat buruh, laksanakan hak-hak buruh perempuan dan lindungi buruh migran.

Kemudian, jaminan sosial bukan asuransi sosial, tanah dan air untuk kesejahteraan rakyat, tangkap, adili dan penjarakan pengusaha nakal, stop privatisasi dengan membangun industri nasional untuk kesejahteraan rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis dsan turunkan harga kebutuhan pokok.

“Jika ini dipenuhi, maka kondisi buruh di Indonesia tidaak akan berubah dan semakin sengsara. Dimana, harga kebutuhan pokok meninggi, kesehatan, pendidikan dan perumahan semakin jauh dari jangkuan kaum buruh karena di privatisasi,”bebernya.

Apalagi, sambungnya, kondisi diperpara dengan penerapan kebijakan ekonomi kapitalis berupa neo liberalism. Sebutnya, jumlah yang ikut aksi ini hanya 200 orang dari total anggota se-Sumsel mencapai tujuh ribu orang. “Yang ikut aksi memang hanya sedikit sebab pada 28-30 April lalu, telah dilakukan aksi serupa di tiga kabupaten di Sumsel. Ini hanya demo susulan,”sebutnya.

Saat ini jelasnya, buruh yang tergabung dalam aliansi dan serikat buruh masih sangat minim. Di Sumsel hanya empat kabupaten yang ada dewan pengupahan. Padahal, keberadaan serikat buruh ini sangat penting untuk menyuarakan dan menuntut hak buruh karena kalau tidak diperjuangkan para pengusaha dan penguasa masa bodoh. Ini yang akan terus di dorong agar dewan pengupahan ada di 12 kabupaten kota.

“Baru tahun lalu, upah minimum provinsi (UPM) yang melonjak hingga 500 persen. Itu pun masih banyak perusahaan yang melanggar dan tidak membayar sesuai itu. Sebaliknya, buruh tidak memahami aturan itu,” tukasnya.

 

Teks     : ALAM TRIE PUTRA/IMAM MAHFUZ

Editor    : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com