Profesionalitas Guru Sertifikasi di OKI Dipertanyakan

 176 total views,  6 views today

Peserta Sosialisasi Sertifikasi Guru di Aula Disdik OKI

Ratusan guru di OKI yang mengikuti sosialisasi sertifikasi guru

KAYUAGUNG – Sebanyak 260 guru dari berbagai tingkatan mulai dari SD hingga SMA/SMK, Senin (28) mengikuti sosialisasi guru sertifikasi yang digelar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di aula instansi tersebut.

Pantauan Kabar Sumatera, kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut dibuka oleh Sektretaris Dinas Pendidikan, Dedi Rusdianto SPd. Para peserta diminta untuk mengikuti kegiatan sebaik mungkin. Dan mendengarkan secara serius materi yang diberikan oleh pembicara, mengingat para peserta merupakan calon-calon pedidik yang akan mendapatkan sertifikasi sertifikasi, dengan tambahan penghasilan. Yang dibarangi dengen profesionalitas dalam bekerja yaitu wajib mengajar 24 jam dalam seminggu.

Kepala Dinas Pendidikan, Drs Iskandar ZA, melalui Kasi Pengembangan Karir Guru, Drs Yuliadi SPd, ditemui di ruangannya Senin (28/4/2014) mengatakan, sejauh ini mengacu data Dinas Pendidikan OKI, sejak tahun 2006 hingga 2013 jumlah guru sertifikasi di OKI mencapai 2000 an lebih. Mulai jenjang pendidikan dasar (Dikdas) hingga pendidikan menengah (Dikmen). Jumlah tersebut pastinya akan mengalami penambahan di tahun 2014 ini.

“Kalau dilihat dari jumlah guru sertifikasi yang ada mencapai jumlah 2000 an lebih, pastinya OKI tidak lagi dinilai sebagai kabupaten yang minim tenaga guru sertifikasi,” kata Yuliadi.

Menurut Yuliadi, para calon guru sertifikasi yang saat ini mengikuti kegiatan sosialisasi guru sertifikasi yang diselenggarakan Disdik OKI selama tiga hari, adalah mereka yang sudah mengupulkan berkas persyaratan untuk sertifikasi. Sebelum mereka nantinya meraih sertifikat sertifikasi.

“Berkas mereka (para guru) akan dinilai di LPMP, nantinya oleh LPMP akan dikirim ke Unsri, pihak Unsri dalam hal ini mengadakan tes kompetensi, Nah setelah lulus mereka akan mendapatkan sertifikat sertifikasi. Namun jika tidak lulus, ada kesempatan dua kali tes, untuk memperbaiki, namun kalau juga tidak lulus tes terpaksa mengulang tahun depan,” jelas Yuliadi.

Dikatakannya, bila mengacu pada guru yang telah mendapatkan sertifikat guru bersertifikasi, pastinya guru tersebut sudah dinilai professional. Terkait saat ditanya masih banyak oknum guru sertifikasi yang tidak memenuhi kewajibannya, mengajar 24 jam seminggu. Yuliadi, menjawab sejauh ini pihaknya belum mendapat laporan tertulis.

”Tapi kami belum ada laporan tertulis dalam hal ini,” kata Yuliaidi.

Lanjut Yuliadi, untuk mengetahui adanya oknum-oknum guru sertifikasi yang malas dalam menjalankan tugasnya, pihaknya tentu tidak bisa mengawasi secara keseluruhan setiap sekolah.

”Ini seharusnya tanggung jawab, dan kerja pihak pengawas. Dan pengawas harus berani melaporkan ini kalau memang ada temuan, makanya kami anggap tidak ada masalah, selagi pengawas tidak ada yang melaporkan,” ujarnya, seraya mengatakan sehari saja guru sertifikasi tidak mengajar tanpa alasan yang jelas gaji tunjangan mereka akan dipotong.

Prihal banyaknya oknum guru sertifikasi di OKI, yang jarang menjalankan tugasnya dengan profesional, Kabar Sumatera setidaknya sudah beberapa kali menurunkan pemberitaan tersebut. Namun sepertinya tidak terlalu digubris Disdik OKI. Salah satunya seperti dilakukan oleh oknum guru SDN 2 Sukaraja, Kecamatan Pedamaran, BY yang diduga jarang masuk, guru SDN di Desa Penyandingan, Teluk Gelam, yang juga dikabarkan jarang masuk, dan mengupa guru honor untuk menggantikan pelajarannya.

Tak tanggung-tanggung salah seorang guru yang tidak mau disebutkan namanya juga mengatakan,” Ah kalau hal tersebut sudah lumrah, minta bantuan guru honor untuk menggantikan guru sertifikasi yang tidak masuk,” ujarnya.

Kepala UPTD Kecamatan Teluk Gelam, Drs Marlian MM, ketika dikonfirmasi mengenai  oknum guru di SD Penyandingan yang jarang masuk tersebut, membenarkan.

”Ya saya sudah kasih surat peringatan kepadanya,” ujar Marlian.

Bila kondisi ini masih saja terjadi, pastinya sertfikasi yang selama ini diharapkan untuk memacu profesionalitas pendidik dalam melaksanakan tugasnya patut dipertanyakan. Program pemerintah untuk mensejahterakan guru dinilai dikhianati.

 

Teks     : DONI AFRIANSYAH

Editor    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster