Usut Pembangunan Lapter Atung Bungsu

 306 total views,  2 views today

ilustrasi lanper

ilustrasi lapter Atung Bungsu

PAGARALAM – Kepolisian Resor (Polres) Kota Pagaralam, memprioritaskan pengusutan dugaan proyek fiktif pada pembangunan landasan pacu (run way) lapangan terbang (Lapter) Atung Bungsu senilai Rp 19,7 miliar, di Dusun Mingkik, Kelurahan Atung Bungsu, Kecamatan Dempo Selatan tahun anggaran 2007-2008.

Hal itu diungkapkan Kepala Polres Pagaralam, AKBP Saut P Sinaga didampingi Kepala Satuan (Kasat) Reserse dan Kriminal (Reskrim),  AKP JK Nababan, Minggu (27/4/2014). Menurutnya, penyidik masih melakukan pengumpulan beberbagai bukti pendukung, guna mempercepat proses pengusutan kasus tersebut.

Bukti-bukti pendukung yang dikumpulkan tersebut, mulai dari tahapan pembebasan lahan sampai dengan pembangunan run way, yang diprakirakan menelan dana mencapai Rp 217 miliar.

Ia mengatakan, sejauh ini di luar volume fisik yang terpasang pada proyek dimaksud, diduga menyebakan kerugian negara senilai Rp19,7 miliar.  “Proyek ini cukup besar nilainya dan melibatkan orang-orang penting. Sehingga dalam penanganannya harus ekstra hati-hati

dan dibutuhkan data pendukung yang kuat,” kata Saut.

Lanjutnya, pengusutan dugaan proyek fiktif ini menjadi prioritas tahun 2014, mengingat nilainya cukup besar berikut banyak melibatkan orang-orang penting di Bumi Besemah.

“Saat ini masih dalam proses pengumpulan data (Puldata), jika sudah selesai baru masuk ke tahap penyelidikan. Saya jamin pengusutan ini tetap jalan,” ujarnya.

Guna menghindari terjadinya intervensi dalam penyelidikan, Polres Pagaralam sebut Saut,  akan melayangkan surat resmi ke Kepolisian Daerah (Polda) Sumsel dan Markas Besar (Mabes) Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Saut menyebut, penyidik tengah mencari dokumen tentang pelaksanaan proyek dan pola pencairan dananya dilakukan dengan sistim apa. Sebab kata Saut,  anggaran proyek tidak jelas ini dananya bisa dicairkan semunya.

“Ini ada dugaan fiktif,  kalau tidak fiktif  kenapa anggaran sebesar Rp 19,7 miliar tidak masuk dalam kontrak kerja yang dilakukan dengan PT Duta Geraha Indah (DGI). Sementara dasar hukumnya ada pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 tahun 2010, diterangkan total dana untuk pembangunan lapter tersebut Rp 217 miliar. Harusnya, proyek lapter itu mencapai Rp 236, 7 miliar, jika dana yang dipakai dalam proyek diduga fiktif itu termasuk untuk mendanai proyek tersebut,” sebutnya.

Saut juga menjelaskan, dari data sementara yang berhasil dikumpulkan disebutkan kala dana sebesar Rp 19, 7 miliar itu dipakai untuk pekerjaan pengerukan (land clearing). Sementara di dalam anggaran Rp 217 miliar,  juga ada item pekerjaan yang sama. Bahkan, volume pekerjaan dan tempatnya juga sama.

Berdasarkan data yang ada terangnya, luas lahan lapter mencapai 200 hektare, luas yang dilakukan pengerukan untuk lapter,  panjangnya 1.050 meter dengan lebar mencapai 150 meter.

“Untuk mengungkap dugaan korupsi pada pembangunan Lapter Atung Bungsu ini butuh waktu, karena sudah melewati enam tahun anggaran dan data kemungkinan banyak yang sengaja dihilangkan. Kita akan memanggil mantan Wali Kota Pagaralam, H Djazuli Kuris untuk dimintai keterangan, sebab pembangunan lapter tersebut dilakukan saat ia menjabat,” tegasnya.

Terpisah, Wakil Ketua DPRD Kota Pagaralam, Dwikora Sastra Negara menyebut, memang

cukup kuat dugaan terjadi korupsi terhadap pembangunan lapter sebelum dilakukan kontrak kerja dengan PT DGI. Karena anggarannya juga tidak terkontrol, sehingga diduga terjadi kebocoran.

“Pastinya kita sangat mendukung penuh, bila Polres akan melakukan pengusutan hingga tuntas. Apalagi nilai dugaan kerugian negara, cukup fantastis yakni mencapai Rp19,7 miliar,” tukasnya.

 

Teks     : ANTONI STEFEN

Editor    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster