Saatnya “Nol Rupiah“ Jadi Gerakan Sosial

 289 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

PALEMBANG – Menghadapi carut marutnya proses politik dan realitas demokrasi di Indonesia saat ini, di masa mendatang, perlu memaksimalkan gerakan“nol rupiah” menjadi gerakan sosial. Hal itu dikatakan DR Tarech Rasyid, M.Si, pengamat sosial politik Sumsel, dalam acara gathering yang digelar gerakan Turun Tangan Bersama (TTB) Palembang, di Cafe Narsis Palembang, Minggu (26/4/2014).

Gerakan nol rupiah, menurut doktor dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung ini, harus dikelola dan digerakkan oleh kalangan muda, sehingga kelak akan mampu mewujudkan kesadaran politik rakyat yang siap menolak terhadap politik uang dalam bentuk apapun di semua tingkatan.

Dosen Universitas IBA Palembang ini juga menegaskan, jika gerakan “nol rupiah” dimobilisasi dan menjadi besar, menurut Tarech dapat berdampak positif terhadap proses pencerdasan politik rakyat jangka pajang.

Paling tidak Tarech menyebut, jika gerakan “nol rupiah” bisa menjadi bagian dari gerakan sosial,  selain untuk melawan politik uang dalam setiap pemilu, juga dapat meredam masuknya konglomerat hitam masuk dalam kancah politik.

“Kalau gerakan nol rupiah ini menjadi besar, bisa mengantisipasi masuknya konglomerat hitam yang selama ini selalu mendanai sejumlah calon kepala daerah, dengan barter proyek di sebuah daerah,” tegasnya.

Bahkan menurut Tarech, melalui gerakan “nol rupiah” dapat menjadi perlawanan (resistensi) terhadap proses politik yang korup. “Efeknya nanti,  secara perlahan Indonesia diharapkan bisa bersih dari korupsi politik, yang selama ini dilakukan para pemegang kebijakan negara, baik di eksekutif, yudikatif dan legislatif.

“Kalau ini bisa dilakukan, nantinya kelompok orang baik dapat ikut mengambil alih kekuasaan untuk perbaikan sistem di negeri ini. Tapi kalau sekarang, dengan sistem dan proses  politik yang korup, dimana posisi orang baik? Saya kira sulit kalau sistemnya seperti sekarang, orang baik tidak akan terakomodir sebagaimana harapan rakyat,” tambahnya.

Oleh sebab itu, untuk medorong gerakan nol rupiah ini menjadi gerakan sosial, menurut Tarech diperlukan penyusunan program, modul dan direalisasikan dalam bentuk pendidikan politik di tingkat rakyat secara terus menerus. Dari proses seperti ini akan melahirkan aktor demokrasi yang bermoral baik dan kelak dapat diusung menjadi pemegang kekuasaan di Sumsel.  “Kalau memang dari gereakan ini muncul anak muda yang layak diusung dan sesuai kriteria, mengapa tidak kita dorong untuk menjadi pemimpin di negeri ini,” ujarnya.

Sementara itu, diawal acara, Reza Fahlevi, Koordinator TTB Kota Palembang menyebutkan, gerakan nol rupiah merupakan hasil kesepakatan sejumlah anak muda, yang mayoritas dari kalangan mahasiswa di Sumsel untuk mendukung gerakan TTB di Sumsel, tanpa ada donatur dari pihak manapun, kecuali dari kantong sendiri.  “Ini murni gerakan nol rupiah, yang bertujuan untuk membangun kekuatan orang-orang baik agar bisa menjadi pemimpin nasional,” ujarnya.

Dalam acara yang mengusung tema “Pemimpin Harapan” ini menyusun struktur gerakan TTB di Palembang, juga pemutaran film tentang amanat politik Anies Baswedan kepada anak muda, juga diwarnai diskusi dan presentasi yang membahas isu-isu lokal.

 

Teks     : ALAM TRIE PUTRA

Editor    : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster