Parimin, Si Pendayung Tapai

 239 total views,  2 views today

Parimin, Si Pendayung Tapai

Parimin, Si Pendayung Tapai

Tubuhnya yang renta tidak menjadi halangan semangatnya untuk tetap bekerja. Dengan menggunakan jarik dan kebaya, serta membawa baskom berisi jajanan dagangannya, Mamak Parimin, tak kenal lelah berjualan jajanan tradisional persis di samping Pasar Tradisionil Modern (PTM) Lahat.

Lahat – Bagi wong yang bermukim di tengah kota Lahat atau PTM Lahat, tentu nama Mamak Parimin tak asing lagi. Wanita paruh baya itu berjualan tapai dimulai sejak pukul 03.00 pagi. Usai shalat Subuh, ia pun sudah bergegas menuju pasar guna menjajakan tapai miliknya.

“Jujur, saya sudah lama jualan tape ini, ndak tahu mulai tahun berapa, saya saja ndak tahu sekarang umur berapa, sudah tua keriput,” cetus Mamak Parimin dengan nada santai.

Istri dari Dimin (76) asli berasal dari Sekip, Kota Palembang rupanya memegang prinsip hidup tak pernah menyusahkan anak-anaknya apalagi sambil meminta-minta ke sana-kesini. Nenek dari tujuh orang anak dan sembilan orang cucu ini sudah berjualan tapai semenjak tahun 1960-an, sampai saat inipun ia masih berjualan demi menyambung hidupnya.

“Alhamdulillah aku masih diberikan kesehatan oleh yang kuasa, sehingga aku dapat berjualan seperti biasa, setiap hari itu aku buat 50 kilo perkilonya pun cuma R$p 5.000, ya alhamdulillah sedikit demi sedikit bisa menambah dan menyambung hidup untuk besoknya,” kata parimin.

Ia mengisahkan, pernah sebelum-sebelumnya jualannya hanya laku sedikit dan sisanya dibuang kekotak sampah, karena pada saat itu hujan deras tidak berhenti-henti sehingga yang membeli barang dagangannya hanya sedikit, ia sama sekali tidak menyesal, sebab ia yakin ini adalah ujian dari yang kuasa bagi dirinya apakah tabah atau tidak menerima ujian ini.

Mamak Parimin mengatakan, dirinya berjalan kaki menuju lokasi tengah kota ini. Meski tanpa alas kaki, Mamak Parimin tetap berjalan seolah tidak merasakan panasnya aspal maupun trotoar yang terpapar terik matahari.

Dari hasilnya menjajakan tape ketot tersebut, Mamak Parimin mendapatkan hasil penjualannya sampai Rp 25 ribu. Itupun jika dagangannya laku sampai habis. Namun tidak jarang dirinya hanya mendapatkan uang kurang dari Rp 10 ribu.

Tak jarang juga saat berjualan banyak kendala yang dialami. Namun sosok tua Mamak Parimin tidak pernah menyerah. Hujan ataupun panas yang menerpa dianggapnya adalah sebagai anugrah dalam menjalani kehidupan. Tanpa alas kaki, dirinya menapaki langkah demi langkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kini, rupanya banyak yang menjadi pelanggan Mamak Parimin ini. Sebut saja Zefri, warga Lahat. Dirinya mengaku sudah lama membeli tape milik Parimin yang disajikan dengan wadah terbuat dari daun pisang. Selain rasanya yang segar, dirinya senang dengan sosok orang sederhana yang selalu riang tersebut.

“Saya seperti mengenang kembali masa kecil, setiap kali Mamak Parimin lewat pasti saya minta dibelikan tape ketotnya. Dia suka ketawa dan saya senang dengar cerita-ceritanya,” ujarnya sambil menyantap tapai pesanannya.

 

Teks     : JUMRA ZEFRI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster