Berpeluh Maleha di Usia Senja

 338 total views,  2 views today

Nyonya Maleha nampak mengemas kemplang buatannya hingga terbungkus plastik.

Nyonya Maleha nampak mengemas kemplang buatannya hingga terbungkus plastik.

Hari-harinya telah bertaut senja. Pun Maleha tak ingin menyerah dengan  keadaan. Duapuluh tahun lebih dirinya tak pernah jeda menjadi pembuat kemplang panggang.

PalembangBoleh duit idak pulo banyak, tapi jadilah,” cetus Maleha berlogat khas Palembang.

Dua tangan Maleha tampak sibuk mencipta beragam kemplang panggang dengan bercitarasa nan gurih. Setiap pagi menjelang siang, ia tak pernah putus untuk memproduksi kemplang di rumahnya Jalan Jalan Simanjuntak Lorong Wasilah, Palembang.

Kemplang buatan Maleha ini terpajang rapi di rak yang sudah disiapkan. Ada lagi rak penuh aneka kerupuk mentah berbahan ikan ataupun udang. Di rak lain, beragam kemplang siap kemas telah menanti.

”Ya, beginilah kalau buat kemplang panggang,” jemari telunjuk Maleha masih sibuk menyiapkan kemplang panggang.

Panasnya bara api justru tak mematahkan semangatnya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Bahkan, tak jarang pula abu yang menghampirinya, bukanlah jadi hambatan baginya.

“Memanggang kemplang ini gampang-gampang susah, kalau tak hati-hati debu yang berterbangan bisa hinggap ke mata,” tutur Ibu sembilan anak ini.

Dia cukup telaten dari meracik hingga membuat produk khas dari kota ini. Untuk bisa menghasilkan kemplang yang berkualitas, Maleha pun mengandalkan alat panggang tradisionil serupa penjapit kemplang mentah, kipas angin, dan arang. Bila ditotal seharinya ia mampu menproduksi sebanyak 100 sampai 500 keping mentah.

“Paling modal sekali produksi hanya Rp 25.000. Uang ini saya pakai untuk membeli bahan-bahannya di Tebing Gerenteng. Sisanya ya buat membeli plastik kemasan,” ujarnya.

Maleha tak sendirian di Lorong Wasilah. Ada Hadilah Sari (27) yang kini setia menemaninya untuk memanggang kemplang. Anak bungsu Maleha ini pun turut pula membantu Ibunya dalam melakoni bisnisnya.

“Yo, anak-anak aku juga ikut bantulah. Dulunyo aku buka warung manisan, bukannyo untung malah buntung,” cerita Maleha membalik kisahnya.

Ia baru kenal dengan usaha kemplang ini dari adik sepupunya bernama Siti (54). Lantas, Maleha pun mencoba peruntungannya di usaha tersebut.

Ruponyo rezekinyo ado di usaha kemplang. Jadi, berkah nian..ha..ha..ha,” kata istri Mukadir (73) ini tertawa.

Lalu, bagaimana dengan omset usaha? Jawab Maleha, penghasilannya terkadang bisa tak menentu. Namun, biasanya ia sanggup menghimpun rupiah berkisar Rp 150.000 – Rp 500.000 per hari.

“Sebenarnyo kalu manggangnyo banyak, Alhamdulillah duitnyo jugo banyak,” sambung putri pasangan Majid dan Fatimah ini.

Buah perjuangan Maleha pun tak sia-sia. Dari berjualan kemplang, ia berhasil menyekolahkan anaknya ke jenjang sekolah menengah atas.

Alhamdulillah  sekarang ado hasil, pacak benerke rumah dan beli barang-barang rumah tangga,” kisah Maleha seraya berkata ia ingin sekali menunaikan Ibadah Haji ke tanah Mekkah dari usahanya iniu.

Hidup sepertinya tak pernah lunak untuk Maleha. Nyaris sepanjang hidupnya ”menggaruk” debu di dasar tungku adalah wajib ia lakoni. Sebuah kalimatpun pantas ditujukan padanya demi sekantong rupiah, berpeluhlah Maleha…!. (adv)

Foto   : AHMAD MAULANA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster