Bank Mandiri Dituding Tidak Profesional Dalam Pembuatan Rekening

 351 total views,  2 views today

Ratusan guru mengantri di area Bank Mandiri

Ratusan guru mengantri di area Bank Mandiri

PALI – Niat baik penjabat Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI),  Ir H Heri Amalindo MM yang ingin memberikan tunjangan tambahan pendapatan kepada guru justru jadi boomerang. Bukannya gembira, para guru tersebut justru merasa dilecehkan oleh Bank Mandiri selaku penyalur dana tersebut.

Pasalnya, untuk mencairkan dana tunjangan, para guru diminta membuka rekening di Bank Mandiri cabang Pendopo. “Kami terima edaran bahwa pencairan dana ini melalui BankMandiri,” kata Suradi SPd, Kepala Sekolah SDN 36, Talang Bulang kepada Kabar Sumatera, Kamis (24/4/2014).

Namun edaran itu hanya sekedar memberitahukan nama bank yang akan mencairkan tunjangan itu. Dijelaskan juga dalam edaran itu, setiap guru baik PNS maupun honor disekolah negeri dan swasta mulai TK sampai SLTA wajib membuka tabungan di Bank Mandiri.

Setelah edaran tersebut dirilis, tidak ada pemberitahuan lagi kapan batas akhir pembukaan rekening di bank plat merah tersebut. Tiba-tiba beredar isu pembukaan rekening dimulai 21 April yang lalu dan setiap kecamatan digilir setiap hari.

Tak pelak, sekitar 2000 guru berduyun-duyun mendatangi Bank Mandiri Cabang Pendopo di bilangan Pesos. BankMandiri pun ramai. Para guru ‘dipaksa’ berjubel untuk mengantri.

Bukan itu saja, ribuan siswa ikut menjadi korban. Seperti dituturkan Sanima, guru di SDN Semangus. Sanima dan rekan-rekannya guru terpaksa harus meliburkan siswanya.

“Begitu siswa datang kami suruh pulang, karena seluruh guru harus berangkat ke Pendopo. Kalau tidak begitu kami bisa terlambat,” jelas Sanima yang menempuh perjalanan selama tiga jam untuk menuju Pendopo.

Namun, apes bagi Sanima dan kawan-kawannya. Setelah menunggu sejak pukul 10.00WIB hingga pukul 15.00 WIB, harus gigit jari. Pihak Bank Mandiri mengumumkan, nomor antriannya tidak bisa dilayani. Dan diharuskan kembali lagi rabu mendatang.

“Mau bagaimana lagi, terpaksa Minggu depan kesini (Bank Mandiri) lagi. Padahal dana yang mau diambil hanya Rp 250.000,-,” ujar Sanima sambil berlalu.

Akibat kejadian ini banyak guru-guru yang mengeluh. Seperti dituturkan Agus Susanto SPd, Kepala Sekolah SDN Sungai Mang, Desa Suka Damai, Kecamatan Talang Ubi menganggap BankMandiri tidak profesional.

“Seharusnya kalau mereka profesional, pembuatannya secara kolektif saja. Jangan seperti ini, kasihan anak-anak harus jadi korban,” keluh Agus.

H senada juga dikeluhkan Azrul Sirojudin, guru SDN Panta Dewa. Menurut Azrul, diirnya menyesalkan manajemen Bank Mandiri yang amburadul sehingga merepotkan para guru dan mengorbankan siswa.

“Kasihan anak-anak. Seharusnya mereka hari ini sekolah” ujarnya dengan raut wajah sedih.

Suara keras juga disampaikan Suradi SPd, Kepala SDN Benuang Kecamatan Talang Ubi. “Kalau begini kami diperbudak. Seharusnya Bank Mandiri memikirkan anak didik kami. Biar bank besar, ternyata mereka tidak profesional. Apakah begini cara menghargai jasa para guru,” ucapnya kesal.

Pantauan Kabar Sumatera, untuk melayani pembukaan rekening ini, Bank Mandiri Cabang Pendopo menyiapkan lima meja lengkap dengan pegawai untuk melayani pembuatan rekening bagi 2000 nasabah baru.

Saat Kabar Sumatera mencoba menggali informasi ke Badan Kepegawaian Daerah, Yuhairuddin MZ mengaku tidak tahu. “Kalau penyaluran itu kurang tahu, silahkan tanya ke dinas (Disdik), terkait,” kata Yuhairudin.

Pernyataan yang sama juga dikeluarkan Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Dinas Dikbudpora). Melalui Sekretarisnya, Rusmin Naryadin mengaku tidak mengetahui soal pencairan tersebut. “Kita tidak tahu. Kalau jumlah guru yang menerimanya sekita 2000 lebih,” ujar Rusmin.

Sementara itu, Kepala Cabang Bank Mandiri Pendopo M Amin menyatakan, bahwa pembuatan rekening itu berjalan lancar. “Sebenarnya sudah berjalan lancar dan tidak ada kendala. Buktinya selama empat hari  berjalan lancar,” aku Amin.

Namun Amin mengakui saat giliran Kecamatan Talang Ubi terjadi penumpukan. Amin beralasan membludaknya jumlah guru itu karena kepala sekolahnya tidak pandai mengatur para gurunya.

“Seharusnya jangan berangkat semua, tapi digilir. Jangan sekaligus begini. Meskipun hari ini tidak bisa, para guru dapat mendaftar minggu berikutnya atau hari-hari lain. Dan kita jamin semuanya akan dilayani,” jelas Amin.

Disinggung tidak dilakukan pendaftaran kolektif di sekolah-sekolah, Amin menjelaskan hal ini sudah permintaan Pemkab PALI. “Pemkab memang meminta kita agar guru langsung yang datang ke sini (Bank). Tujuannya agar tidak terjadi nama fiktif yang menerima dana tunjangan itu,” ujarnya.

 

Teks     : Indra Setia Haris

Editor    : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster