Jembatan Pedamaran Terancam Roboh

 665 total views,  2 views today

ilustrasi

ilustrasi

KAYUAGUNG – Masih ingat dengan jembatan besi penghubung antara Desa Cinta Jaya dan Desa Pedamaran 2, Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), yang pernah roboh pada tahun 2008 lalu akibat diterjang rumput jenis kumpai yang dihanyutkan arus sungai. Hingga mengakibatkan akses jalan jembatan lumpuh total selama bertahun-tahun. Dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.

Peristiwa itu sepertinya bakal terulang kembali, karena banyaknya rumput kumpai kembali menerjang tiang jembatan tersebut dengan jumlah kumpai mencapai luas 1 hektare lebih. Kondisi ini sudah terjadi sejak beberapa minggu terakhir. Kendati warga sekitar sudah bergotong-royong menghayutkan rumput kumpai yang tersangkut di tiang jembatan tersebut. Namun pada malam hari rumput yang lain kembali datang menerjang.

Akibat ganasnya terjangan rumput tersebut, membuat dua dari empat pancang tiang segitiga penyangga arus sungai, mulai bergeser ke bawah badan jembatan. Persisnya tiang pancang yang berada ditengah sungai.

Pantauan Kabar Sumatera, Kamis (24/4/2014) di lokasi jembatan itu, diperkirakan luas rumput yang terjebak ditiang jembatan itu, mencapai luas 1 hektare, yang menyerupai sebuah lapangan sepak bola. Kedatangan rumput raksasa tersebut tidak hanya mengancam ketahanan jembatan, namun juga membuat kekawatiran bagi penduduk yang memiliki rumah panggung di pinggir sungai. Yang takut tiang kayu rumahnya diterjang rumput, hingga merobohkan rumah.

“Kami dari semalam berjaga-jaga menjauhkan rumput kumpai yang hanyut dari muara air hitam, untuk mengantisipasi agar tidak menerjang tiang rumah kami,” kata Dedi Gom, salah seorang warga Pedamaran.

Zulkipli salah seorang warga Desa Cinta Jaya, yang nampak antusias bersama warga lainnya membawa sejumlah peralatan, untuk menebas dan menghayutkan rumput-rumput tersebut, ketika dibincangi, kemarin, mengatakan, sudah beberapa pecan terakhir ini ia dan warga dibuat repot oleh kedatangan rumput kumpai yang hanyut tersebut. Hal ini diakibatkan naiknya air pasang. Sehingga rumpat yang selama ini diam, dihanyutkan oleh arus sungai hingga tarsangkut ke tiang jembatan ini.

Menurut dia, sebagai warga yang selalu beraktivitas menggunakan jembatan tersebut, mengaku prihatin sebagian warga kurang kepedulian dalam bergotong-royong membersihkan rumput tersebut. Padahal pemerintah sudah membangunkan jembatan ini, dan selaku masyarakat harus memeliharanya agar tidak roboh lagi. Dalam perawatan sendiri, sebelumnya sudah ada perjanjian, khususnya bagi warga Desa Cinta Jaya, dengan mewajibkan membayar iuaran perbulan, yakni Rp 3 ribu per KK bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan seperti sepeda motor, namun bagi yang memiliki motor, dikenahkan iuran Rp 5 ribu.

”Awalnya semua mau bayar, namun memasuki bulan ketiga, mereka mulai enggan mambayar, dan hanya sebagian, padahal setiap hari selalu menggunakan jembatan ini,” kata Zulkipli.

Menurut Zulkipli, iuran tersebut tidak seberapa, kalau dibandingkan dengan robohnya jembatan, yang mengakibatkan akses jalan lumpuh total, sehingga untuk transportasi mereka harus mengeluarkan biaya naik perahu Rp2 ribu per orang setiap kali menyebrang.

“Jangan dikira kami yang membersihkan ini untung, atau tidak ada resiko. Jelas rumput seluas ini pasti ada ular, biawak, dan lain sebagainya, kemarin ada teman saya yang bahaya terkena pukulan tali karena terlepas mengingat rumput yang ingin dihanyutkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dia mengajak masyarakat, agar memiliki kesadaran yang tinggi untuk mau bergotong-royong demi menyelamatkan jembatan tersebut, baik dalam segi membayar iuaran, maupun dalam bekerjasama menghanyutkan rumput itu.

”Terutama warga seberang di kawasan Desa Pedamaran 2 yang dinilainya cuek bebek tidak bertindak untuk saling membantu,” tandasnya.

Sekedar mengingat, ditahun 2008 lalu jembatan tiang besi yang menghubungkan dua desa ini. Pernah roboh akibat diterjang rumput kumpai, akibat kondisi demikian, penduduk setempat susah dalam beraktivitas, bagi mereka yang memiliki kendaraan motor, terpaksa menitipkan kendaraannya ke rumah kerabatnya di desa lain. Sementara transportasi alternatif hanya perahu, untuk menyeberang warga harus mengeluarkan uang Rp2 ribu.

Pemerintah yang tak tega melihat penderitaan masyarakat, akhirnya membangunkan kembali jembatan itu, namun belum sempat selesai pembangunannya, kejadian serupa terulang kembali, dimana besi yang baru terpasang, tenggelam dan hilang ke dasar sungai, akibat diterjang rumput kumpai lagi.

Tak putus asa pemerintah melalui Dinas PU CK kembali menganggarkan pembangunannya hingga berdiri kokoh seperti saat ini. Nah saat ini tinggal kesadaran masyarakat apakah mau untuk merawatnya, dengan mambayar iuan rutin atau, lebih enak jembatan tersebut roboh hingga mengganggu akses transportasi yang selama ini berjalan lancar?

 

Teks     : DONI AFRIANSYAH

Editor    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster